belajar dari dasar
Hobby & Interest

Belajar dari Dasar Lagi, Kenapa Nggak?

“Mengapa kita harus menuntut ilmu sampai ke negeri Cina’? Karena cita-cita itu digantungkannya harus setinggi langit.” kata saya dalam kalimat penutup farewell email tujuh tahun lalu. Saya meninggalkan perusahaan yang saya anggap seperti sekolah itu dan pamit untuk pindah ke sekolah yang baru, demi meraih mimpi saya yang juga baru.

Dipikir-pikir lucu juga, kalimat itu keluar dari seseorang yang dulunya sering mengabaikan waktu untuk belajar. Seiring bertambah usia saya pun menyadari bahwa dalam hidup ini kita belajar setiap hari, setiap saat. Bukan hanya dari bangku sekolah, tetapi dari hidup itu sendiri. Bukan selalu dari orang-orang hebat, tetapi bisa dari siapa saja. Bisa jadi kita belajar dari orang-orang terdekat atau bisa juga dari seorang yang bahkan nggak kita kenal.

Ada sensasi yang berbeda antara mempelajari sesuatu yang baru dengan memperdalam ilmu yang sudah dimiliki. Ketika mendapat ilmu baru rasanya menggebu-gebu pengin segera bisa praktik. Siang malam belajar biar mahir. Eeeh, begitu sudah bisa apa yang terjadi? Muncul rasa sombong di dalam hati yang akhirnya menyepelekan ilmu yang sama tetapi berasal dari orang yang berbeda.

Bukan, ini bukan ngomongin kamu, kok! Tapi lagi ngomongin diri sendiri. Haha.

Jadi saya tuh pernah kursus menjahit pas dulu habis resign dari kantor. Lalu iseng join di grup belajar menjahit dan craft di facebook. Dari sini terbentuk lah sebuah grup belajar. Sesekali saya ikutan belajar bareng kalau waktunya pas. Ada satu mentor yang ngajarin, peserta bawa bahan dan peralatan sendiri-sendiri dan bayar seikhlasnya. Padahal ini gurunya datang jauh-jauh dari Bekasi. Masya Allah beliau sabaaar banget dan kami diajarin dari dasar.

Buat saya yang sudah pernah belajar di lembaga kursus, nggak ada pilihan selain mengikuti teman-teman lainnya dari dasar juga. Karena grup belajar ini nggak ada tingkatannya, semua sama. Nggak tahunya dengan belajar dari awal lagi saya mendapatkan banyak sekali ilmu yang dulu nggak saya dapatkan di tempat kursus.

Metode yang diajarkan sedikit berbeda tetapi tujuannya sama. Contohnya saat membuat pola berbeda cara dan tahapan menggambarnya. Tetapi ketika dibandingkan hasilnya ya mirip-mirip saja. Bahkan di grup belajar ini kami diberikan cara yang lebih mudah.

Selain mentor yang mengajarkan sepenuh hati, saya juga belajar banyak dari peserta lainnya. Semua ibu-ibu berusia di atas 40 tahun, bahkan ada yang sudah berusia 60 tahun pula. Waktu itu saya yang paling muda sendiri dan dipanggil “Neng”. Anak saya beberapa kali ikut ke tempat belajar karena di rumah nggak ada yang jaga. Sementara yang lain anaknya sudah pada remaja, jadi kalau pas Hammam lagi ikutan mereka kayak lagi momong cucu. Haha.

Bukan cuma ilmu menjahit yang saya dapat dari kelompok ini. Tapi juga berbagi resep masakan, tips parenting hingga menjaga hubungan sama pasangan biar langgeng. Eeeaaa.

Saya salut banget sama teman-teman ini, di usia yang sudah nggak muda lagi tetapi berusaha untuk tetap produktif. Ada ibu yang belajar menjahit karena ingin punya keahlian dan bisa menghasilkan uang dari itu. Ada juga yang sudah punya banyak keahlian tapi masih mau belajar menjahit. Namanya Ibu Heny, yang sudah oma-oma. Paling sering kami belajar di rumah Bu Heny ini. Beliau pandai membuat kue dan bisa merias pengantin.

Lain lagi dengan Ibu Tiara. Ini tipe nyonya kaya gitu, tapi sungguh humble dan semangatnya luar biasa. Masa yaaa, waktu belum bisa menggunakan mesin jahit, beliau bikin baju sampai jadi dengan jahit jelujur pakai jarum tangan. Duh saya terharu banget melihat hasilnya yang kurang dipasang retsleting itu. Keren banget! Saya mah nggak ada apa-apanya.

Hiks, jadi kangen sama ibu-ibu ini. Gara-gara pandemi kami pun libur dulu belajarnya sampai waktu yang belum ditentukan.

The lesson learned bahwa sekecil apa pun ilmu yang kita dapat selalu ada manfaatnya. Mau itu datangnya dari siapa saja, kita harus menghargainya. Mau dari tempat yang paling dekat, hingga ke negeri Cina, selalu ingat ungkapan terkenal dari pengusaha sukses almarhum Bob Sadino “Ibarat gelas, jika bertemu dengan orang lain, kosongkan dulu gelasmu”.

Yes, karena gelas ilmu yang sudah penuh nggak akan bisa menerima ilmu baru kecuali jika dikosongkan isinya terlebih dahulu. Belajar dari awal lagi bukanlah sesuatu yang sia-sia. Justru akan mendatangkan pengalaman yang berbeda. Dan pengalaman adalah guru terbaik.

Kalian pernah mengalami hal yang sama dengan saya, nggak, sih? Share, ya, di kolom komentar.

Thank for reading, see you next story 💕

Author

Enterprenuer and Crafter Mommy || I have one little kid, I love writing, sewing and photography || dzul.rahmat@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *