Family & Parenting Travel & Culinary

Tips Liburan Bersama Anak Ketika Sang Ayah Tak Bisa Menemani

jilbab instan untuk pipi tembem

Hey, selamat datang di musim libur akhir tahun. Saya mau ‘sok’ kasih tips liburan bersama anak, nih. Meskipun yaaa liburan kami mah dekat-dekat saja. Jadi gini, ketika sudah memiliki anak semua-semua serba tentang anak. Bahkan untuk liburan pun yang pertama dipikirkan “nanti anak gimana, ya?”. Tentunya ada dong pembagian tugas antara ibu dan ayah ketika bepergian bersama si kecil. Ayah yang menjaga dan menggendong anak sementara ibu yang membawa segala perbekalan, atau sebaliknya, bisa juga bergantian. Bagaimana jika sang ayah sedang nggak bisa ikutan? Repotkah mengurus si kecil di luar rumah?

Jawabannya : tentu saja repot!!! Ngurusin anak cuma di rumah saja pun repot, apalagi harus ke luar rumah dengan segara printilannya itu. Eiiits, jangan dibayangin. Jangaaan. Mending langsung praktek, haha! Sebab kalau dibayang-bayangin bakal bikin kepala emaknya muter kliyengan dan nggak jadi berangkat.

tips liburan bersama anak
Sejak Hammam baby kami sering pergi berduaan.

Tips ini adalah pengalaman saya pribadi dengan si kecil yang sehari-harinya cukup aktif. Alhamdulillah selama bepergian tanpa papinya kami selalu kompak. Suami juga selalu mendukung kalau saya ingin mengajak anak pergi tanpa dirinya, dengan menyemangati “Kalian pasti bisa”. Liburan saya bersama anak memang nggak selalu dilakukan berduaan saja. Melainkan bisa bareng keluarga dan teman-teman juga. Tapi yang mengurusi anak saya kan tetap saya sendiri. So here we go!

Tips Liburan Bersama Anak

Saat ini suami saya adalah pekerja kantoran. Sementara saya hanya ibu rumah tangga di keluarga wirausaha yang nggak ada jam kerjanya. Jadi kalau mau jalan-jalan pun suka bebas saja waktunya. Biasanya sehabis lebaran kalau pekerja kantoran sudah harus kembali bertugas, kami masih libur dan memanfaatkan waktu untuk jalan-jalan. Di saat inilah suami saya sering nggak bisa ikutan.

Awalnya saya kira akan sangat sulit menangani si kecil saat bepergian sementara papinya nggak ada di dekat kami. Pertama kali pergi liburan sama Hammam waktu usianya masih sekitar 10 bulan, kami mengunjungi pemandian air panas di Ciater, Jawa Barat. Sekali liburan berjalan lancar, saya jadi mengerti apa yang harus diperhatikan saat berlibur bersama anak pada acara jalan-jalan berikutnya. Kuncinya adalah mengerti kebutuhan anak dan diri sendiri. Sebagai orang tuanya kitalah yang bertanggungjawab terhadap anak. Makanya kita pun harus memahami betul kebutuhan diri sendiri selama liburan. Jangan cuma mikirin kebutuhan anak semata.

Komunikasi dengan Anak dan Suami

Meskipun suami biasanya mengizinkan tetapi setiap ingin melakukan perjalanan saya selalu berdiskusi terlebih dahulu. Mungkin bapaknya anak-anak memiliki pendapat lain, misalnya ketika anak baru saja sembuh dari sakit atau kondisi tertentu yang mungkin membutuhkan perhatian khusus.

Sama anak juga harus ada komunikasi, misalnya dengan memberitahu sejak awal kalau liburan kali ini akan pergi tanpa papi, is it ok? Selama pergi berdua artinya nggak boleh minta gendong karena mami nggak kuat. Komunikasi selama bepergian pun harus lancar, kalau capek harus bilang jangan malah rewel, selama jalan-jalan harus merasa happy, kalau nggak happy nanti liburannya jadi nggak seru. Oh ya saya pernah nulis tentang mengasah kepekaan emosi anak, agar si kecil bisa lebih terbuka mengungkapkan perasaannya. Silakan di baca dulu, siapa tahu dapat membantu project liburan berduanya, ya.

Selain itu menambahkan agenda “video call papi” saat liburan juga perlu, dong. Biar suami bisa refresh dari kerjaannya, kasih lihat anaknya yang lagi happy jalan-jalan sama mami. Biar kebagian rasa sukanya seolah sedang liburan bertiga aja. Haha.

Mengerti Tujuan Wisata dan Transportasinya

Jalan sama anak kecil rasanya akan berbeda dengan jalan bersama teman-teman, yang meski direncanakan dadakan macam tahu bulat, malah makin seru. Jalan sama anak kalau bisa sih semua serba well prepared. Makanya Buibu harus sudah survey tentang tempat wisata yang akan dikunjungi atau setidaknya paham transportasi menuju tempat tersebut. Bukannya apa-apa, kasihan saja sih kalau anak sampai diajak nyasar, takut trauma. Haha. Kecuali ibunya tetap bisa cool dan bersikap semuanya akan baik-baik saja, nggak panikan dan tetap seseruan. Konsekuensinya ya jadi wasting time, sih.

tips liburan bersama anak
Jalan-jalan menuju Monumen Nasional (Monas)

Utamakan Kenyamanan

Harusnya yang diutamakan itu keselamatan, ya. Hehe. Tapi kenyamanan juga perlu, ya, Buibu. Nyaman dalam hal apa, nih? Semuanya! Dimulai dari pakaian dan alas kaki, pilihlah yang paling nyaman. Karena pasti akan banyak berjalan kaki, pakaian dan sepatu yang nyaman akan membuatnya merasa lebih happy, nggak terlalu gerah karena bahan pakaiannya yang adem, juga kakinya nggak sakit dengan sepatu yang tepat.

tips liburan bersama anak

Berlaku juga untuk destinasi wisata dan transportasinya. Tempat berlibur yang kids friendly bisa menjadi pilihan, nih. Kalau bisa yang edukatif pula, pasti selain si kecil makin riang juga dapat menambah wawasannya. Semisal di tempat tersebut ada pemandangan yang kurang baik seperti banyak orang yang buang sampah sembarangan. Kalau saya memanfaatkan situasi ini untuk mengedukasi “buanglah sampah pada tempatnya”. Ada juga tempat yang banyak orang-orang pada merokok, nah, kalau yang ini langsung pindah tempat saja.

Katanya, baik untuk mengenalkan bermacam situasi kepada anak agar ia mampu beradaptasi pada lingkungan. Saya setuju, sih, tapi tetap perlu memberikan kenyamanan kepada si kecil. Misalnya untuk pilihan transportasi kalau naik commuter line yang waktu tempuhnya lebih cepat tapi situasi di dalamnya penuh banget, jika memungkinkan saya lebih memilih naik bus yang nggak terlalu penuh meski perjalanan agak sedikit lebih lama. Sementara pilihannya baru itu, sih, soalnya mau pilih transportasi yang Alphard gitu, mobilnya belum punya. LOL.

Baca juga : Bus Transjakarta dan Perjalanan Menuju Rumah

Perbekalan Air Minum dan Camilan

Jalan-jalan berdua si kecil pasti akan menguras banyak energi. Makanya penting sekali bagi saya untuk selalu membawa air minum. Biasanya bawa botol sendiri atau kalau lupa ya terpaksa beli minuman kemasan. Yang saya sediakan selalu air putih karena, ya, lebih efektif mengatasi rasa haus dan pastinya lebih sehat.

tips liburan bersama anak
Membawa botol minum ke mana pun kami pergi 🙂

Camilan apakah perlu? Tentu saja. Untuk menghindari anak minta jajan yang berujung pada pengeluaran tak terduga. Bukan pelit sih, tapi ya kalau bawa camilan sendiri kan lebih praktis, kapan saja dia iseng pengin ngemil tinggal buka tas, nggak perlu cari-cari penjual makanan. Kadang ada juga, lho, tempat wisata yang susah cari makan kayak di Kebun Raya Bogor gitu, karena di lokasi wisata nggak diperbolehkan ada pedagang.

Oh ya meskipun membawa perbekalan kita juga harus mengedukasi kepada anak bahwa makan dan minum itu harus pada tempatnya. Di dalam bus atau kereta, nggak boleh, ya!

Jadwal Makan dan Tidur

Ini teori paling umum, ya, gengs. Ketika berlibur bersama anak apalagi yang usianya masih 5 tahun ke bawah, pastikan ia tetap mendapatkan jatah makan dan tidur sesuai jadwal hariannya. Urusan makan mungkin lebih gampang karena bisa bawa dari rumah atau pasti sudah diperkirakan pada jam makan siang kita harus berada di tempat yang mudah membeli makan. Nah kalau jadwal tidur, bagaimana?

Saat ke luar kota yang butuh waktu berjam-jam biasanya selama perjalanan ada saatnya Hammam akan tidur, barengan sama saya tidurnya. Karena ya ngantuk aja gitu berlama-lama di jalan. Pernah ya kami liburan ke Garut, Jawa Barat, setiap waktunya berhenti di rumah makan si Hammam selalu lagi tidur.

Yang repotnya itu kalau kami cuma main-main di dalam kota dan di jam tidur siang masih asyik main. Imbasnya adalah di perjalanan pulang dia pasti lelah dan ketiduran, lalu saya kepayahan menggendong dia turun dari bus sampai menemukan Gojek. Haha.

tips liburan bersama anak

Jadi ya sudah berarti jatah tidurnya memang harus di perjalanan, karena nggak mungkin kan tidur siang di musolah Dufan, misalnya. Berarti juga mainnya jangan terlalu lama karena ibu juga butuh stamina lebih jika harus ada adegan menggendong anak seperti contoh saya tadi.

Perlukah Membawa Mainan Favorit Anak?

Kalau cuma jalan-jalan dalam kota saya nggak pernah bawa mainan untuk diberikan kepada anak ketika dia bosan. Selama ini rasa-rasanya belum pernah, sih, dia merasa bosan. Yang penting saya selalu menjaga suasana agar ia tetap excited dan setiap dia bertanya selalu saya jawab. Meski pertanyaannya nggak akan pernah habis, seolah di dalam otaknya sudah mengantri ratusan pertanyaan lain sebelum pertanyaan pertama terjawab.

Tapi kalau perginya ke luar kota selama beberapa hari saya biasanya bawa mainan atau buku yang kecil saja biar nggak berat bawaannya. Ingat, liburan kali ini nggak ada bapaknya yang bantuin bawa tas lho, yaaa. Sementara saat stay di hotel atau villa pasti ada lah nganggur-nganggurnya. Mainan dan buku bisa jadi penghibur lain dari acara jalan-jalan yang sesungguhnya.

Mengatasi Anak Rewel

Dan mungkin inilah yang paling ditakutkan oleh para emak-emak, tips liburan bersama anak yang paling dicari, bagaimana mengatasi anak rewel ketika jalan-jalan? Ini juga yang sering kali orang-orang tanyakan kepada saya, terutama mereka yang mengenal saya secara langsung seperti saudara atau tetangga, yang memang sering melihat keseharian kami dengan Hammam yang terbilang cukup aktif. Jangankan untuk jalan-jalan, pas Hammam sudah mulai sekolah saja ada, lho, saudara yang nanya “Bagaimana dia di sekolah? Idep, nggak? Keluar-keluar kelas mulu, nggak?” (Idep artinya mengerti saat diberitahu). Haha, ada-ada saja, ya.

Waktu umur 2 tahun saya harus pergi ke Kota Serang untuk menghadiri sebuah acara syukuran di rumah calon besan sebagai perwakilan kakak saya. Otomatis Hammam harus ikut, saat itu suami juga ikut, sih. Acaranya seharian, berangkat pagi pulang malam. Sampai di rumah semua keluarga dan saudara yang kebetulan emang lagi pada kumpul karena besoknya mau ada hajatan, pada nanyain dong “Gimana dia, anteng?”, dan pada nggak nyangka kalau Hammam itu selalu anteng setiap diajak pergi-pergi. “Kok bisa, sih, dia nggak rewel?” dan pertanyaan-pertanyaan lain.

Lagi-lagi based on experience anak rewel atau nggak itu tergantung orang tuanya, gengs. Pertama coba deh kita benahi dulu mood kita sebagai orang yang mengajak dia jalan-jalan. Suasana hati yang baik itu menular, lho. Nggak mungkin banget kalau hati kita lagi kesel misalnya, terus jalan-jalan sama anak dan anaknya happy-happy aja. Percayalah! Coba dinginkan dulu kepala dan hatinya. Bangun kembali suasana yang nyaman, jika nggak memungkinkan janganlah berangkat sekalian. Atau selama perjalanan kita bisa saja menemukan sesuatu yang kurang mengenakkan, pintar-pintarlah mengelola emosi, jangan sampai bad mood-nya menular kepada si kecil.

Paling enaknya saat jalan-jalan kalau ada rasa excitement and coriousity, atau keseruan dan rasa ingin tahu. Jagalah terus dua hal ini. Bahkan sejak sebelum bepergian kita sudah bisa memulainya ketika sedang sounding ke anak. Berikan kisi-kisi tentang kemana kita akan berkunjung, apa saja yang bisa kita temui di sana dan di perjalanan, akan naik kendaraan apa, di situ akan ada apa saja dan sebagainya. Jika sudah terbangun sejak awal anak akan terbiasa untuk menantikan hal-hal baru dan selalu bersemangat menjalani liburannya.

Lalu apakah Hammam nggak pernah rewel sama sekali? Ya tentu pernah, lah. Manusiawi kok namanya anak kecil bepergian jauh pasti ada rasa lelah yang bikin dia akhirnya rewel. Seperti yang di awal tadi saya bilang kuncinya adalah mengenal kebutuhan anak dan diri sendiri, kenali juga tanda-tanda si kecil sudah lelah. Kalau Hammam cukup gampang tandanya, ketika lelah dia akan duduk. Iya, duduk. Nggak mikir itu di pinggir jalan atau di tengah-tengah mall. Kalau sudah begini artinya saya harus stop sebentar. Mengajaknya istirahat di tempat yang seharusnya, kasih minum dan cemilan, sambil ngobrolin apa saja. Lho, kok capek malah diajak ngobrol, sih? Emmmm, gimana, ya… Soalnya Hammam nggak pernah diam, maunya bicara terus whahahaaha.

tips liburan bersama anak

Baca juga : Mari Kita Bicara Sampai Stasiun Akhir

Jadi begitulah ceritanya bagaimana kami bisa seseruan bareng meski papi Hammam nggak ikut serta. Dan kondisi setiap anak pasti beda-beda, jadi bagi yang ingin traveling bersama si kecil silakan disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak. Karena Buibu lah yang paling mengerti kondisi dan kebiasaan anak-anaknya sendiri. Sekarang Hammam sudah besar, sudah lebih mudah lagi kalau mau mengajaknya berlibur. Yeeey.

Dan tips tadi tentunya bisa digunakan juga oleh para Ayah yang ingin liburan berdua sama si kecil, selagi ibunya mungkin sedang nggak bisa ikutan.

tips liburan bersama anak

Semoga berhasil dan selamat berlibur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *