Rela Berkorban Demi yang Tersayang

Kalau dari judulnya, sudah ketebak belum sih saya mau ngomongin soal “cinta” ;). Eeeaa jarang-jarang kaan?? Rela berkorban demi yang tersayang ini artinya ada unsur give and take gitu lah. Kita rela melakukan apa saja (give), demi dia bahagia. Bahagia itu yang kayak gimana, sist? Ya, dia senang, sehat, enggak sakit, nyaman, damai, sentosa dan seterusnya. Take berarti kalau dia bahagia seharusnya kita pun bahagia. Tsaaah…

Eh, jangan jauh-jauh dulu ya mikirnya. Karena cinta itu kalau dibahas bisa luaaas banget. Jadi kita spesifik saja nih ngebahas cinta sama diri sendiri dan pengalaman saya menjaga si lambung yang tersayang supaya enggak sakit lagi kayak dulu.

Iya, saya pernah sakit lambung sampai enggak enak makan, habis makan uluhati sakit, perut kembung, terus larinya ke kepala jadi pusing. Dari SD nih sudah begini, sampai saya besar. Enggak setiap hari sih, kadang-kadang saja. Cuma kalau lagi kumat ya ampun mau ngapa-ngapain juga tak enak. Sediiiih. Apalagi pas SMA itu sekolah jauh, jam 6.30 sudah berangkat enggak sarapan dulu. Pas kuliah jam makan makin kacau hahahaha.

Sakit lambung kalau enggak diurusin bisa berabe loh, urusannya bisa panjang. Tiap saat harus sedia obat maag. Akhirnya suatu hari saya tersadarkan begitu saja, kayaknya harus ada yang dikorbankan nih biar bisa sembuh. Enggak langsung sembuh total sih, tapi bertahap sampai rasanya nih lambung benar-benar sehat. Selama tahap ini ada saat di mana berat badan saya terus turun sampai 46 kg, tinggi badan 163 cm, jadi kelihatannya kurus banget.

Makan Teratur dan Secukupnya

Jangan terlambat makan adalah kunci utama bagi penderita sakit maag yang pengin punya lambung sehat. Kata dokter, lambung akan tetap bekerja meski kita enggak makan. Jadi kalau terlambat makan ya kasihan dia semacam mencerna ruang hampa gitu. Sesibuk apapun, waktunya makan ya makan. Jangan suka dirapel ya makan siang sama makan malam. Hahahaha.

Setelah terbiasa makan dengan jadwal yang teratur, sebisa mungkin saya makan secukupnya. Kalau misal lagi makan banyaaaak besoknya suka sakit perut dan sering buang air besar. Enggak suka gitu keseringan masuk toilet, karena udah-udahannya badan malah jadi lemas.

Biasanya saya makan banyak banget itu kalau pas lagi lebaran idul fitri dan idul adha. Jadi kalau hari-hari biasa makannya banyak rasanya kayak lebaran gitu lah. Oh ya, definisi banyak di sini tergantung kapasitas lambung juga sih. Menurut saya banyak belum tentu menurut orang lain. Soalnya orang-orang bilang saya makannya sedikit, padahal sayanya sudah begah.

No Soda

Kayaknya saya terakhir minum soda tuh pas tahun kedua kuliah, yaitu tahun 2003. Dulu saya suka minum minuman bersoda, tapi bukan yang apa-apa harus soda juga. Bukan minuman utama lah intinya. Nah pas saya merasa ‘tersadarkan’ itu langkah pertama yang saya lakukan demi lambung sehat sebenarnya adalah meninggalkan soda, sebelum memperbaiki jadwal makan. Karena merasa kok setiap habis minum soda, di dalam perut rasanya enggak nyaman yaaa. Begitulah akhirnya saya sudah meninggalkan minuman bersoda sejak 15 tahun lalu.

Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, soda adalah minuman yang mengandung gelembung udara. Selain itu juga dapat memberikan gas 2 kali lipat dari air putih. Sebenarnya di dalam lambung oke saja dengan adanya gas, tapi kalau terlalu banyak itu yang enggak baik. Buat yang suka merasa nyeri di uluhati coba ditinjau ulang apakah masih suka soda?

Selain itu minuman bersoda memiliki kadar gula yang tinggi dan dapat memicu untuk makan lebih banyak. Ooo, mungkin saya bisa bertahan di berat badan yang sekarang gara-gara sudah bye bye soda juga kali 😛

Less Caffeine

Sudah enggak minum soda, saya juga enggak minum kopi. Makanya dalam hidup saya enggak ada ceritanya ‘ngopi cantik’ karena saya minumnya susu haha. Satu-satunya momen saya menyesap kopi adalah ketika ibu saya nyeduh kopi ginseng minta dikit ceritanya, karena wanginya enak banget. Suami saya juga enggak minum kopi, jadi ya memang jaraaaang banget terpapar kopi. Enggak ada sebulan sekali lah.

Kafein yang  terdapat dalam kandungan kopi dapat meningkatkan produksi asam dan peradangan pada lambung. Ngeri ngebayanginnya, meski katanya ada trik-trik supaya lambung tetap nyaman bagi yang suka kopi. Udah paling enak air putih, susu sama yoghurt lah kalau saya 😉

No Stress, Be Happy

Stress juga berpengaruh sama kesehatan lambung dan seluruh anggota tubuh. Kerasa banget loh kalau lagi stress itu lambung memang agak-agak goyah. Jadi sebisa mungkin harus meredakan stress, dibahagia-bahagia-in aja lah. Soalnya lebih ngeri sama sakit lambung ketimbang stress itu sendiri.

Kalau pas habis stress gitu dan lambung sudah terlanjur menderita, saya akan makan, istirahat, tidur. Sedia obat maag juga kalau pas lagi kayak gini.

Selalu Ingat

Lalu saya akan selalu ingat betapa enggak enaknya sakit lambung, jadi saya enggak mau yang namanya kejadian masa lalu itu terulang kembali. Selalu ingat untuk makan, apalagi sekarang sudah ada suami yang sering mengingatkan untuk makan. Punya anak juga jadi ingat sama waktu makan, saatnya anak makan ya itu artinya saya juga makan—secukupnya.

Selalu ingat juga untuk enggak minum soda. Bagi saya soda tuh sudah kayak rokok yang saya enggak izinkan zatnya masuk ke dalam tubuh. Dan semoga ibu saya enggak sering-sering lah nyeduh kopi. LOL.

***

Alhamdulillah sekarang lambung sehat, mau makan apa saja hayuk asal secukupnya. Berat badan juga menjadi normal kembali dan saya bahagia. Berkat pengorbanan bertahun-tahun, nih. Kalian yang masih muda-muda, jangan sepelekan masalah pada lambung, ya. Suatu hari kalian akan dewasa, berumah tangga, punya anak, bayangkan kalau di saat itu lambungnya masih bermasalah. Nanti keluarga siapa yang ngurus, coba??

Referensi : klikdoker.com, hallosehat.com

  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *