toleransi
Family & Parenting

Yang Tidak Bisa Ditoleransi

Selama hidup kita bertoleransi dengan banyak hal. Toleransi dengan perbedaan, kesalahan-kesalahan kecil, keterlambatan, kelupaan, kemacetan dan sebagainya. Mungkin saya bisa menoleransi itu semua, kecuali satu hal. Ketidakjujuran.

Toleransi berasal dari bahasa latin ‘tolerare‘ yang artinya sabar dan menahan diri. Toleransi juga berarti menghormati dan menghargai antar kelompok dan individu. Apakah saya harus sabar, menahan diri dan menghormati ketidakjujuran? Tentunya nggak dong, ya? Saya yakin kalian juga pasti begitu.

Kejujuran adalah salah satu life value yang sudah ditanamkan dalam keluarga sejak kita dalam buaian. Pesan dari orang tua kita selain jangan lupakan sholat, pasti ada kejujuran yang harus tegak berdiri selama kita hidup di dunia ini.

Sebelum memiliki anak, saya bekerja di sebuah perusahaan yang juga memiliki value yang mirip dengan keluarga saya. Yaitu mengutamakan integritas, yang bisa diartikan sebagai kejujuran dan kebenaran dalam tindakan. Memang bos saya dulu nggak pernah main-main dengan yang namanya ketidakjujuran. Sebagai asistennya, saya pun sering ditunjuk untuk menginvestigasi masalah yang terjadi di lingkungan kantor dan operasional.

Barang siapa kedapatan melakukan penyelewengan maka nggak ada toleransi lagi. Tanpa maaf-maaf lagi dan tanpa ampun langsung dikeluarkan dari perusahaan. Bahkan setelah saya resign, pak bos sempat menelpon saya dan cerita betapa kecewanya beliau karena ada salah satu pegawai senior yang korupsi. Hari itu juga langsung dipanggil polisi. “Bapak masih sama seperti dulu.” kata saya dalam hati.

Dan ketika akhirnya saya dipercaya memiliki anak, maka bersikap jujur dalam keluarga adalah suatu kewajiban demi memberi contoh yang baik kepada generasi penerus saya dan suami.

Mami Bohong!

Hati saya sedih bukan main saat pertama kali Hammam (6 tahun) mengatakan bahwa saya berbohong. Well, sebenarnya anak itu belum paham benar apa itu bohong karena nggak pernah ada contohnya. Dia hanya ikut-ikut kakak sepupunya yang suka bilang “Ah, bohong nih…”

“Memangnya bohong itu apa?” tanya dia sekali waktu. Bohong adalah berkata yang nggak sesuai dengan kejadian sebenarnya. Misalnya belum mandi, tapi bilangnya sudah mandi. Penjelasan sederhana ini semoga bisa membuatnya mengerti dan selalu berkata jujur. Entah suatu saat ada kondisi-kondisi di mana seseorang harus nggak jujur, yang penting sekarang ditanamkan dulu sikap baik ini.

Sewaktu kecil mungkin sering kali orang tua nggak jujur sama kita. Contoh kecilnya, kalau mau pergi kondangan ibu saya suka bilang “di sana ada penjahat” supaya saya nggak mau ikut. Gaya parenting semacam itu mungkin sekarang sudah nggak ada lagi, ya? Haha. Tapi ketidakjujuran semacam itu lah awal dari kebohongan-kebohongan yang lain.

Sulit Tapi Harus

Jadi, seberapa pun sulitnya berkata jujur saya usahakan tetap menyampaikan yang sebenarnya kepada Hammam. Dan jika ia mengulangi kalimat “Mami bohong.” maka saya akan selalu mengulangi juga kalimat “‘Mami nggak pernah bohong sama Hammam.” untuk membangun kepercayaannya terhadap saya. Dan juga untuk meyakinkan kepada Hammam bahwa jujur itu adalah yang terbaik.

Karena kalau nggak dipupuk dari sekarang, begitu nanti dia sudah sekolah, bergaul dengan teman-teman yang bermacam jenis dan karakternya, jangan sampai dia terbiasa mentolerir ketidakjujuran.

Author

Enterprenuer and Crafter Mommy || I have one little kid, I love writing, sewing and photography || dzul.rahmat@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *