merantau ke jakarta
Travel & Culinary

Si Bungsu yang Ingin Merantau ke Jakarta

Sejak lahir di Kota Tangerang, saya belum pernah pindah tempat tinggal. Rumah yang sekarang saya tempati adalah rumah peninggalan orang tua di mana saya terlahir. Jadi, boro-boro ke pulau seberang, merantau ke Jakarta atau bahkan pindah rumah ke kampung sebelah pun nggak pernah. Paling-paling hanya pindahan kamar saja yang sering terjadi. So, kalau mau cerita soal pengalaman merantau, jujur saja saya nggak punya cerita itu. Sebagai anak bungsu dari single mother, dipastikan saya harus mendampingi ibu hingga saya besar.

Ketika remaja saya bersekolah SMA dan kuliah di Jakarta. Akhirnyaaa. Tapi Tangerang tempat tinggal saya dengan Jakarta itu sangat dekat, gengs, karena saya berada di perbatasan. Hanya butuh waktu 10 menit untuk melewati perbatasan Tangerang-Jakarta. Dan kampus saya, hanya 700 meter dari gapura “Selamat datang di DKI Jakarta”.

Sekecil itu dunia bagi saya. Sementara teman-teman baru di kampus banyak banget yang datang dari luar kota bahkan luar pulau. Saya pengin tahu banget rasanya merantau.

Merantau Jadi Relawan

Tahun 2004 adalah tahunnya Pemilu. Ada senior saya yang lagi cari relawan data entry untuk input data suara pemilihan umum di kantor-kantor Kecamatan. Setelah mendaftar dan diseleksi akhirnya saya terpilih menjadi salah satu relawan yang harus berangkat ke Kantor Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Sumpah, ya, baru dengar namanya saja sudah terasa jauuuuh banget.

Bersama senior lainnya saya survey tempat terlebih dahulu supaya di hari H nggak usah nyari-nyari lagi. Maklum, dulu belum hits aplikasi Maps untuk memandu jalan. Jadi memang butuh waktu khusus untuk survey lokasi biar nggak terlambat di hari penugasan.

Menuju kantor kecamatan tersebut kayaknya horror banget, karena motor teman saya yang kecil banget itu harus berbagi jalan dengan truk dan container besar. Kalau kata Komika Cemen, ibarat balapan sama Transformers!

Kemudian di hari pemilihan, setelah memberikan suara di TPS kami pun berangkat kembali untuk menjalankan tugas. Pekerjaan ditargetkan selesai sore atau malam hari. Di ruangan yang terbatas, saya bersama 7 orang lainnya menginput data pemilih ke dalam sistem yang sudah disediakan. Zaman dulu sistemnya tuh cuma format excel, gitu. Sederhana banget dan sering error. Ini waktu belum ada proses Quick Count seperti Pemilu zaman sekarang.

merantau ke jakarta

Karena keterbatasan sistem, tugas kami nggak selesai dalam sehari. Dan karena jaraknya yang lumayan dengan rumah, kami putuskan untuk menginap di Kantor Kecamatan Cilincing. Saya ingat betul saat itu relawan perempuan tidur di sebuah ruangan aula, beralaskan kardus. Huhu, rasanya sedih pengalaman pertama merantau ini nggak ada persiapan sama sekali.

Nggak ada acara mandi sore dan mandi pagi keesokan harinya karena memang nggak membawa perlengkapan. Sarapan kami lakukan di warung makan terdekat. Teh manis hangat lumayan menyegarkan pagi itu, meski mulut saya rasanya sulit dibuka karena belum gosok gigi. Haha!!!

Di hari kedua ini pun kami masih harus menginput sampai jam 9 malam. OMG, lelahnyaaa. Dan itu belum beres juga. Tapi kami diberikan pilihan, jika ingin selesai sampai di situ silakan saja. Jika ingin kembali lagi besok dipersilakan. Karena besoknya saya ada kuliah, maka saya cukupkan tugas saya sampai di hari kedua saja.

Banyak teman-teman saya yang melanjutkan entry data sampai hari ketiga. Semangat juangnya luar biasa, ya! Alhamdulillah pengalaman ini sangat berharga. Saya bisa belajar mandiri dan bertahan hidup. Haha. Untungnya ketika harus pulang ke Tangerang ada teman yang rumahnya dekat sama saya dan dia dijemput pacarnya naik mobil. Saya pun minta nebeng dan ketiduran selama perjalanan. Ahh, indahnya hidup!

Gitu, deh, pengalaman saya merantau ke Jakarta. Yang dulu rasanya jauh banget, sekarang ke Jakarta Utara sudah terasa dekat berkat TransJakarta. Haha. Dan ini menjadi pengalaman yang terus saya kenang. Karena meski namanya relawan, saya tetap mendapatkan uang tip. Itulah penghasilan pertama dalam seumur hidup saya yang ingin saya bagi dengan ibu. Tapi ibu bilang nggak perlu dibagi, belikan hape bekas saja.

merantau ke jakarta

Dan akhirnya saya pun memiliki handphone pertama di tahun 2004, bersamaan dengan terpilihnya Bapak Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden Republik Indonesia ke-6.

Author

Enterprenuer and Crafter Mommy || I have one little kid, I love writing, sewing and photography || dzul.rahmat@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *