Family & Parenting

Ma, Kain Mama Sudah Saya Cuci

kain mama

Angin bertiup pelan, ranting pohon saling bersentuhan, menghasilkan suara alam yang syahdu kala itu. Sinar mentari sore berebutan masuk di antara celah dedaunan dari pohon-pohon rindang. Hangat, menambah kehangatan dari pelukan ibu dan kata-kata bujuk rayunya yang menenangkan. Mungkin usia saya belum genap 5 tahun ketika ibu menggendong saya dalam pelukannya. Entah apa sebabnya, saya merajuk dan menangis kesal sambil menghentakkan kaki yang tanpa alas itu ke bagian belakang pinggang ibu.

kain mama

Tangis saya mulai mereda tapi anak manja ini tak ingin lepas dan selalu menempel bagai getah. Hari itu ibu terlihat cantik memakai kebaya warna hitam bermotif bunga warna merah, dengan bawahan kain batik. Sekali lagi angin bertiup sampai anak rambut ibu menari lembut di bawah sanggul cepolnya. Lalu saya perhatikan ada noda di baju ibu yang berbahan shifon itu. Apakah karena ibu duduk di tanah beralaskan batu bata merah?

“Ma, baju mama kenapa kotor?” tanya saya penasaran. Ibu menjawab, “Kan tadi Eva yang tendang-tendang mama pas lagi nangis.” Oh, ya. Saya lupa. Rupanya saya lah penyebabnya.

Dari jutaan kenangan, entah mengapa penggalan kisah di atas tiba-tiba muncul bagai cerita kemarin sore. Terasa masih segar, seakan saya berada di sana, menyaksikan Eva kecil yang bersedih sedang dihibur oleh ibunya. Pasti sulit membesarkan saya seorang diri, setelah bapak meninggal sejak saya masih bayi. Memori indah ini muncul lagi ketika ibu yang saya sayangi sedang sakit yang teramat sakit. Siapa sangka, 11 hari kemudian ibu pergi menghadap Illahi.

Firasat Itu Memang Nyata Adanya

Setiap kali acara keluarga yang ada photo session-nya, ibu saya selalu bilang “Poto-poto doang nggak pernah dicetak.” Huhu. Awalnya memang karena lupa terus, nggak sempat, lagi bokek dan gitu-gitu lah banyak alasan. Tapi belakangan jujur saja saya takut mau mencetak foto keluarga. Ibu saya sudah tua, usianya 77 tahun dan sudah sering sakit. Maka permintaan mencetak foto adalah sesuatu yang saya hindari. Takut itu menjadi firasat, kalau-kalau ibu mendadak harus pergi untuk selamanya.

Lalu suatu hari ibu harus menjalani pemeriksaan, seperti tes darah dan USG karena ada keluhan sakit di perutnya. Beberapa hari kemudian dokter menjelaskan hasilnya. Saat itu ibu nggak ikut ke dokter karena kondisinya sudah lemah. Ketika diberitahu bahwa ada massa di usus dan livernya, tangan saya bergetar. Dokter memberikan selembar surat lagi agar ibu bisa dibawa ke lab untuk pemeriksaan lebih lanjut. Tepatnya, untuk mengetahui apakah massa tersebut merupakan kanker atau bukan.

Mendengar itu hati saya bertanya-tanya, akankah ibu bisa bertahan lebih lama? Ketika menunggu obat di apotik, diam-diam saya menyusut air mata dengan ujung lengan baju.

Setelah hari itu kondisi ibu kian memburuk. Masa pandemi yang serba ketat protokol kesehatannya serta menghindari diagnosa-diagnosa Covid-19 yang katanya bisa jatuhkan kepada siapa saja, membuat kami sekeluarga maju mundur membawa ibu ke rumah sakit. Ibu sudah tak sanggup lagi beraktivitas. Makan, minum, buang air kecil dan besar, semua dilakukan di tempat tidur.

Karena pipisnya yang sering merembes meski sudah pakai diaper, saya jadi sering pula mengganti alas tidurnya dengan selembar kain. Suatu waktu kain-kain ibu belum kering dicuci lalu saya ambil kain batik yang masih bagus dari lemari ibu. Tahu apa komentarnya? “Eva, kain ini nanti cuci, ya. Jangan dipakai.” Saat itu saya cukup sebal karena ibu terlalu sayang sama barang-barang miliknya. Tapi kemudian kalimat berikutnya membuat kerongkongan saya tercekat. “Kalau mama nggak ada umur, pakai kain ini.”

Sejak hari itu berbagai pertanda berdatangan. Ibu selalu minta dibacakan surat Yasin setiap malam. Bicaranya suka melantur dan sering memanggil almarhumah nenek saya. Saat itu bulan Ramadhan, saya tadarus di dekat tempat tidur ibu. Lalu ibu yang sudah tak mampu membuka mata mencoba meraih tangan saya, kemudian menyentuh Al-Qur’an yang sedang saya baca. Hati saya terenyuh melihat tangan keriput itu memegangi Al-Qur’an dengan penuh rasa rindu.

Kita Tak Akan Pernah Siap

Awal tahun ini keluarga kami dikejutkan dengan kepergian salah satu sepupu saya padahal usianya masih sangat muda. Saat semua orang masih berduka, 4 hari kemudian tante saya (adik iparnya ibu) pun menyusul. Betapa terguncangnya kami semua. Bulan berikutnya abang ipar saya juga meninggal dunia, disusul lagi dengan kepergian tante lainnya.

Dan rupanya kami hanya diizinkan mendampingin ibu sampai hari ke 17 Ramadhan tahun ini. Di hari ke-18 ibu berpulang ke rahmatullah. Meski sudah terpikir dengan kemungkinan terburuk, tetap saja kepergian orang tua adalah sesuatu yang nggak akan bisa kami hadapi dengan mudah.

Ada rasa yang entah apa, sulit diungkapkan. Mungkin rasa sedih, mungkin rasa kehilangan. Tapi belakangan saya tahu itu adalah rasa sesal. Perasaan yang nggak bisa ditawar, banyak penyesalan karena di hari tuanya saya justru menjadi kurang dekat dengan ibu, padahal kami tinggal serumah. Mungkin saya merawat ibu dan berusaha memberikan yang terbaik, tetapi bukan membahagiakannya. Saya juga menyesal mengapa malam itu saya pamit untuk tidur sebentar. Menyesal ini, menyesal itu, menyesal lain-lainnya.

Hanya satu yang menjadi penghiburan bagi saya, bahwa ibu sempat mengucapkan kalimat dzikir sebelum ajalnya tiba. Semoga sekarang ibu telah mendapatkan kebahagiaan yang lain, yang belum pernah saya berikan selama ini.

“Ma, kain mama sudah saya cuci. Semua tersimpan rapi pada tempatnya seperti sedia kala. Selamat jalan, Ma. Semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik untuk Mama.”

kain mama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *