menghadapi penyakit kritis
Health

Menyikapi dan Menghadapi Penyakit Kritis dengan FWD Critical Armor

Selamat siang, gengs! Tahun 2020 sudah lewat sebulan, nih. Ada yang sudah mencapai target healty lifestyle kah di bulan Februari ini? Yang sudah, selamat, ya… Semoga istiqomah, nggak ngebut di awal lalu berhenti di tengah jalan. Bagi yang belum, mari tetap semangat. Karena gaya hidup yang sehat itu investasi. Dampaknya memang nggak kelihatan sekarang, tapi bertahun-tahun kemudian. Apalagi berbagai penyakit kritis yang sekarang-sekarang ini muncul bagai menghantui banget, iya nggak, sih?

Tepat seminggu yang lalu baru saja saya kehilangan salah satu keluarga, yaitu adik ipar dari ibu alias tante saya. Almarhumah meninggal dunia karena penyakit diabetes dan komplikasinya. Kami merasa kehilangan, but life must go on. Hal ini menjadi pengingat bagi kami untuk tetap menjaga kesehatan. Bagi keluarga yang memiliki riwayat diabetes pastinya harus lebih waspada.

Menghadapi Penyakit Kritis

Diabetes dan komplikasinya merupakan salah satu penyakit kritis penyebab kematian tertinggi di Indonesia, setelah penyakit jantung, ginjal, kanker dan stroke. Terkadang meski seseorang sudah menjalankan pola hidup sehat masih bisa terkena penyakit kritis yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan genetik.

Jika seseorang terkena penyakit kritis biasanya akan merasa drop yang mengakibatkan penyakitnya lebih sulit untuk diatasi. Selain itu dari pihak keluarga pasti juga akan merasa khawatir, baik secara proses penyembuhan maupun secara finansial. Karena membutuhkan biaya untuk pengobatan, biaya transportasi dan tetap mengeluarkan biaya untuk kehidupan sehari-hari. Siapa pun yang sakit baik bapak sebagai pencari nafkah, ibu sebagai pengatur rumah tangga, maupun anak-anak, kurang lebih akan mempengaruhi kondisi ekonomi sebuah keluarga.

Hari Rabu tanggal 29 Januari 2020 yang lalu saya bersama teman-teman dari Blogger Crony Commuity menghadiri acara talkshow tentang kesehatan di FWD Life – Pacific Century Place Tower. Mengingat semakin banyaknya penyakit kritis saat ini maka sebuah langkah harus diambil untuk menghadapi hal tersebut. Acara ini menghadirkan narasumber Shahnaz Haque, sebagai survival kanker ovarium, beserta dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp. PD-KHOM, dokter spesialis onkologi MRCCC Siloam Hospitals Semanggi.

Dokter Spesialis Onkologi MRCCC Siloam
Hospitals Semanggi, dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp.PD-KHOM; Direktur, Chief of Proposition & Syariah FWD Life, Ade Bungsu; Mada Arya Nugraha; dan Shahnaz Haque dalam acara talkshow FWD Critical Armor.

Pada kesempatan ini Shahnaz Haque berbagi tentang pengalamannya menghadapi kanker ovarium pada tahun 1998, ketika usianya baru 26 tahun dan belum menikah. Sebelumnya ibunda dari Shahnaz telah lebih dahulu menghadap sang Illahi karena penyakit yang sama. Belajar dari pengalaman tersebut Shahnaz dapat menghadapi penyakitnya dengan lebih tenang dan fokus pada proses pengobatan.

Sadar akan buruknya kondisi seseorang yang terlalu takut menghadapi penyakit, Shahnaz berusaha untuk tetap positif thinking dan menjalani hidup ini dengan bahagia. Baginya yang terpenting adalah perasaan tenang pada dirinya akan mempengaruhi perasaan keluarganya saat itu. Sehingga dengan pengobatan yang tepat dan semangat hidup yang tinggi Shahnaz bisa tetap aktif seperti biasanya, sampai saat ini.

Setelah melewati kanker Shahnaz kini menjalani pola hidup sehat karena sel kanker itu sebenarnya nggak bisa dimatikan, melainkan hanya seperti ditidurkan saja. Once kalau ada pemicunya seperti lifestyle yang buruk maka ia bisa aktif kembali. Hal ini dibenarkan oleh dr. Jeffry yang sehari-hari berhadapan dengan pasien kanker sejak tahun 2006.

Saat ini Shahnaz Haque menjadi volunteer mendampingi pasien kanker. Ada pasien yang bisa melewati kankernya dan kembali sehat. Tapi tak jarang Shahnaz harus menyaksikan pasien dengan takdir lain yaitu menghembuskan napas terakhirnya. Satu hal yang ia sadari, bahwa semua ini akan bermuara pada satu titik. Yaitu kerentanan keuangan. Pihak keluarga tentu sudah mengeluarkan biaya yang sangat besar bahkan sampai ada yang menjual harta benda. Dan setelah kepergian orang terkasih, hidup ini harus tetap berlanjut.

FWD Critical Armor

Berangkat dari rasa khawatir yang sering kali dialami oleh banyak orang dalam menghadapi penyakit kritis baik bagi diri sendiri maupun anggota keluarganya, PT FWD Life Indonesia (FWD Life) memahami arti pentingnya rasa aman dalam sebuah keluarga. Aman ketika sehat dan terutama ketika sakit. Untuk itu FWD Life meluncurkan produk asuransi terbarunya di awal tahun 2020 ini yang bernama FWD Critital Armor.

Smash prosesi peluncuran FWD Critical Armor oleh Wakil Direktur Utama FWD Life, Adit Trivedi; Direktur, Chief of Proposition & Syariah FWD Life, Ade Bungsu; dan Chief Agency Officer, Adi Chandra.

FWD Critical Armor adalah produk asuransi yang memberikan perlindungan penyakit kritis kepada nasabah yang terdiri dari 50 penyakit kritis major dan 15 penyakit kritis minor, sehingga nasabah bisa berfokus pada proses pengobatan dan penyembuhan. Dengan perlindungan ini tentunya akan membuat nasabah menjadi lebih tenang dan terbebas dari rasa khawatir.

FWD Critical Armor dilengkapi dengan manfaat pembebasan premi ketika nasabah didiagnosis penyakit kritis, kemudian dapat menjalani pengobatan hingga sehat kembali. Suatu saat jika ternyata penyakit tersebut datang lagi (seperti sel kanker yang aktif kembali) atau didiagnosis penyakit kritis lainnya, nasabah masih bisa meng-klaim hingga 3 kali. Selain itu FWD juga memberikan manfaat meninggal dunia dan pengembalian premi jika sampai usia 80 tahun nasabah alhamdulillah sehat wal afiat. Jika dihitung-hitung, total manfaatnya mencapai 420% dari uang pertanggungan, lho.

Seperti yang disampaikan oleh Bapak Ade Bungsu selaku Direktur, Chief of Proposition & Syariah FWD Life, “FWD Critical Armor melindungi nasabah tidak hanya satu kali, tapi berulang kali. Dengan produk ini, nasabah tidak perlu khawatir selama pemulihan dan dapat fokus untuk sehat kembali. Tidak hanya itu, jika nasabah tidak pernah klaim penyakit kritis major hingga akhir masa perlindungan, premi akan dikembalikan. Jadi, tidak ada lagi yang terbuang percuma,” kata Direktur, Chief of Proposition & Syariah FWD Life, Ade Bungsu.

Wakil Direktur Utama FWD Life, Adit
Trivedi; Chief Marketing Officer FWD Life, Maika Randini; Direktur, Chief of Proposition & Syariah FWD Life, Ade Bungsu; Chief Agency Officer FWD Life, Adi Chandra dalam acara peluncuran FWD Critical Armor.

Wakil Direktur Utama FWD Life, Bapak Adit Trivedi mengatakan “Walaupun kami tidak dapat membantu menyembuhkan penyakit, tapi melalui FWD Critical Armor, kami ingin membantu nasabah beserta keluarga agar dapat tetap optimis dan positif dalam menjalani pengobatan hingga sembuh.”

Shahnaz Haque dan dr. Jeffry sangat menyambut baik produk terbaru dari FWD Life ini, mengingat keduanya sangat akrab dengan penyakit kanker dan mengerti betul kondisi keluarga pasien. Sementara itu, Mada Arya Nugraha selaku konsultan keuangan sekaligus CEO dari Sipundi.id menyarankan agar masyarakat mulai membiasakan diri dengan membeli asuransi kesehatan dan melengkapinya dengan asuransi penyakit kritis. Saat yang tepat untuk membeli asuransi adalah ketika seseorang sudah mampu dalam hal ini memiliki penghasilan, yang besarannya tentu harus disesuaikan dengan kondisi keuangan masing-masing individu atau keluarga.

Saya setuju banget, nih, dengan semua narasumber pada acara ini. Mulai dari cara Shahnaz Haque menyikapi dan menghadapi penyakit kanker yang pernah dialaminya, tentang mempersiapkan diri dengan membeli produk asuransi ketika mampu, juga setuju dengan FWD Critical Armor.

Bagaimana dengan kamu?

Terima kasih FWD Life dan Blogger Crony Community atas kesempatannya mengikuti acara bermanfaat ini.

Thank you Shahnaz for your sharing. You really touched my heart.

Author

Enterprenuer and Crafter Mommy || I have one little kid, I love writing, sewing and photography || dzul.rahmat@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *