Health Social

Perokok yang Terjebak dalam Rasa Palsu

Himpitan ekonomi menjadi sesuatu yang lebih sering diteriakkan oleh masyarakat selama Pandemi. Seiring dengan berbagai sektor usaha yang vakum untuk sementara waktu, banyaknya karyawan yang diliburkan tanpa dibayar, bahkan nggak sedikit juga bisnis yang akhirnya tutup dan karyawan di-PHK. Dari mana mereka akan mendapatkan penghasilan untuk bisa menghidupi keluarga? Sungguh pedih. Tapi lebih pedih lagi ketika mengetahui bahwa sebagian dari mereka masih mampu untuk membeli rokok. Ironis.

Kalimat “Biarin nggak makan yang penting anak istri nggak kelaparan”, nggak lagi terdengar heroik dan mengharukan ketika jatah makan siang seorang kepala keluarga harus direlakan demi sebungkus rokok. Keluarganya tetap kenyang tetapi mereka biarkan zat-zat beracun menyusup di dalam rumah. Melalui baju, kulit dan rambut yang kadung terpapar asap rokok.

Siapa yang belum paham akan bahayanya rokok? Everybody knows, bahkan si perokok itu sendiri pun mengetahuinya. Masuknya racun karsinogen dan karbon monoksida ke dalam saluran pernapasan akan merusak organ-organ tubuh seperti paru-paru, jantung dan pembuluh darah. Mengapa zat yang sebegitu mematikannya ini nggak bisa membuka mata mereka, sih? Malahan pada bilang “Semua orang, baik yang merokok maupun nggak merokok nantinya pasti akan mati juga.” Sebuah kalimat klise dari mereka yang belum tahu rasanya kehilangan orang-orang tercinta.

Jangan heran kalau perilaku perokok di hadapan orang lain sungguh cuek buang asap di mana-mana. Lha, keluarganya sendiri saja yang katanya sangat dicintai dibiarkan terpapar racun setiap hari. Apalagi dengan kondisi Pandemi seperti sekarang ini dimana sedang diberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang mengharuskan orang-orang bekerja, belajar, beribadah dan aktivitas lainnya dari rumah. Para perokok pun hanya punya ruang di rumah saja.

Masalah rokok tentu nggak sampai di situ saja. Angka perokok usia anak-anak pun kian hari kian meningkat dan bisa kita temui di mana-mana. Di pasar, di terminal, di tanah kosong, di rombongan ondel-ondel, bahkan di belakang gedung sekolah tempat mereka seharusnya belajar. Apakah anak-anak ini yang sedang kita siapkan sebagai Generasi Emas 2045?

Karakter dan Perilaku Perokok Selama Pandemi

Kalau kalian masih ingat, tahun 2012 yang lalu sempat heboh tuuuh saat pemerintah menerapkan aturan tentang rokok salah satunya area bebas asap rokok. Saat itu saya masih bekerja di kantor, kebetulan bos saya adalah perokok berat. Meski ruangan kami terpisah, di ruang beliau terdapat air purifier dan setiap pagi dibersihkan, tetap saja bau asapnya melekat kuat dan bisa tercium dari meja saya. Maka ketika diberlakukan Peraturan Pemerintah No 109 tahun 2012, saya memberi tanda dilarang merokok di ruangan saya dan di dekat pintu kantor Pak Bos. Beliau tanya, kenapa ada tanda itu di dekat ruangannya? Saya bilang “Tempat kerja adalah kawasan bebas asap rokok.” lalu nampaknya Pak Bos tersinggung dan curhat sama cleaning service bagaimana dirinya nggak bisa produktif tanpa rokok. Duh!

Sekarang kita semua ingin Pandemi ini segera berlalu. Pemerintah telah mensosialisasikan skenario tahapan dibukanya kembali bisnis secara bertahap. Tetapi dengan perilaku masyarakat Indonesia yang sulit untuk berdiam diri di rumah nampaknya Covid-19 nggak bisa semudah itu dihilangkan dari negera kita. Maka kita pun dihadapkan pada New Normal. Jangka panjangnya perilaku perokok pun harus diatur secara ketat agar menurunkan risiko penularan dan komplikasi.

Perokok adalah salah satu golongan rentan terhadap penularan Covid-19 yang sangat berisiko. Karena saluran pernapasannya sudah terkontaminasi sehingga fungsi saluran napasnya mengalami penurunan. Jadi meski imunitas seseorang baik tetapi saluran pernapasannya terganggu maka tetap berbahaya. Diam di rumah memang menjadi solusi memutus penyebaran virus Corona. Tetapi dilemanya adalah polusi di dalam rumah malah meningkat pesat, sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan di Tiongkok.

Belum lagi jika asap rokok telah meracuni keluarga si perokok. Ngeri banget lah membayangkan angka kematian akibat Covid-19 kalau nggak ada tindakan pencegahan. Per hari ini saja jumlah pasien terkonfirmasi positif Covid-19 sudah 24.538 orang dan yang meninggal dunia sejumlah 1.496 orang (Covid19.go.id 29 Mei 2020).

#PutusinAja dan Ciptakan Rumah Aman Tanpa Asap Rokok

Beberapa hari sebelum Lebaran, KBR.ID menayangkan live streaming di youtube yang membahas soal rokok dan pandemi. Talkshow ini menghadirkan narasumber dr. Frans Abednego Barus (Dokter Spesialis Paru) dari PDPI (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia) dan Nina Samidi, Manager Komunikasi Komnas Pengendalian Tembakau.

Menurut Nina Samidi, “Aturan kawasan tanpa rokok, salah satunya di rumah, harus diterapkan dalam sebuah kebijakan yang tegas.” hal ini berkaitan dengan PP No 109 tahun 2012 yang saya sebutkan tadi. Memang sih, aturan tersebut hanya heboh di awal-awal saja. Semakin kesini, semakin orang nggak peduli sama aturan itu. Tetapi Nina menilai kesadaran masyarakat terhadap bahaya rokok cukup meningkat. Kemudian muncul trend baru yaitu rokok elektrik dan vape.

dr. Frans mengatakan “Ada 3 zat berbahaya yang terdapat pada rokok yaitu nikotin, tar dan karbon monoksida. Sementara rokok elektrik hanya memilik nikotin.” Menurut kalian, bagaimana? Tetap saja berbahaya, kan? dr. Frans menambahkan bahwa perokok elektrik hanya tenggelam dalam rasa aman yang palsu.

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan RI, sepertiga populasi di Indonesia adalah perokok aktif. Maka untuk mencegah peningkatan infeksi dan komplikasi Covid-19 pemerintah harus membuat aturan pengendalian tembakau yang lebih ketat untuk menurunkan penularan.

Semoga aturan ini segera diterbitkan yaa. Dan semakin meningkat lagi kesadaran masyarakat bahwa rumah bukanlah tempat untuk meracuni keluarga dengan asap rokok. Kalau bisa sih makin banyak perokok yang berhenti dan lebih memilih hidup sehat.

Saya sudah berbagi pengalaman pribadi untuk #putusinaja hubungan dengan rokok atau dorongan kepada pemerintah untuk #putusinaja kebijakan pengendalian tembakau yang ketat. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog serial #putusinaja yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Indonesian Social Blogpreneur ISB. Syaratnya, bisa Anda lihat di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *