pertanyaan kritis
Family & Parenting

Pertanyaan Kritis dan Jawaban Manipulatif

Sudah lama sekali kami sekeluarga nggak bepergian menggunakan mobil. Saking lamanya Hammam sampai lupa kalau papinya bisa nyetir. Ketika bulan lalu kami ada acara keluarga, Hammam girang luar biasa karena papi kembali duduk di balik kemudi. Dan seperti yang sudah bisa ditebak, anak kami menanyakan segala hal tentang mobil. Sampai-sampai abang ipar saya speechless, ketika Hammam mulai membahas speedometer dan persneling.

Hammam dulu memang mengalami keterlambatan bicara karena masalah sensori integrasi. Setelah bisa berbicara, subhanallah, nggak ada capek-capeknya ngomong terus. Dan pertanyaannya sering nggak terduga, kadang lucu kadang juga kritis sekali. Saya, suami dan orang-orang di sekitar kami sering kali kewalahan menjawab pertanyaannya.

Tapi, seberapa pun sulitnya pertanyaan si kecil harus dijawab, kan, gengs? Meski harus menggali informasi lebih dalam melalui buku, observasi atau baca-baca di internet. Begitulah trend masa kini yang sudah nggak bisa ditutupi lagi bahwa kita bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaan anak-anak. Jawaban yang sebenarnya, bukan jawaban karangan bebas.

Ada Anak Bertanya pada Bapaknya

“Buat apa berlapar-lapar puasa?” jawabannya, “Lapar membuatmu rendah hati selalu.” gampang, karena ada di lirik lagu milik Bimbo yang sudah ada sejak belasan tahun yang lalu. Dan berhubung para orang tua milenial pernah dibesarkan dengan metode jawaban ala kadarnya disertai mitos-mitos belaka, kita jadi belajar lagi bagaimana seharusnya menjawab pertanyaan anak-anak.

Belum lama ini saya menghadiri acara parenting di sekolah Hammam. Acara yang memberlakukan secara ketat protokol kesehatan ini menghadirkan seorang psikolog anak M. Taufan M, Psi, sebagai narasumber. Tema seminar hari itu sebenarnya adalah tentang manajemen waktu penggunaan gadget selama anak-anak PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Tetapi soal pertanyaan anak-anak menjadi berkaitan dengan tema tersebut, karena banyak orang tua yang kewalahan selama anak belajar di rumah, makin banyak pertanyaan mereka yang sulit untuk dijawab.

Bapak M. Taufan mengatakan, pertanyaan anak-anak harus dijawab dengan sebenarnya, menggunakan bahasa yang mudah dimengerti. Jika orang tua belum tahu jawabannya, katakan kepada anak bahwa, “Ibu akan cari tahu dulu jawabannya, nanti kalau sudah ada akan ibu beri tahu.” Bukan malah mengarang jawaban yang dapat memberi dampak buruk bagi si kecil. Bisa jadi, jawaban karangan kita akan sangat mereka percaya dan suatu saat bisa menimbulkan salah paham.

Bagaimana kita nggak mengarang bebas ya, bund, kalau anak nanyanya suka bikin bingung? “Mami waktu kecil, manggil papi apa?” Lah, waktu kecil kan mami dan papi belum kenal, tinggalnya juga nggak bareng. “Yah, kenapa kok nggak tinggal bareng?” tanyanya kemudian dengan raut wajah kecewa mau nangis segala. Haha.

Karena nggak mau kecewa untuk yang kedua kalinya, besoknya pertanyaan dia gini, “Mami, waktu kecil sudah kenal sama Baba (abang saya), belum?” Ya, iya sudah kenal dari kecil. “Lho, kenapa sama Baba kenal tapi sama papi nggak kenal?” Yawloooo.

Manfaat Berpikir Kritis

Jangan melarang anak-anak untuk bertanya. Ada yang bilang lebih baik anak-anak bertanya pada orang tuanya dari pada bertanya pada google. Ya, meski kalau orang tua nggak paham jawabannya, ujung-ujungnya akan nanya ke google juga. Haha. Tapi dengan tanya jawab ini dapat memperkuat bonding antara anak dengan orang tua, serta meningkatkan rasa percaya anak terhadap orang tua.

Dan ternyata berpikir kritis itu memiliki segudang manfaat, gengs! Dengan berpikir kritis kita akan terbiasa melihat sesuatu secara mendalam dan nggak asal mengambil keputusan. Selain itu juga ada sudut pandang berbeda yang bisa kita lihat dari sebuah masalah dan menjadi penentu bagaimana caranya menyelesaikan masalah tersebut.

Saya sendiri masih harus banyak belajar untuk berpikir kritis. Kadang malah Hammam yang mengajarkan saya melalui setiap pertanyaan-pertanyaan dan gambar-gambar yang dia buat. Biasanya Hammam banyak bertanya tentang film yang sedang ditonton, apalagi kalau film fiksi animasi suka banyak nggak masuk akalnya.

Nah, suatu hari Hammam nonton film bersama kakak saya tentang hewan peliharaan yang terbawa arus kemudian keluar dari pipa air. Padahal pipa sama hewan lebih besar hewannya. Dulu Hammam sering bertanya “mengapa bisa begitu?” lalu pertanyaan itu kembali di lontarkan oleh kakak saya untuk Hammam. Dan anak saya menjawab, “Itu kan cuma animasi.”

Duh, saya nggak tahu apakah dulu jawaban saya sudah benar atau belum. Yang jelas saya merasa surprise dengan jawaban Hammam itu. Jangan sampai salah deh, ngasih jawaban ke anak yang lagi kritis-kritisnya bertanya.

Coba bayangkan ya, gengs, kalau anak kita mendapatkan segala manfaat dari berpikir kritis. Pastinya mereka akan tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas, percaya diri dan dapat bersaing di masa depan. So, jangan pernah lelah menjawab pertanyaan anak-anak meski pertanyaannya susah.

Tetap semangat, ya!!!!

Author

Enterprenuer and Crafter Mommy || I have one little kid, I love writing, sewing and photography || dzul.rahmat@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *