new normal
Family & Parenting / Health

New Normal di Mata Anak-anak

“Ham, Covid itu apaan, sih?” tanya saya kepada si kecil di sela-sela obrolan sore. Iseng, pengin tahu apa pendapat dia tentang virus yang satu ini. “Itu Corona, mih.” jawabnya polos. Menurut pengamatan saya, Hammam menganggap virus Corona sebagai sesuatu yang menghalangi kita untuk bepergian karena banyak jalan yang ditutup. Bahkan kalau lagi bermain peran dia suka menutup jalan dan bilang “Jalan ditutup, lagi Corona.”

Lucu dan menggemaskan. Tetapi sepertinya dia harus tahu kenyataan yang sebenarnya. Bahwa pandemi yang sedang kita hadapi ini merupakan sebuah musibah global akibat virus yang bernama Covid-19. Jadi harus diluruskan dan diedukasi mulai dari pengertian virus secara general, apa itu Covid-19 dan bagaimana kita harus menghadapinya.

Apa Itu Virus?

“Virus itu bisa dilihat pakai mikroskop.” ini adalah definisi virus versi Hammam. Haha. Iya, sih, cuma mikroskop elektron dengan perbesaran dua juta kali yang bisa memperlihatkan virus Corona. Udahannya dia menutup pembicaraan dengan kalimat, “Mih, Hammam mau beli mikroskop, ya?” Eerrrgghh.

Virus adalah mikroorganisme patogen yang menginfeksi sel makhluk hidup. Virus hanya dapat bereplikasi di dalam sel makhluk hidup karena virus tidak memiliki perlengkapan seluler untuk bereproduksi sendiri. Semua bentuk kehidupan dapat diinfeksi oleh virus, mulai dari hewan, tumbuhan, hingga bakteri dan arkea.

Wikipedia

Tentu saja bukan itu yang saya jelaskan ke Hammam. Dengan bahasa yang sederhana kini ia tahu bahwa virus adalah sesuatu yang dapat mengganggu kesehatan atau bisa bikin kita jadi sakit, terutama kalau tubuh kita nggak bersih. That’s why kita harus rajin mencuci tangan, ke mana-mana memakai masker atau faceshield dan selalu menjaga jarak dengan orang lain.

Edukasi New Normal kepada Anak

Nggak hanya orang dewasa, anak-anak pun harus beradaptasi dengan new normal. Sayangnya masih banyak (atau bahkan kebanyakan) orang yang nggak peduli akan pentingnya protokol kesehatan. Padahal cara yang paling efektif untuk meng-edukasi new normal kepada anak-anak adalah dengan memberikan contoh yang konsisten.

Berikut ini adalah tips saya dan suami memberikan edukasi new normal kepada anak kami. Berhubung kami juga jarang pergi, protokol ini berlaku untuk kunjungan ke minimaret, ya.

Mencontohkan Protokol Kesehatan

Kadang Hammam nggak mau pakai masker, dengan alasan “Kan cuma dekat, mih.” Nggak bisa! Pokoknya kami nggak akan berangkat ke minimarket sebelum memakai masker. Saya jelaskan kegunaan masker dan akibatnya jika nggak pakai masker. Sekarang dia tahu bahwa “Pakai masker itu supaya nggak tertular virus.” Okay, good.

Protokol berikutnya adalah jangan banyak pegang-pegang benda terutama gagang pintu dan meja kasir. Yang ini Hammam masih suka khilaf, gengs. Mungkin karena excited mau ‘ngadem’ di minimarket akhirnya dia jalan duluan dan buka pintu dengan memegang handle-nya. Di bagian ini saya akhirnya selalu menawarkan bantuan untuk membukakan pintu. Karena sulit baginya membuka sendiri menggunakan sikunya.

Kalau mencuci tangan dengan sabun alhamdulillah Hammam sudah terbiasa. Kadang dia yang mengingatkan saya “Mami sudah cuci tangan, belum?”

Aneh Kalau Nggak Pakai Masker

Di lingkungan saya banyak sekali orang dewasa dan anak-anak yang main di luar tanpa memakai masker. Namanya anak kecil pasti mau ikut-ikutan. Makanya sebagai orang tua saya harus punya trik. Saya bikin Hammam ngefans banget sama saya, jadi dia akan lebih mengikuti saya daripada anak tetangga. Dan bilang bahwa zaman sekarang yang nggak pakai masker itu justru aneh. Hahahaaa.

Menyediakan Fasilitas

Agar Hammam terbiasa dengan new normal ini maka kami pun memberikan fasilitas untuk memudahkannya beradaptasi. Seperti menyimpan masker pada tempat yang mudah dijangkau dan sabun cuci tangan khusus yang dia pilih sendiri saat membelinya.

Saya juga mengenalkan kepadanya bahwa garis-garis yang berada di depan meja kasir adalah tanda kita menjaga jarak. Jadi kalau ada orang berdiri di depan kita, maka kita harus berdiri di garis yang belakangnya.

Melalui Dongeng

Waktu minggu lalu Hammam nggak semangat menghapal do’a sehari-hari, saya mendongeng tentang anak kecil yang hebat, bisa ke kamar mandi sendiri dan selalu berdo’a sebelum masuk kamar mandi. Habis itu Hammam langsung terpacu, nggak mau kalau saing sama anak di dalam dongeng saya.

Dari situ saya mikir, edukasi new normal pasti bisa juga bisa dilakukan melalui dongeng.

Apakah Berhasil?

Sebagai reward karena Hammam sudah jadi anak yang baik, saya berjanji akan mengajaknya ke toko stationery untuk membeli lem tembak. Akhirnya hari libur tiba dan kami terus ditagih sejak kemarin pagi. Dalam perjalanan saya baru sadar ternyata Hammam nggak pakai masker. Padahal kami sudah mau sampai sebentar lagi. Sementara kalau nggak pakai masker pasti pengunjung dilarang masuk.

Saking Hammam nggak mau acara ini batal, dia memberikan solusi “Ambil dulu (maskernya) deh di rumah.” And that’s how it went, kami putar balik untuk mengambil masker yang tertinggal.

Membiasakan sesuatu itu memang sulit. Tetapi bukan berarti nggak bisa dilakukan. Selalu menjalin komunikasi yang baik dengan anak-anak dan memberikan contoh secara konsisten adalah kunci keberhasilannya.

Author

Enterprenuer and Crafter Mommy || I have one little kid, I love writing, sewing and photography || dzul.rahmat@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *