pikun bisa diobati
Health

Apakah Demensia Alzheimer atau Pikun Bisa Diobati?

“Kemana perginya Siti? Sudah berhari-hari nggak pulang.” Kata seorang ibu pada anaknya. Sambil menangis tersedu-sedu karena terlalu sedih dan rindu pada anak semata wayangnya. Padahal saat itu Siti sendiri yang menjadi tempatnya berkeluh kesah dan sang ibu yang sudah pikun tak menyadari keberadaan putrinya. Duh, saya takut. Apakah ketika tua nanti saya juga akan mengalami hal yang sama? Dan apakah pikun bisa diobati?

Siti adalah sahabat saya sejak di bangku SMK. Mungkin 2 atau 3 tahun yang lalu ibunya masih mengenali saya saat saya mengunjungi rumahnya. Tapi sekarang beliau bahkan nggak mengenali putrinya sendiri. Cerita tentang ibunya yang pikun belakangan ini sering saya dengar. Meski Siti menceritakannya secara fun dan saya pun jadi tertawa dibuatnya, tapi saya tetap merasa prihatin. Betapa hal ini pasti berat bagi Siti.

Sebelumnya ibunya Siti pernah mengalami stroke ringan dan setelah melakukan serangkaian pengobatan terapi, kondisinya mulai membaik. Tetapi kemudian muncul gejala pikun. Ternyata stroke dan beberapa penyakit degeneratif lainnya memang bisa menjadi penyebab pikun atau dalam istilah medis disebut Demensia Alzheimer.

Pikun atau Demensia Alzheimer adalah kondisi penurunan fungsi otak pada lansia. Kondisi ini berakibat pada menurunnya daya ingat, kecepatan berpikir dan berperilaku.

Pikun Bisa Diobati Berdasarkan Gejalanya

Selama ini kita menganggap pikun adalah hal yang wajar seiring bertambah usia. Cerita lain soal berkurangnya daya ingat datang dari abang ipar saya yang menduduki kotak kacamatanya. Dengan panik ia membuka kotak tersebut dan mendapati kacamata nggak ada di tempatnya. Setelah hampir putus asa mencari kacamata, akhirnya ketemu juga. Ternyata alat bantu baca tersebut sudah sejak tadi berada tepat di depan matanya sendiri, alias sedang dipakai.

Apa yang dialami oleh abang saya ini adalah sifat pelupa yang belum termasuk kategori pikun. Karena ia masih bisa mengingat di mana kacamatanya dan ingat ketika bercerita tentang hal ini kepada orang lain. Tetapi jika hal ini berlangsung secara terus-menerus, bisa jadi lupanya merupakan gejala pikun.

pikun bisa diobati

Berikut ini adalah gejala pikun yang harus dikenali :

  • Gangguan daya ingat atau sering lupa
  • Disorientasi, bingung akan arah dan waktu
  • Menarik diri dari pergaulan
  • Perubahan perilaku dan kepribadian
  • Sulit melakukan pekerjaan rutin seperti biasanya
  • Sulit mengukur jarak dan membedakan warna
  • Sulit fokus
  • Gangguan komunikasi atau kesulitan berbicara
  • Sering salah dalam membuat keputusan
  • Menaruh barang pada tempat yang bukan seharusnya.

Jika satu saja dari 10 gejala di atas berlangsung terus menerus maka disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter dan penyakit pikun bisa diobati berdasarkan gejalanya.

Jadi yang dimaksud mengobati pikun di sini bukan pengobatan secara langsung terhadap pikun itu sendiri. Melainkan untuk mengatasi penyebab pikun dengan tujuan meringankan gejala, meningkatkan fungsi otak dan menghambat perkembangan penyakit.

Misalnya, jika pikun disebabkan adanya tumor otak, maka untuk mengatasinya harus dilakukan operasi. Dengan sebab tumor otak bukan hanya lansia yang dapat mengalami pikun, tetapi yang usianya masih muda pun bisa menderita penyakit ini. Kemudian jika pikun disebabkan oleh kurangnya nutrisi, perlu diberikan asupan makanan bergizi dan suplemen sesuai kebutuhan.

Mengapa Pikun Harus Diobati?

Secara global Demensia dialami oleh lebih dari 50 juta orang. Angka ini terus meningkat setiap tahunnya dan diperkirakan tahun 2050 mendatang penderita Demensia mencapai 131.5 juta orang di seluruh dunia. Kasus terbanyak merupakan jenis Demensia Alzheimer yaitu 60-70%.

Sayangnya hanya sepertiga dari jumlah populasi yang paham akan penyakit Demensia Alzheimer. Selebihnya hanya menganggap ini sebagai penyakit yang wajar dalam proses penuaan manusia.

Di Indonesia sendiri pada tahun 2013 terdapat 1 juta orang mengalami pikun, kemudian bertambah menjadi 1,2 juta orang di tahun 2016 dan diperkirakan mencapai 4 juta orang di tahun 2050.

pikun bisa diobati

Menjadi penyakit di posisi ketujuh penyebab kematian, pikun harus diobati agar di masa tuanya seseorang bisa tetap produktif. Para lansia yang memiliki kualitas hidup yang baik tentunya nggak akan menjadi beban bagi keluarga, lingkungan dan negara.

Saat ini kita bisa mendeteksi dini gejala pikun melalui sebuah aplikasi milik PERDOSSI (Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonsia) yang di-support oleh PT Eisai Indonesia (PTEI). Melalui aplikasi ini kita bisa mengetahui apakah diri kita sendiri atau anggota keluarga lain membutuhkan konsultasi lebih lanjut dengan dokter spesialis.

Aplikasi EMS (E-Memory Screning) merupakan alat untuk mengedukasi masyarakat dan meningkatkan kesadaran terhadap penyakit Demensia Alzheimer. Yang dilengkapi dengan direktori dokter spesialis neurologis, Rumah Sakit dan artikel-artikel terkait Demensia.

EMS bisa di-download di PlayStore dan AppStore. Setelah install dan mendaftar, jangan lupa lakukan verifikasi melalui link yang dikirimkan melalui email. Selanjutnya login dan lakukan Skrining Demensia dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar daya ingat. Kemudian jika hasilnya lebih besar atau sama dengan 2 maka disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter ahli.

Fitur Direktori Dokter Spesialis pada aplikasi ini akan memberikan rekomendasi dokter spesialis di Rumah Sakit sekitar kita dengan radius sampai dengan 50 km.

pikun bisa diobati

Mencegah Pikun Lebih Baik Daripada Mengobati

Untuk kehidupan masa tua yang lebih baik, tentunya jangan sampai kita mengalami pikun agar bisa tetap melakukan kegiatan seperti biasanya secara mandiri. Pikun bisa dicegah dengan dengan menjaga kesehatan jantung, berolah raga atau setidaknya bergerak aktif, memenuhi kebutuhan gizi, menstimulasi otak, fisik, mental dan spiritual, serta bersosialisasi dan melakukan aktivitas positif.

Semoga kita dan keluarga terhindar dari pikun atau Demensia Alzheimer, ya, dengan selalu menjalankan pola hidup sehat.

Artikel ini ditulis berdasarkan hasil mengikuti Webinar Obati Pikun yang diselenggarakan dalam rangka Festival Bulan Alzheimer Sedunia, dengan narasumber dr. S.B. Rianawati, SpS (K) selaku Pokdi Neurobehaviour Cabang Malang

Terima kasih sudah membaca informasi tentang mengobati pikun atau Demensia Alzheimer di blog ini. Tunggu artikel lainnya besok, ya.

Author

Enterprenuer and Crafter Mommy || I have one little kid, I love writing, sewing and photography || dzul.rahmat@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *