wisat di kupang

Wisata di Kupang Ala Liburan Musim Panas

Summer vacation. Ha! Anggap saja di penghujung bulan Agustus 2019 kemarin saya menjalani liburan musim panas dengan mengunjungi beberapa tempat wisata di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ide menyelipkan istilah “Liburan Musim Panas” pada tulisan ini bermula ketika supir sekaligus guide yang membawa saya mengelilingi Kota Kupang bercerita, bahwa ada kalanya suhu udara di Kupang sangat panas mencapai 38 derajat dan harus meliburkan kegiatan sekolah selama 1 minggu. Anyway tulisan ini bakalan panjang banget, semoga betah yaaa 😆.

Di belahan utara bumi, musim panas dimulai sekitar tanggal 21 Juni hingga 23 September, sementara di belahan selatan bumi musim panas dimulai sekitar tanggal 21 Desember hingga 21 Maret.

Wikipedia

Malam itu saya bersiap ke Bandara Soekarno Hatta, dengan perasaan cukup melow karena harus meninggalkan Hammam selama beberapa hari. Apalagi dirinya sempat mengira akan ikut ke bandara, padahal cuma mengantar sampai pintu GOCAR saja. Hiks, sediiiih. Untuk penerbangan pukul 02.30 WIB saya termasuk yang berangkat paling awal. Karena ingin berangkat disaat si kecil masih melek, jadi bisa pamitan dengan seksama dan nggak akan bikin dia nyariin saya esok paginya.

terminal 2 bandara soekarno hatta
Jam 23.30 WIB di Bandara Soekarno Hatta

Ini adalah kunjungan pertama saya ke Kupang bersama teman-teman baru yaitu Mbak Dita, Mbak Elly dan Mbak Yuki. Dari Kupang nanti kami akan melanjutkan trip ke Sumba Barat Daya. Rasanya agak nervous entah mengapa, sampai saya merasa nggak enak badan. Padahal ketika sudah bertemu dengan teman-teman seperjalanan saya langsung merasa baik-baik saja. Dini hari itu saya merasa ngantuk, sangat ngantuk hingga mata ini sudah terpejam bahkan sebelum pesawat take off . Saya membaca do’a naik kendaraan sekaligus do’a tidur sebelum pesawat Batik Air membawa kami terbang menembus malam.

Jam 7 pagi WITA, semilir angin sejuk seolah menyambut kedatangan kami berempat. Seorang tour guide berbaju biru sudah menunggu rombongan cewek-cewek hits Jakarta ini di depan pintu kedatangan Bandara El Tari Kupang. Dengan menumpang mobil Avanza (eh, atau Innova ya?) kami langsung menuju ke sebuah kedai nasi kuning untuk sarapan. Dengan alasan masih mengantuk saya enggan sekali mengeluarkan smartphone apalagi kamera untuk mengambil gambar makanannya.

wisata di kupang
Disambut oleh birunya langit Kupang

Maaf kalau di sini kalian harus membayangkan sendiri betapa nikmatnya sarapan pagi itu yang terdiri dari sepiring nasi kuning yang lezat, dikelilingi dengan tempe orek renyah, ati-ampela balado yang pedasnya lumayan serta bakwan jagung yang sangat gurih. Ssrrrlllp. Hanya saja di kedai tersebut nggak menyediakan teh hangat. Jadilah sepagi itu minum teh kotak dingin. But it’s ok karena makanannya enak banget.

Kami hanya punya satu hari saja di Kupang, maka memanfaatkan waktu sebaik-baiknya adalah kunci. Selesai sarapan kami langsung menuju Sotis Hotel untuk menitipkan koper serta berganti pakaian yang paling nyaman untuk bermain air. Aduh, main air?? Saya nggak yakin bakal ikut nyebur atau nggak. Jadi saya pakai baju yang bahannya ringan saja biar cepat kering kalau harus basah-basahan.

Oh ya, tips sebelum trip Kupang adalah : jangan pakai baju warna mencolok misalnya merah. Karena di sini panas maka warna terang bakal bikin silau meeeen. Better pakai baju warna kalem, fotonya juga bakal lebih tsakep menurut saya. Ok, cuss.

Destinasi 1 : Goa Kristal

Destinasi wisata di Kupang yang pertama kali kami kunjungi adalah Goa Kristal yang bisa ditempuh sekitar 45 menit dari bandara. Saya nggak sempat browsing tentang goa ini, jadi yang ada dalam bayangan saya ya hanya sebuah lubang bernama goa. Haha. Ternyata tempat ini sangat lucu. Kenapa?

Letaknya kayak bukan di sebuah tempat wisata gitu, lho. Supir kami yang bernama Pak Dedy memarkir mobil di depan rumah warga. Di samping rumah itu ada sebidang tanah yang ditumbuhi pepohonan, salah satu pohon diberi tanda panah bertuliskan “Goa Kristal”. Kami ikuti petunjuk tersebut, diawali dengan Bismillaah kemudian menyusuri jalan berbatu yang disekitarnya terdapat semak-semak. Saya kok agak takut, ya.

Tapi belum ada 2 menit berjalan kaki kami sudah sampai di depan gerbang Goa Kristal. Rasanya tuh kayak baru saja melewati lorong waktu, barusan masih di kota sekarang sudah di depan goa. Hahahaha.

wisata di kupang
Goa Kristal ada di dalam sana.

Yang lucunya lagi, gerbangnya ini terkunci. Tapi ada sebilah seng di samping pintunya dan tertulis di sana 3 deret nomor telepon. Mbak Elly mencoba menghubungi nomor tersebut dan si pemilik telepon berkata akan tiba di lokasi dalam 10 menit. Sebagai kaum milenial yang waktu menunggunya dihabiskan untuk berfoto dan video-an, rasanya sungguh absurd ketika di rekaman instastory terdengar suara marching band. Semacam hoax nggak, sih? Kok mau masuk goa tapi masih ada suara musik yang berasal dari kota. LOL.

wisata di kupang
Gerbangnya hanya seperti ini, gengs.

Sesuai waktu yang dijanjikan seseorang yang katanya adalah pemilik Goa Kristal ini datang membukakan pintu agar kami bisa masuk. Sang pemilik ini juga yang selanjutnya menjadi guide kami selama berada di dalam goa. Sebut saja namanya Yanto.

Goa Kristal adalah goa milik keluarga Pak Yanto sejak 7 generasi yang lalu. Sebelumnya goa ini dibuka untuk umum tetapi karena banyak oknum yang menyalahgunakan tempat ini seperti merusak, mengotori dan hal-hal aneh lainnya maka Pak Yanto menutupnya hingga sekarang. Hanya mereka yang menghubungi nomor di seng tadi yang bisa masuk ke dalam.

Jika dilihat dari luar Goa Kristal kurang terlihat seperti goa, lebih terlihat seperti bebatuan saja. Karena letak goanya menurun ke bawah yang mana di dasarnya terdapat kolam yang airnya berasal dari laut. Lalu apakah saya berani untuk masuk? Tentu saja nggak!!

wisata di kupang
Bentuknya begini, jadi kalau dari jauh kurang kelihatan goa-nya kaaan.

Aseliii itu gelap banget dan sungguh terjal. Nggak kepikiran sama sekali bagaimana caranya untuk turun ke bawah dengan kondisi bebatuan yang kelihatannya licin. Pak Yanto menerangi goa dengan senter yang berasal dari handphone dan mulai terlihatlah keindahan sebuah danau kecil di dalam goa tersebut. Airnya yang bening memperlihatkan bebatuan hingga ke dasar dan tingkat kedalaman menghasilkan warna yang berbeda-beda. Saya tertegun sebentar.

wisata di kupang
Kalau dilihat dari atas nampak sempit padahal aslinya lebih lega, kok.

Pak Yanto dengan sigapnya turun dan dalam hitungan detik sudah berada di dekat air. Saya melongo dibuatnya. Yuki yang nampaknya paling suka tantangan dibanding 3 orang lainnya langsung excited. Emang dasar kerjaannya sebagai influencer akhirnya saya pun ter-influence untuk turun sambil bibir ini nggak berhenti merapalkan doa. Alhamdulillah Pak Yanto selalu membimbing kami untuk melalui batu-batu yang tepat untuk dijejak demi keselamatan. Beliau juga yang merekomendasikan spot yang bagus jika ingin berfoto.

wisata di kupang
Pakai lensa fix 50 mm f1.8 biar dapat lebih banyak cahaya, tapi hasil fotonya jadi sempit begini. Maaf ya karena di dalam itu gelapnya sungguh terrrlaaaluh.

Tadinya saya mengharapkan adanya sinar matahari yang bisa masuk hingga ke dasar. Tapi di mulut goa ada batu yang sangat besar sehingga menghalangi dan nggak mungkin juga batunya dipindah. Jadi untuk bisa berfoto dengan cahaya yang cukup pengunjung bisa menyewa senter. Pak Yanto menggunakan senter diving yang terangnya pakai banget. Guide yang kadang suka melucu ini cukup mengerti photo lighting sehingga kita tinggal pose saja.

wisata di kupang
Cakep yaaaa (airnya). Jadi itu airnya sengaja diberi sedikit riak, soalnya kalau nggak gitu cuma kelihatan batu-batu saja saking beningnya. Foto diambil oleh @ellynurul

Air di dalam Goa Kristal merupakan air payau yang sangat sejuk. Kebersihannya yang masih terjaga bisa dilihat dari airnya yang sungguh jernih. Kedalaman danau ini mencapai 9 meter, semakin ke kanan semakin dalam dan bisa tembus hingga ke laut. Pak Yanto dan timnya pernah melakukan diving hingga tembusan tersebut, jaraknya sekitar 1 km dari goa dan ditempuh selama 4 jam dengan menggunakan 3 tabung udara. Meski jalurnya sudah pernah dilewati Pak Yanto nggak akan mengizinkan pengunjung untuk melakukan hal yang sama karena terlalu berbahaya. Jadi kalian yang suka diving nggak perlu penasaran, ya.

Menurut Pak Yanto tempat wisata ini cukup ramai di kala weekend dan musim liburan. Bukan hanya penduduk lokal dan pelancong domestik, sering kali Goa Kristal kedatangan tamu asing dari berbagai negara. Untuk sebuah objek wisata di Kupang yang sudah dikenal secara internasional saya agak menyayangkan sih bahwa tempat ini masih kurang fasilitas seperti toilet dan kamar ganti. Pak Yanto bilang dulu sempat ada kamar ganti tapi karena terjadi kebakaran tahun lalu maka fasilitas tersebut pun binasa dan hingga kini belum dibangun ulang. Mungkin karena dikelola secara pribadi dan tiket masuk ke Goa Kristal ini hanya Rp. 5.000 kali ya makanya fasilitasnya menjadi kurang memadai.

Jam 11-an akhirnya Goa Kristal kedatangan pengunjung lain yang menunggu giliran untuk mengeksplor, maka kami pamit undur diri. Saat menuju pintu keluar (pintu yang sama dengan pintu masuk) saya baru menyadari akan banyaknya sampah plastik bekas jajanan di sekitar situ. Dan memang nggak ada tempat sampah juga, sih. Satu-satunya yang diberi tanda tempat sampah adalah sebuah tempat yang nggak ada bak sampahnya. Entahlah, karena nggak punya petugas kebersihan atau bagaimana. Pada akhirnya sampah di tempat tersebut pun berpindah ke tempat lain karena terbawa oleh angin.

Destinasi 2 : Air Terjun Oenesu

Ok, let’s go ke tempat wisata di Kupang yang kedua yuuuk. Liburan kali ini benar-benar sesuai tema musim panas karena mainnya ke tempat-tempat yang banyak air terus. Air Terjun Oenesu, begitulah namanya. Butuh waktu 30 menit untuk sampai ke air terjun ini jika berangkat dari destinasi sebelumnya Goa Kristal. Atau jika ditempuh dari Kota Kupang jaraknya sekitar 20 km. Karena di Kupang nggak ada macet jadi jarak segitu yaa sebentar lah, nggak akan bikin ketiduran di perjalanan :).

Masya Allah di tempat yang panas seperti Kupang Allah menciptakan air terjun cantik, salah satunya air terjun 4 tingkat di kelurahan Oenesu, Kupang Barat. Saat kami tiba sudah ada pengunjung lain yang datang menggunakan bus kecil. Tapi itupun mereka sudah selesai berwisata dan sedang bersiap untuk pergi. Jadi dipastikan air terjun Oenesu kini menjadi milik kami berempat. Hasek!

wisata di kupang
wisata di kupang

Memasuki kawasan air terjun ini sudah langsung terdengar gemuruh air yang jatuh dari bagian teratas. Untuk mencapai sebuah sungai di bawah sana kami berjalan menyusuri anak tangga yang di kiri-kanannya terdapat banyak pohon-pohon besar dan tinggi. Banyaknya bebatuan di sekitar sungai membuat saya dan teman-teman bebas pilih tempat duduk, asal bersih dan nggak licin. Yang paling enak sih duduk di dekat air terjun tingkat kedua atau ketiga ini.

wisata di kupang

Air di sini lebih sejuuuk dibandingkan dengan yang ada di Goa Kristal. Batu di dasar sungai yang berlumut menjadikan airnya seolah berwarna hijau. Pengunjung bisa bermain air atau berenang di bawah air terjun dengan suasana tenang, damai dan tentunya private karena nggak ada pengunjung lain lagi. Mbak Dita dan Yuki memutuskan untuk berenang, sementara saya dan Mbak Elly jadi tim dokumentasi.

wisata di kupang
Bidadari milenial

Di tempat ini bisa terdengar jelas suara burung-burung yang hinggap di pohon. Anginnya yang sepoi-sepoi seolah menimbulkan rasa kantuk, nyatanya memang saya baru tidur 2 jam di pesawat. Selama 1,5 jam berada di air terjun Oenesu saya manfaatkan untuk menikmati indahnya alam di tengah berjalannya waktu yang terasa sangat lambat. Kemudian teringat sebuah kalimat di novel Perahu Kertas karya Dewi Lestari yang bunyinya kira-kira : di Jakarta waktu bagai berlari, di sini waktu seolah menetes.

Hujan yang belum turun sampai bulan November mendatang menjadikan volume air terjun nggak sebanyak yang saya perkirakan. Jatunya air nggak terlalu indah untuk difoto, karena jika debit airnya tinggi harusnya bisa kelihatan arusnya dari atas sampai bawah. Ini juga yang menjadikan sekitar air terjun Oenesu terlihat agak kotor dengan jatuhnya daun-daun yang nggak bisa langsung tersapu oleh air dan justru menggenang di banyak tempat.

wisata di kupang

Saya kurang tahu apakah di hari libur ada lebih banyak wisatawan yang datang atau tetap sepi dan sedamai ini. Sebab nggak ada orang atau petugas yang bisa ditanya-tanya selain petugas parkir di pintu masuknya. Di sini juga sama sekali nggak ada penjual makanan, padahal sudah lewat tengah hari dan saatnya perut ini di isi. Jadi kami pun berniat melanjutkan perjalanan sambil mencari makan.

Destinasi 3 : Pantai Tablolong

Tujuan berikutnya adalah Pantai Tablolong yang masih terletak di kecamatan Kupang Barat. Dari Goa Kristal butuh waktu 50 menit untuk tiba di pantai berpasir putih ini. Karena memang nggak ada macet sama sekali dan kondisi jalan yang naik turun berbelok serta lumayan banyak lubang menjadikan perjalanan kali ini terasa sangat lama.

Matahari sedang cetar-cetarnya ketika dari kejauhan nampak garis pantai dan birunya laut. Jalanan pun berubah bentuk menjadi jalan berbatu putih, tandanya sebentar lagi tiba di kawasan Pantai Tablolong yang kayak-kayaknya berada paling ujung sekali.

wisata di kupang
sudah terlihat jalan berbatunya.

Angin kencang bertiup, kerudung saya serasa ingin terbang bebas diiringi suara gesekan ranting dari pepohonan dan umbul-umbul hiasan tujuhbelasan yang saling berkelebat di sisi saung pantai. Kami memilih duduk di salah satu saung terbuka. Mungkin karena sudah terlalu senang kami nggak menyadari ada saung lain yang lebih tertutup dan lebih aman dari terjangan angin.

Pantai Tablolong sangat sangat indah. Pasirnya yang putih dan halus, pantainya yang bersih, air laut yang bercampur antara warna biru, hijau dan tosca menciptakan gradasi paling indah yang pernah saya lihat. Ditambah langit Kupang yang juga cerahnya bukan main. Sungguh perpaduan yang epic dan bikin saya berdecak kagum.

Kalau selama di Goa Kristal dan Air Terjun Oenesu saya sibuk foto-foto, lain halnya dengan di pantai ini. Saya nggak pengin ngapa-ngapain, sungguh! Hanya ingin duduk diam merasakan angin kembali menerpa wajah, menjejakkan kaki di hangatnya pasir putih dan sepuasnya memandangi lautan di depan sana. Sambil memikirkan orang-orang yang saya sayang, berharap mereka ada di sini atau suatu hari bisa mengajak mereka ke tempat yang mengagumkan ini.

wisata di kupang
wisata di kupang
wisata di kupang
Aaaah, jadi nggak mau pulang nih.

Sayangnya di tempat yang sebagus ini kami kesulitan ketika ingin membeli makan. Nggak ada rumah makan yang buka, penjual kelapa pun kurang proaktif menjajakan dagangannya. Seperti beli kelapa muda 4 buah, mau minta dibelahin kelapanya 30 menit baru terlaksana. Sudah gitu dikasih sendoknya cuma satu pula. Padahal pengunjung saat itu ya lagi-lagi hanya kami berempat. Begitu pun saat memesan mi instan dalam cup, setengah jam juga baru diantar ke saung.

Alhmadulillah di sini sudah tersedia toilet yang cukup bersih dan bisa digunakan untuk ruang ganti pakaian. Letaknya berada di dalam warung-warung.

Di Pantai Tablolong kami menghabiskan waktu paling lama, yaitu 3 jam. Tadinya ingin menunggu sampai momen matahari terbenam tapi nggak jadi. Kami harus bergegas ke hotel supaya nanti nggak kemalaman untuk cari makan di sekitar kota. Karena besok harus sudah check out sebelum subuh untuk penerbangan pertama ke Tambolaka, Sumba.

Thank you to all travel mates and Asuransi Astra for one day summer vacation in Kupang. I really enjoyed it.

wisata di kupang
Terima kasih Pantai Tablolong yang indah. Kaaan, baju merah nggak cocok buat ke pantai gengs!

Note : kalau setelah baca tulisan ini kalian jadi ingin berlibur ke Kupang juga, cara terbaik untuk menjangkau tempat-tempat wisata tadi adalah dengan menyewa kendaraan pribadi dengan driver yang sekaligus bisa menjadi tour guide. Waktu itu saya sudah izin dengan driver yang mengantar kami untuk mencantumkan nomor teleponnya di sini. Semoga bisa memudahkan teman-teman selama wisata di Kupang, ya. Ini nomornya +62 812-4659-7093 dengan Bapak Dedy.

Thanks for reading this 2200 words of article, gengs!

  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *