karnaval seru
Tips & Review

Cara Meningkatkan Daya Ingat

Gengs, pernah enggak sih, ketemu sama teman lama—lama banget misalnya teman SD—terus dia menyapa, memanggil namamu dengan excited, sementara kamu lupa sama namanya. Hayooo, enggak enak banget kan rasanya? Apakah kita ini dulunya lebih populer apa gimana, sih? Atau jangan-jangan teman kita ini ingatannya setajam silet, sedangkan kita nih, termasuk golongan yang butuh meningkatkan daya ingat, gitu?

Tapi kalau boleh membela diri, nih, wajar lah kita lupa nama teman, nama tempat atau kejadian yang sudah lama sekali berlalu. Apalagi kalau tempat dan kejadiannya enggak terlalu penting, atau teman lama ini yang dulunya memang jarang main bareng sama kita. Paling kita ingatnya kalau enggak teman dekat, ya, gebetan. Eheuuu. Jadinya enggak terasa tahu-tahu ingatan kita menurun, karena belum nemuin sesuatu yang perlu diingat-ingat banget. Masa iya kita mau mikirin teman kita terus biar enggak pernah lupa. Ya kaliii?

Waktu tahun lalu saya dan teman-teman mengadakan acara reuni, seperti pertemanan normal pada umumnya kami mulai bergabung di sebuah whatsapp group untuk memudahkan koordinasi. Dari 40-an alumni kelas Akuntansi-1, yang berhasil masuk grup ada 30 orang. Alhamdulillah sih masih ingat sama 30 orang ini. Tapi jujur saja sebelum kumpul semua itu saya blank, cuma ingat teman sebangku, 2 teman yang duduk di belakang saya, 2 teman yang selalu paling berisik di kelas, 2 teman yang paling pintar, 2 teman yang selalu keep in touch dan 1 teman yang paling ngeselin. Selebihnya, saya enggak ingat sama sekali hahaha.

Yang ingat nama teman-teman ini adalah teman saya yang paling berisik, inisial: Coti. Hapal loh dia semua teman sekelas, kecuali 1 orang yang namanya Heru. LOL. Terus iseng nih, saya chat sama Coti “Kok bisa sih masih ingat nama teman-teman?”. Kata dia, “Mungkin karena dulu gue selalu pegang absensi.” Whaaa iya, benar jugaaa. Pas saya minta tips-nya cara meningkatkan daya ingat, dia jawab “Googling aja, banyak infonya.” Hahaha.

Cara Meningkatkan Daya Ingat Secara Alami

Katanya sih ada vitamin atau suplemen apa gitu yang bisa bikin daya ingat jadi bagus dan meningkatkan konsentrasi. Tapi enggak pernah nyobain satu pun. Yang namanya mengingat itu kan menggunakan fungsi otak ya, mungkin sebaiknya otaknya dilatih terus saja.

Kalau cari-cari info di internet (seperti sarannya Ibu Coti) tentang caranya meningkatkan daya ingat, tipsnya rata-rata adalah konsumsi makanan bergizi, menyempatkan olahraga, tidur yang cukup dan hal lain yang ada kaitannya dengan hidup sehat. Semakin kita sehat, kerja otak juga jadi semakin baik. Selanjutnya daya ingat pun akan meningkat apalagi ada penelitiannya bahwa seseorang yang cukup tidur akan memiliki daya ingat yang lebih baik.

Jadi apakah saya kurang tidur? Tergolong iya, sih. That’s why ingatan saya agak-agak menguap seiring bertambah umur. Haduh, padahal umur juga belum setua apa, gitu.

Mencatat Apa yang Diingat

Setelah setengah memaksa akhirnya Coti mau berbagi tips, nih. Jadi dia itu orangnya senang membaca dan suka menulis. Menurutnya apa yang ditulis otomatis akan terekam di dalam otak. Berbeda halnya jika hanya mendengarkan, yang mungkin bisa diingat sebentar, bukan selamanya. Katanya dia suka sesekali menulis nama teman-teman sambil membayangkan wajahnya. Makanya sampai sekarang masih ingat terus. Good job, Coti!

Well, saya juga memiliki pengalaman yang sama dengan metode ini. Waktu sekolah setiap mau ujian saya yang belajarnya sistem kebut semalam ini membaca buku pelajaran kemudian mencatat apa yang sudah saya baca di buku atau kertas. Biasanya sih di kertas kecil-kecil, supaya gampang kalau mau baca-baca ulang ketika sedang dalam perjalanan ke sekolah naik angkutan umum. Meskipun catatannya mirip dengan contekan alhamdulillah nggak pernah digunakan untuk mencontek. Cukup sebagai ringkasan buku pelajaran saja.

Sekarang ngeblog juga sebagai bagian dari rekam jejak, biar kalau ada cerita-cerita yang nggak boleh terlupakan bisa dibaca lagi di blog ini. Tapi sebelum ketik-ketik di blog, saya tetap menuliskan poin-poinnya terlebih dahulu di buku tulis. Karena bagi saya menulis dengan tangan itu rasanya lebih meninggalkan memori.

Hindari Makanan dan Minuman yang Terlalu Manis

Ternyata makanan atau minuman yang terlalu manis dapat merusak memori, gengs. Di Berlin pernah dilakukan penelitian oleh Charite University Medical Center terhadap orang-orang yang memiliki kadar gula darah tinggi. Mereka dengan kadar gula darah yang lebih rendah dapat menyelesaikan serangkaian tes memori dengan lebih baik (dilansir oleh jurnal Neurology melalui geniusbeauty.com).

Nah, bagaimana nih sama buibu yang masih suka jajan boba atau jajajan lainnya yang manis-manis? Haha. Boleh saja asal jangan berlebihan. Kalau mau kadar gula darahnya rendah yang akhirnya dapat meningkatkan daya ingat, cobalah dikurangi kalau belum bisa meninggalkannya sama sekali. Semangaaat!

Bersosialisasi dan Berani Tampil

Senang bersosialisasi bisa menjadi media untuk mempertajam ingatan kita. Karena dengan bersosialisasi kita akan berkenalan dengan orang-orang baru, mau nggak mau kita harus mengingat nama-nama mereka, ingat apa yang pernah dibicarakan oleh teman-teman kita, ingat tips apa yang pernah kita dapat dari mereka dan sebagainya.

Coti juga menyarankan agar berani tampil di depan umum. Orang yang pemalu kayak saya, nih, harus dibiasakan banget kayaknya, ya. Dari sini nantinya akan terbentuk karakter dan mental pemberani. Tapi ya jangan terlalu dipaksakan. Pelan-pelan saja, asal tetap berusaha. Cuss.

Mengingat dengan Mengelompokkan Sesuatu

Kita juga bisa mengingat dengan mengelompokkan sesuatu berdasarkan warna, wangi, tempat, waktu, kejadian dan sebagainya. Misalnya, nih, saya ingat pernah bertemu dengan si A tiga kali. Yang pertama dia pakai baju biru, kedua pakai topi merah di supermarket dan ketiga saat malam tahun baru.

Metode ini bisa juga diajarkan kepada anak-anak, lho. Biar anak ingat apa saja warna dari mainannya, jadi bisa tahu sewaktu-waktu mainannya kurang lengkap bisa dicari, deh. Sama halnya dengan nama tempat dan kejadian, sambil mengajarkannya cara bercerita dari pengalamannya itu.

Hindari Maksiat

Terakhir, nih, pesan dari Ibu Coti adalah agar kita menghindari maksiat. Hayolooooh. Menurut pengalamannya yang anak Madrasah Tsanawiyah (setara SMP), dulu hapalannya bagus. Begitu suka sama cowok, katanya, itu hapalan perlahan-lahan luntur dan tergantikan dengan memorinya tentang gebetan. LOL.

Sebagai referensi kita bisa lihat, ya, pada dalil berikut ini.

Imam Syafi’i pernah berkata,“Aku pernah mengadukan kepada Waki’ (guru) tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (I’anatuth Tholibin, 2: 190)

Begitu, gengs. Plis banget jangan bilang saya sok religius, yak. Hanya memberikan referensi dari apa yang dikatakan oleh Ibu Coti. Dan memang benar, sih. Haha.

Semoga tulisan kali ini bermanfaat, ya. Buat saya sih bermanfaat banget. Terima kasih Coti yang baik hati banget mau jadi narasumber. Don’t forget me, ok?

Mengingatlah, untuk bisa bercerita di kemudian hari :)

Author

Enterprenuer and Crafter Mommy || I have one little kid, I love writing, sewing and photography || dzul.rahmat@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *