Health

Deteksi Dini Kanker, Upaya Pencegahan Stadium Lanjut

Setiap tanggal 4 Februari dunia memperingati Hari Kanker Sedunia dengan bermacam kegiatan penyuluhan kesehatan. Bukan untuk merayakan, tapi lebih kepada memperingatinya agar masyarakat selalu ingat dan lebih waspada terhadap penyakit tidak menular yang satu ini, terutama untuk melakukan deteksi dini kanker. Dalam sehari ada 1 orang terdiagnosis kanker setiap 2 detik dan 1 orang meninggal dunia akibat kanker setiap 3 detik.

Kanker sendiri merupakan sel ubnormal di dalam tubuh yang dapat merusak sel-sel normal lainnya. Kanker dikenal juga sebagai tumor ganas, yang apabila selnya menembus kapsul tumor maka ia bisa bergerak bebas ke mana saja melalui pembuluh darah. Jika sel kanker berhenti di suatu tempat maka di sana lah ia akan menjadi penyakit. Bisa di kulit, tulang, mata, payudara, paru-paru, ovarium dan masih banyak lagi.

Pria paling sering mengalami kanker paru karena rokok, baik sebagai perokok aktif maupun pasif, juga karena pria lebih sering beraktivitas di luar ruangan yang mana terdapat polusi udara. Selain itu pria juga sering diserang kanker kolorektal, kanker prostat, kanker hati dan nasopharing. Sementara wanita paling banyak mengalami kanker payudara, kanker leher rahim (serviks), kanker kolorektal, kanker ovarium dan kanker paru. Bahkan anak-anak pun bisa terkena kanker, yang biasanya adalah kanker bola mata (Rtinoblastoma) dan kanker darah (Leukemia).

Baca juga : Pengalaman Shahnaz Haque Menghadapi Kanker Ovarium Sebelum Menikah

Menurut data WHO (Globocan 2018) terdapat kasus baru kanker sekitar 348.809 kasus dengan angka kematian mencapai 207.210 di Indonesia. Sementara menurut data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) dana yang dihabiskan untuk pengobatan pasien kanker pada tahun 2018 sebesar 3,4 triliun. Meski angkanya lebih kecil dari dana untuk pasien jantung, tetap saja 3,4 triliun itu fantastis, gengs!

Kanker adalah penyakit yang sangat mengerikan. Angka-angka yang saya sebutkan tadi bisa kejadian segitu banyak karena sering banget pasien kanker terlambat ditangani. Lebih dari 65% pasien datang dalam kondisi stadium lanjut. Maka dari itu Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) berupaya lebih intens menyebarkan informasi tentang kanker salah satunya dengan mengadakan acara Pertemuan Social Media Influencer dalam Rangka Memperingati Hari Kanker Sedunia bersama teman-teman dari Blogger Crony Community pada tanggal 4 Februari 2020 di Manhattan Hotel, Jakarta. Agar kami dapat membantu menyebarkan informasi ini kepada masyarakat luas.

Deteksi Dini Kanker

Deteksi dini kanker masih jarang sekali dilakukan oleh masyarakat Indonesia, termasuk saya sendiri. Rasanya tuh bukan takut sama tes ini itu, tapi justru takut sama hasilnya. Bener nggak, sih? Tapi pas kemarin dijelaskan oleh Direktur P2PTM dr. Cut Putrie Arianie, MHKes, bahwa seseorang dengan kanker yang terdeteksi dini bisa memiliki harapan hidup yang lebih tinggi. Bahkan jika kanker serviks ditemukan dan diobati pada tingkat dini, yaitu pada tahap perubahan sel (displasia) sampai dengan pra kanker, penyakit ini dapat disembuhkan.

deteksi dini kanker
dr. Cut Putrie Arianie, MHKes bersama dr. Aldrin Neilwan Panca Putra, Sp. Ak

dr. Aldrin Neilwan Panca Putra, Sp. Ak menyarankan bagi wanita yang sudah menikah atau sudah pernah melakukan aktivitas seksual untuk melakukan deteksi dini setidaknya setiap 5 tahun sekali. Kanker serviks bisa diidentifikasi dengan Papsmear dan IVA Test. Khusus IVA Test bisa dilakukan di Puskesmas secara gratis. Bagi anak-anak perempuan usia remaja (11-14 tahun) bisa diberikan vaksin HPV untuk menghindari terkena kanker serviks.

Kanker payudara bisa dideteksi dini dengan melakukan Pemersiksaan Payudara Klinis (SADANIS) oleh tenaga kesehatan. Nantinya petugas akan mengajarkan cara Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI). Selain itu bisa juga dilakukan pemeriksaan payudara dengan mamografi. Saat melakukan SADARI perhatikan apakah ada benjolan di payudara, adanya perubahan tekstur kulit misalnya mengeras seperti kulit jeruk, adanya luka yang tak kunjung sembuh, keluar cairan dari putting dan terdapat cekungan atau tarikan di kulit payudara.

dr. Aldrin Neilwan Panca Putra, Sp. Ak

Untuk kanker paru, kita bisa memperhatikan gejala awal yang mungkin timbul. Yaitu : batuk dengan atau tanpa dahak, batuk darah, sesak napas, suara serak, sakit dada, sulit menelan, terdapat benjolan di pangkal lehar serta sembah pada muka dan lehar yang terkadang disertai dengan rasanya nyeri.

Tentunya masih banyak banget gejala dari jenis kanker lainnya. Yang harus diingat jika terjadi sesuatu yang sekiranya nggak normal pada tubuh kita segeralah periksakan diri ke dokter. Karena lebih cepat terdeteksi maka kanker akan lebih mudah diobati.

Baca juga : Tentang Kanker Serviks dan Pengalaman Pasien yang Berhasil Sembuh

Pencegahan Faktor Risiko Kanker

Kita semua pasti nggak mau sakit, apalagi sampai terkena penyakit kanker, kan? Selain deteksi dini kita pun harus melakukan upaya pencegahan sebelum penyakit itu datang. Yaitu dengan memahami pencegahan faktor risiko kanker. Jadi, kita semua berisiko kanker jika pola hidup yang dijalani kurang baik. Pola hidup seperti apa yang menyebabkan kanker? Merokok, begadang, stress, makanan kurang nutrisi, terlalu banyak dan sering konsumsi junk food dan masih banyak lagi.

Ada 3 faktor risiko yang nggak bisa diubah lagi, yaitu : usia, jenis kelamin dan genetik. Selain dari itu kita masih bisa mengupayakan kualitas hidup yang lebih baik agar terhindar dari penyakit kanker. Coba bayangkan kalau dana 3,4 triliun itu dialokasikan ke bidang lain? Misalnya pendidikan atau untuk mengentaskan kemiskinan. Wah, rasanya jadi kepengin sehat sampai tua, ya?

Prof. Dr. dr. Soehartati A Gondhowiardjo, Sp. Rad(K)OnkRad, dokter spesialis kanker (Onkologi) di RS Cipto Mangunkusumo memberikan data bahawa pada tahun 1990 kanker menempati urutan ke-8 sebagai penyakit paling membunuh di dunia. Sekarang? Naik drastis ke urutan ke-2 pada tahun 2017. Salah satu penyebabnya adalah gaya hidup kita yang semakin serba instan. dr. Soehartati juga mengemukakan metode pengobatan kanker yang dijalani masyarakat saat ini.

Metode Pengobatan Kanker

Di Indonesia ada 3 macam pengobatan kanker yang umumnya dilakukan, yaitu : pengobatan yang sudah terbukti, pengobatan yang masih mengumpulkan bukti dan pengobatan non medis yang masih diragukan keberhasilannya.

Pengobatan yang sudah terbukti adalah pengobatan yang bisa diprediksi tingkat keberhasilannya dan nggak membahayakan. Seperti bedah, kemoterapi dan radioterapi. Sedangkan pengobatan yang masih mengumpulkan bukti-bukti adalah pengobatan yang sudah pernah berhasil mengatasi kanker namun masih dikaji lebih lanjut, seperti : nanoparticle, cyro, HIFU dan radioimunotherapy.

Orang Indonesia juga nampaknya lebih sering melakukan pengobatan alternatif seperti obat-obatan herbal non medis. Menurut dr. Soehartati metode ini sering kali membuat pasien harus mengeluarkan biaya lebih banyak, karena sudah berobat alternatif tetapi tak kunjung sembuh dan akhirnya tetap memilih jalur medis. Dengan demikian biaya pengobatan menjadi dua kali lipat.

Oh ya, gengs, sekarang di RS Cipto Mangunkusumo sudah ada Pusat Pelayanan Kanker Terpadu yang baru saja diresmikan tanggal 4 Februari 2020 sebelum acara Pertemuan Social Media Influencer. Jadi di Pusat Pelayanan Terpadu ini bisa dilayani untuk semua jenis kanker, sudah nggak terpencar-pencar lagi tempatnya seperti sebelumnya. Untuk memudahkan pasien dalam berobat. Dan peralatan yang digunakan pun merupakan peralatan medis dengan teknologi terkini. Semoga dengan adanya Pusat Pelayanan Kanker Terpadu ini bisa membantu lebih banyak paseien kanker, ya.

Ayo, gengs, kita ubah gaya hidup mulai sekarang. Karena lebih sehat itu pasti lebih baik.

blogger crony community
Sehat selalu bersama teman-teman Blogger Crony Community

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *