film aladdin

Review Film Aladdin, How Someone Decides 3 Wishes

Saya selalu excited dengan remake film-film produksi Disney karena meski memiliki jalan cerita yang sama dan sudah tahu ending-nya, tapi tetap penasaran bagaimana orang-orang di balik layar menghasilkan sebuah karya mengagumkan. Apalagi film yang sebelumnya adalah full animasi dan kini disajikan dalam live action. Untuk kali ini saya ingin me-review film Aladdin yang baru sempat saya tonton setelah film ini tayang di bioskop selama 2 minggu.

Sekilas pasti sudah tahu ya kisah Aladdin yang memiliki lampu ajaib berisi jin baik hati yang bisa mengabulkan 3 permintaan tuannya. Film Aladdin versi pertama yang produksi oleh Walt Disney Feature Animation dan dirilis oleh Walt Disney Pictures tanggal 11 November 1992 merupakan adaptasi dari The Book of One Thousand and One Nights. Tahun ini Disney kembali mengadaptasi dan merilis film berjudul sama pada tanggal 24 Mei 2019.

Yang menarik dari film ini bagi saya pribadi adalah ketika Aladdin diperankan oleh Mena Massoud, aktor baru yang ngggg, gimana? Siapa sih, dia? Sedangkan Genie justru diperankan oleh Will Smith. Aktor senior yang aktingnya enggak perlu diragukan lagi, peraih Grammy Award! Jadi makin penasaran dong bagaimana kolaborasi keduanya. So, let’s talk what the movie is about.

Aladdin dan Lampu Ajaib

Film ini berkisah tentang anak jalanan bernama Aladdin, yang jatuh cinta kepada Tuan Puteri kerajaan Agrabah. Sebagai yatim piatu yang hanya memiliki teman seekor kera bernama Abu, Aladdin kerap kali diremehkan dan dihina oleh masyarakat. Padahal hatinya sangat baik dan senang menolong orang lain yang lebih lemah, dah ehem mayan ganteng. Suatu waktu ia menemukan sebuah lampu di dalam gua ajaib, yang apabila lampunya digosok maka jin yang tinggal di lampu tersebut akan keluar dan dapat mengabulkan 3 buah permintaan. Demi melancarkan jalan cintanya kepada sang Puteri, Aladdin meminta kepada Genie untuk menjadikannya seorang pangeran.

Pangeran Ali dari negeri Ababwa, begitulah gelar yang akhirnya melekat pada diri Aladdin berkat bantuan Genie. Bersama karpet terbang yang ia temukan di gua yang sama dengan Genie, Prince Ali akhirnya dapat membuat Princess Jasmine terkesan. Namun ada satu orang penasihat kerajaan yang menghalangi mereka, yaitu Jafar. Akibar perbuatan Jafar, Genie berusaha menyelamatkan Aladdin yang mana harus mengurangi jatah dari dua permintaan yang tersisa. Kemudian pria ambisius yang sejak lama berniat menggantikan posisi Sultan ini mengambil lampu ajaib milik Aladdin dan membuat Genie menuruti permintaannya. Ancaman demi ancaman ia lontarkan, hingga akhirnya Jafar mengajukan permintaannya hingga tiga kali.

Sementara itu Aladdin masih punya kesempatan menyebutkan permintaannya yang terakhir jika ia berhasil mendapatkan lampu ajaibnya kembali. Genie menyarankan agar Aladdin memikirkan baik-baik permintaan terakhirnya, karena jin kocak itu sudah siap membantu Aladdin memenangkan hati Jasmine.

Film Aladdin : Keren

Saya sudah lupa kapan terakhir kali nonton film animasi Aladdin, sampai-sampai saya enggak ingat alur ceritanya seperti apa. Tapi setelah nonton filmnya memori saya seakan di-refresh kembali dan “Oh iya, nanti dia gini nih…” meski enggak seluruh film bisa saya ingat apakah jalannya ceritanya memang sama persis dengan versi pertama atau enggak. Tapi yang saya yakini sih Sutradara film Aladdin—Guy Ritchie—ingin menyajikan film ini dalam jalan cerita yang sama dengan film sebelumnya.

Sebagai film yang tadinya full animasi dan mungkin ditujukan untuk penonton anak-anak, ketika diadaptasi menjadi film live action wiiih keren banget, impressive. Saya suka caranya film ini meng-introduce Aladdin di awal film dengan mengambil gambar tampak belakang secara sekilas, ketika sedang ‘beraksi’ di pasar bersama Abu. Adegan tampak belakang yang enggak lebay kayak film india haha.

Kostumnya Aladdin adalah rompi yang punya banyak sekali kantong untuk menyimpan barang-barang. Kalau di film kartun Aladdin cuma pakai rompi saja, tapi enggak di film yang ini. Karena menurut Mena Massoud, enggak masuk akal tinggal di padang pasir kalau cuma pakai rompi doang, bisa gosong lah yaaa. That’s why saat deal untuk main di live action Aladdin movie dia mengajukan untuk pakai kostum yang ‘bener’.

film aladdin

Untung dia lihatnya ke atas, kalau ke depan? Hadeeuuuhh, pada naksir entarrr…

Secara musical yang paling bagus sih suaranya Will Smith, ya. Terus bagus yang kedua adalah suara dari Naomi Scott—pemeran Puteri Jasmine, secara dia emang nyanyi udah lama dari zamannya film drama musikal Lemonade Mouth. Suaranya Mena Massoud menurut saya biasa aja pas di lagunya yang pertama. Tapi kalau di lagu A Whole New World ya lumayan, kayaknya ini sungguh berlatih keras, deh :D.

Kalau soal acting semua bagus-bagus dan menjiwai. Cuma karena Mena Massoud ini baru pertama kali main film, acting-nya agak kaku dikit masih termaafkan soalnya dia dance-nya bagus hahaha. Iya, di film ini selain banyak nyanyi juga banyak nari-nari. Di dalam gua ajaib aja monyetnya diajak joget sama si Genie. Oh ya ada tarian padang pasir juga dari Jasmine, tsakeeep!

Kalau Jasmine, saya masih terkagum aja sama doi yang peliharannya adalah seekor harimau. Meeen, jauuuuh banget ya sama Aladdin yang punya monyet doang haha. Kostumnya Jasmine beserta perhiasannya bagus banget huhuhuuu. Kontras sama kepribadiannya yang baik hati, tidak sombong dan mencintai rakyatnya dengan sepenuh hati.

Sementara Will Smith si Genie bertubuh biru kebanyakan bertingkah lucu bahkan di saat-saat paling serius. Sepanjang film penonton yang banyakan anak kecil itu rame banget pada ketawa. Sambil diselingi perasaan sebal juga sih karena ulahnya Jafar yang punya tongkat sihir. Dikit-dikit main sihir, ngeselin banget.

film aladdin

Ngeselin banget, untung ganteng yaak.

Chemistry yang terbangun antara Aladdin dengan Jasmine boleh dibilang sukses, sejak adegan pertama kali mereka bertemu meski ada Abu di antaranya. Tatapan keduanya terhadap satu sama lain bikin meleleh, gengs. Dan adegan naik karpet terbang itu memang legend banget, beneran kayak mengembalikan waktu ke masa lalu gitu.

film aladdin

Aladdin yang lagi deg-degan ditatap sama perempuan cantik.

Sinematografi film ini sangat oke! Bahkan ini lebih bagus daripada film Beauty and the Beast, loh. Setting tempat yang mirip aslinya, juga penduduk asli mesir sering banget terlihat di kamera. Suasananya juga Arabian banget. Sayangnya saya enggak ngerti, nih, setting filmnya di tahun berapa gitu ya? Soalnya ada scene transaksi barter tapi juga sudah ada uang. Atau mungkin yang punya uang itu orang-orang kerajaan aja kali ya. Terus Genie kan bisa berubah jadi apa aja, ada dia jadi pramugara dan jadi modiste. Apakah di tahun itu pramugara dan modiste sudah kayak begitu itu kostumnya? Haha, pusing sendiri mikirin.

When You Have 3 Wishes

When you have 3 wishes, what would they be? Betapa sempitnya hidup ini, sampai-sampai kalau ada yang bisa mengabulkan permintaan secara cuma-cuma gitu kita hanya bisa minta 3 hal saja. Masalahnya, semakin sedikit boleh mengajukan permohonan maka akan semakin banyak keinginan yang muncul di benak manusia. Bagaimana dengan Aladdin?

Aladdin, atau Prince Ali of Ababwa adalah manusia biasa yang bisa juga khilaf kayak emak-emak yang katanya diet tapi selalu tergoda kalau ada makanan enak. Meski di awal pertemuannya dengan Genie ia sudah diberitahu “The more you have, the more you want”. Bahwa enggak akan ada habisnya kalau manusia minta harta yang banyak dan kedudukan yang tinggi, karena semakin banyak yang kita punya, maka akan semakin banyak lagi yang kita inginkan. Buktinya, setelah lampu ajaib jatuh ke tangan Jafar, si pengkhianat itu enggak cukup hanya dengan memiliki kekuasaan. Ia ingin yang lebih dan lebih lagi.

Saya paling terharu ketika Aladdin akhirnya mengajukan permintaan yang ketiga setelah Genie membujuknya untuk minta sesuatu yang sangat berarti. Yang bisa membebaskan dirinya dari hinaan orang-orang yang selama ini menganggapnya tikus jalanan, juga untuk hidup yang lebih layak. Kemudian Aladdin dan Genie berpelukan, saling berterima kasih atas kerjasama yang terjalin beberapa hari belakangan. Really true friendship, Aladdin dan Genie best friend forerver banget pokoknya!

film aladdin

The more you have, the more you want

Film ini memberikan pesan moral bukan hanya untuk orang dewasa tapi juga untuk anak-anak, mengingat banyak banget penonton anak dibawah 13 tahun. Orang tua yang mendampingi anaknya menonton film ini bisa bisikin, bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab dalam setiap kesempatan untuk memperbaiki dirinya. Seperti Aladdin yang dulu suka mencuri untuk bertahan hidup dan sempat berpura-pura menjadi pangeran, harus mau bertanggung jawab dan meminta maaf atas perbuatannya.

Pelajaran sangat berharga yang bisa diambil dari film ini adalah : kita memang enggak bisa memiliki segalanya, jiika ada cara untuk meraih itu semua jangan sampai mengorbankan hal paling berharga dalam hidup ini. Entah itu pasangan kita, teman, keluarga, bahkan perasaan dan kepercayaan. Dan seberapa pun sulitnya hidup kita, jangan sampai lupa untuk menepati janji yang pernah kita buat di awal.

Image souce from Disney, Aladdin logo by Mintmovi3

  •  
  •  
  •  
  •  

2 thoughts on “Review Film Aladdin, How Someone Decides 3 Wishes

  1. Yeni Sovia says:

    Wah aku belum nonton nih mba. Penasaran jadinya. Waktu itu mau nonton film ini tapi tanya orang-orang dulu boleh nggak buat anak usia 14 tahun. Soalnya ceritanya mu ajak adik nonton ini hihihi. Tpi ternyata emang udah boleh ya 😍

    • Dzulkhulaifah says:

      Sebenarnya ini filmnya 13+ kan, tapi banyak banget anak-anak yang nonton. Pastinya didampingi ortu atau orang yang lebih dewasa gitu. Untuk jalan ceritanya tetap menghibur buat anak, banyak pesan moralnya. Paling yang harus ditekankan untuk tidak dilakukan adalah ketika adegan berantem-berantem, ada kekerasan dikit dan biasa deh film Disney di bagian akhir kita emang harus mengalihkan perhatian si kecil wkwkwkwk.

Leave a Reply to Yeni Sovia Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *