fbpx
investasi waktu
Family & Parenting

Sekolah Online dan Investasi Waktu

Bulan lalu sekolah Hammam mengadakan seminar parenting secara offline tentang bagaimana membuat aturan ketika anak belajar dan bermain menggunakan gadget di masa pandemi. Dengan menerapkan protokol kesehatan saya hadir bersama sekitar sepuluh ibu-ibu lainnya, tanpa membawa anak. Pada acara ini kepala sekolah memberikan sambutannya dan sedikit sharing tentang beberapa ibu-ibu yang mengeluhkan betapa repotnya sekolah online ini.

Pihak sekolah memberikan pengertian kepada orang tua yang hadir, bahwa keadaan ini di luar kuasa kita semua. Dikarenakan nggak mungkin menjalani sekolah secara tatap muka, maka sekolah online atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) adalah solusi yang paling baik untuk semua. Jika kemudian orang tua merasa keberatan dengan sistem yang diberlakukan saat ini maka bagaimana lah proses belajarnya anak-anak?

Beberapa minggu pertama sejak pandemi saya pun sama stressnya dengan Buibu semua. Apalagi anak nggak bisa langsung mengerti dengan apa yang saya sampaikan. Beneran, mau nangis! Setiap kali buka media sosial dan lihat postingan tentang stressfull sekolah online, saya merasa ‘ada temannya’. Haha. Tapi lalu saya ingat perasaan ini juga pernah muncul belasan tahun lalu dan saya bisa mengatasinya.

Ketika itu saya baru lulus kuliah dan setelah beberapa bulan menganggur akhirnya mendapatkan pekerjaan di sebuah provider komunikasi sebagai call center officer. Jadwal kerjanya bisa pagi banget, bisa juga selesainya sampai malam banget. Karena industri ini memang bekerja 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Jadwal terpagi adalah jam 6:00 dengan waktu tempuh dari rumah ke kantor butuh setidaknya 1 jam. Jadi jam 5 subuh saya sudah harus berangkat. Bangunnya jam berapa? Jam 3:30 dan nyempetin buat nyuci baju dulu. Haha.

Beberapa hari pertama rasanya beraat banget. Tapi alhamdulillah setelah itu seperti memiliki kekuatan dan termotivasi untuk bekerja dengan sungguh-sungguh, jam berapa pun jadwal masuknya. Semuanya bisa berjalan dengan lancar dan damai ketika saya sudah menerimanya dengan senang hati.

Begitupun dengan PJJ yang sekarang sedang berjalan. Meski nggak punya pengalaman sebagai guru sekolah, nggak punya keterampilan khusus untuk mengajarkan ilmu sekolah kepada anak-anak, delapan bulan di rumah alhamdulillah sekolah Hammam akhirnya lancar juga. Semuanya dimulai dengan “menerima” dan dilanjutkan dengan “memotivasi” diri.

Setelah menerimanya, saya pelan-pelan mempelajari cara yang paling efektif untuk mengajarkan Hammam. Awalnya memang terasa sulit dan lama-lama jadi terbiasa. Salut banget deh sama ibu-ibu guru di TK yang bisa ngajarin anak sampai mereka bisa. Dan itu nggak cuma satu lho, ya, anaknya. Tapi bisa 10 anak. Apalagi kalau di SD, muridnya lebih banyak lagi, kaaan.

Investasi Waktu untuk Keberhasilan Anak-anak

Bagaimanapun anak-anak kita harus berhasil melalui masa-masa sekolah dari rumah. Apapun caranya, kita tentu ingin anak-anak bisa belajar dengan baik, bukan hanya untuk menggugurkan kewajiban kirim tugas ke guru sekolah.

Betapa senangnya saya bisa membimbing Hammam sampai ia bisa membaca tanpa mengeja meski saat ini masih belum lancar banget. Rasanya bahagia luar biasa saat ia mulai suka dibelikan buku dongeng. Dan terharu sekali ketika di waktu bermainnya dia memilih untuk menggambar dibandingkan bermain gadget.

Waktu adalah yang bisa saya berikan untuk keberhasilannya. Pagi hari saya adalah milik Hammam seutuhnya. Apa itu beres-beres rumah dan masak? Jadi nomor kesekian, pokoknya. Yang penting PJJ dulu, gengs!

Bagaimana dengan orang tua yang harus bekerja? Jangan sedih, ketidakhadiran ibu dan bapak dalam proses PJJ karena harus bekerja di kantor, bukanlah suatu ketidakhadiran yang sesungguhnya. Menggunakan waktu untuk bekerja juga hal yang mulia. Anak-anak tetap bisa merasakan kehadiran itu melalui telepon dan video call di waktu-waktu belajarnya bila ada yang ingin mereka tanyakan.

Dengan begitu anak-anak akan tetap mendapatkan ‘waktu’ yang berharga, sebagai pengganti kehadiran orang tuanya.

Jika semua ini masih terasa berat, coba lihat lagi apakah kita sudah menerima keadaan ini. Semoga setelah menerimanya dengan sepenuh hati, Buibu jadi lebih senang belajar bersama anak-anak. Kalau kata ibunya Jungpal di drama Korea Reply 1998, “Bukan kita yang membesarkan anak-anak, tapi anak-anak yang membesarkan kita”.

Begitulah pandemi ini pada akhirnya membuat kita mengerti bahwa anak-anak lah yang membuat kita menjadi sehebat sekarang.

Author

Enterprenuer and Crafter Mommy || I have one little kid, I love writing, sewing and photography || dzul.rahmat@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *