fbpx
gagal ke bali
Travel & Culinary

Pernah Gagal ke Bali

Never been to Bali.” tulis Ninit Yunita, penulis novel Testpack, pada halaman profile-nya di Twitter beberapa tahun lalu. Sebuah status yang bikin saya senyum-senyum sendiri dan merasa memiliki teman. Bukan hanya saya seorang yang belum pernah ke Bali. Sekarang mungkin Ninit sudah menjejak Bali, tapi nggak bagi saya. Haha.

Bali dengan segala pesonanya memang menarik hati siapa saja untuk segera datang berkunjung. Termasuk saya, yang selama ini baru bisa melihat Bali dari balik layar laptop. It’s okay, saat ini traveling belum menjadi prioritas saya. Eh, tapi kalau bisa menang lomba yang hadiahnya ke Bali, nggak bakal nolak, sih!

Sejujurnya saya pernah mengejar hadiah ini dengan mengikuti lomba foto yang diselenggarakan oleh salah satu brand kopi kekinian. Syaratnya dengan upload foto bersama sahabat sambil menikmati kopi tersebut, se-kreatif mungkin. Sayangnya saya nggak minum kopi, kaaan. Kayaknya akan aneh ya kalau upload foto minum kopi di instagram feed. Tapi beneran saya mau banget hadiahnya! Gimana dooong??

Akhirnya saya mengajak seorang teman untuk kolaborasi, namanya Mardiah. Nah teman saya ini memang traveler beneran, penyuka kopi, follower instagram-nya lebih banyak dan engagement-nya juga bagus. Haha, dasar yaa saya kok kayak memanfaatkan dia banget. Pokoknya kesepakatan kami adalah saya yang siapin perintilan untuk pemotretan, kemudian fotonya upload di feed dia. Kalau menang tentunya kami akan berangkat bareng ke Bali. Segala persiapan pun dilakukan demi memenangkan hadiah ini.

Pengin bisa motret Pura Ulun kayak gini, lho, gengs! Ini bukan fota saya tapi, ya. Ini ambil dari Canva.

Photo Shoot

Persiapannya lumayan butuh effort, gengs. Mulai dari cari lokasi untuk foto, cocokin jadwal kami berdua, properti yang akan digunakan, kostum dan tentunya produk yang harus disertakan dalam foto. Sebelum naik bus Transjakarta saya mampir dulu di kedai kopinya untuk beli varian sesuai syarat ketentuan lomba. Kedainya belum buka dan saya nungguin dong! Haha.

Setelah beli kopi, saya segera naik bus Transjakarta jurusan Blok M untuk transit menuju Monas, tempat kami janjian untuk photo shoot. Bawaan saya saat itu adalah tas kamera, tas tripod dan satu tas lagi yang isinya kopi. Hahaha, rempong sekaliiii. Sampai di Monas ternyata apa? Monasnya tutup! Geeengs, rupanya hari Senin Monas tutup, gitu lho! Kenapa dari awal saya nggak ngecek dulu, siiih? 2 jam loh perjalanan dari rumah ke Monas! Bener-bener, yaaa!

Tapi rencana nggak boleh gagal, dong! Langsung cari tempat lain yang nggak terlalu jauh dari Monas. Akhirnya pilihan jatuh kepada Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat. Di sini tempatnya enak banget buat foto-foto atau cuma buat duduk-duduk aja. Photo shoot dimulai, dengan segala kerempongan menggunakan lensa manual.

Pengumuman Pemenang

Setelah posting di instagram, saatnya nyari massa dong buat nge-like dan komen-komen, biar rame dan interaktif. Haha. Engangement terpantau naik dengan jumlah like yang paling banyak kalau dilihat berdasarkan hastag. Pede dong kitaaa. Meskipun banyak lagi peserta lainnya yang juga bagus-bagus, kreatif dan seru banget nget ngettt.

Pas hari pengumuman, dengan deg-dengan nih ngecek akun instagramnya si penyelenggara lomba foto. Pagi-pagi dicek belum ada. Agak siangan baru deh muncul pengumuman yang menyatakan bahwa saya dan Mardiah nggak menang. LOL.

Salah satu foto yang diambil saat itu, maafkan produk kopinya saya tutup pakai paperbag. Wkwkwk.

Hari itu rasanya kecewa bangeeeet. Gagal ke Bali, gengs! Begitulah ya kalau terlalu berharap sama sebuah kompetisi. Ketika hasilnya nggak sesuai harapan, langsung kecewa berat. Kami kayaknya butuh beberapa hari gitu untuk merasa lebih baik. Kenapa sampai se-down itu, sih? Namanya lomba itu kan harus siap sama kemungkinan terburuk, yaitu nggak menang.

Masalahnya ini yang menang bukan peserta yang fotonya kreatif abis, gengs! Hahaha, diluar ekspektasi pokoknya. Saya lihat-lihat fotonya dia, saya baca lagi caption-nya, eh ternyata ada yang unik sih memang. Peserta yang satu ini melampirkan struk pembelian di slide kedua. Yang meskipun ini nggak menjadi syarat dalam perlombaan, mungkin dewan juri tersentuh hatinya, yaaa. Bahwa yang ikutan ini benar-benar membeli kopinya itu.

Sampai sekarang kalau mau ikut lomba-lomba saya sama Mardiah suka bahas “Jangan lupa, lampirkan struknya.” Hahaha. Antara masih bete tapi kocak. Alhamdulillah nggak berlarut-larut kecewanya, dibawa happy aja. Biarlah ini menjadi pelajaran bagi kami, bahwa melakukan yang terbaik adalah sebuah proses untuk banyak tujuan. Nggak berhasil pada tujuan yang satu, bukan berarti akan gagal lagi pada tujuan berikutnya.

Gagal ke Bali bukan sesuatu yang perlu diratapi. Alhamdulillah nggak lama setelah itu saya dapat hadiah liburan ke Kupang dan Sumba. SUMBA, gengs! Dan Mardiah juga menang trip ke luar negeri gitu. Yeeey.

Oh ya by the way, sepulang dari Sumba, akhirnya saya ke Bali juga. Ngapain? Transit doang. LOL.

Author

Enterprenuer and Crafter Mommy || I have one little kid, I love writing, sewing and photography || dzul.rahmat@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *