Mitos Travel Blogger yang Sering Kita Dengar

Haaaai. Terima kasih loh sudah berpindah halaman dari tulisan saya yang berjudul Join HIIP Academy ke halaman ini. Karena memang workshop HIIP Academy tanggal 10 Agustus 2019 itu durasinya panjang benerrr dan materinya Masya Allah banyak banget ngalah-ngalahin buku skripsi.

Jadi sebelumnya saya sudah tulis kan, salah satu mitosnya travel blogger yang sempat disebutkan oleh Ariev Raman si travel blogger peraih The Best Travel Blog 2015 by Blogger Camp Indonesia. Kali ini saya mau tulis lebih lengkap karena bahasannya lucu menurut saya. Dan sekalian untuk membuka mata kita semua, bahwa yang namanya jadi travel blogger atau menjadi apapun nggak ada yang segampang dan semudah kedipin mata.

Oh ya bagi yang belum baca postingan sebelumnya silakan ya mampir dulu ke Join HIIP Academy biar bisa lebih nyambung sama topik yang satu ini.

Cuss, yaaa….

#1 Nggak perlu waktu lama untuk menjadi Travel Blogger

Saya ulangi lagi ya kalimat saya dari halaman sebelumnya 😛

Kalau kamu adalah seorang blogger yang baru main ke Singapura selama 3 hari kemudian menulis di blog tentang kisahmu jalan-jalan serta belanja oleh-oleh, dan itu adalah satu-satunya artikel traveling di blog, percayalah kamu belum menjadi travel blogger. Kamu baru berada pada tahap “blogger yang sedang traveling”.

Travel blogger itu tulisannya mostly tentang traveling. Jika ada yang di luar itu pun pasti akan berkaitan dengan kegiatan travelingnya. Ariev Rahman butuh waktu 2 tahun untuk mem-branding dirinya dan bisa diajak kerjasama oleh brand. Semua itu butuh waktu untuk berproses, nggak ada yang instan. Ok?

Jadi kalau sekarang kamu adalah blogger yang suka traveling itu, go traveling more and write even more. Kalau konsisten menjalankannya, mari kita lihat 1-2 tahun ke depan. Semoga kamu sudah menyandang predikat itu : Travel blogger.

#2 Travel Blogger adalah Pekerjaan yang Mudah dan Menyenangkan

Dalam setiap perjalanannya travel blogger harus mikir bagaimana caranya pembaca bisa ikut merasakan yang ia rasakan. Itu kan butuh effort guedde! Apalagi kalau solo traveling, ya. Harus motret sendiri, rekam video dan edit-edit sendiri, habis itu harus nulis pula. Masih mikir lagi tentang rencana hari esok, jalan ke mana, ngapain saja? Harus research dulu biar nggak nyasar, bagi yang muslim biar bisa makan makanan halal dan tetap bisa beribadah di masjid ketika panggilan sholat tiba.

Whaw, sibuk sekali ya hidupnya?

#3 Enak Jadi Travel Blogger, Bisa Jalan-jalan Gratis

Untuk memulai menjadi travel blogger, please jangan duluan mikirin jalan-jalan gratisnya. Memangnya siapa yang mau kasih secara cuma-cuma? Jadi kita harus menunjukkan diri terlebih dahulu. Kasarnya sih ya, semua itu butuh yang namanya “modal”.

Kalau tulisan kita enak dibaca, informasinya lengkap dan tentu saja memiliki gaya bahasa yang unik dan menarik, pasti akan datang saatnya kita ‘dilamar’ oleh sebuah brand. Jika itu bukan sekarang, pasti di kemudian hari.

Baca juga : Tips Monetisasi Blog Ala Sitta Karina

#4 Travel Blogger Pasti Duitnya Banyak

Nah kalau yang ini saya setuju, sih. Kalau duitnya nggak banyak bagaimana caranya travel blogger bisa tiba di belahan dunia lain? Hahaha.

Tapi kata Ariev ia akan melakukan segala cara untuk bisa traveling. Meski sedang bokek, tetap berusaha cari tiket dan penginapan murah. Meski mengorbankan hari kerjanya yang harus dipotong gaji, ia tetap akan berangkat. Karena jika sudah terjun menjadi travel blogger, maka pengalaman dari jalan-jalan akan menjadi investasi yang paling berharga.

Ooooh. Jadi gitu, ya?

#5 Semua Orang Pasti Bisa Menjadi Travel Blogger

Ada yang duitnya banyak dan bisa traveling suka-suka, tapi dia nggak bisa nulis. Yang kayak gini, nggak bisa jadi travel blogger kecuali mau belajar banget.

Ada yang suka banget nulis, tulisanya baguuus tapi duitnya kurang banyak buat jalan-jalan. Yang ini masih bisa diusahakan dengan berburu tiket murah.

Ada yang suka dan jago nulis, tapi nggak suka jalan-jalan. Udah nggak usah jadi travel blogger.

Kalau ada yang bilang “semua orang bisa jadi travel blogger”, mungkin iya, mungkin juga nggak. Bisa jadi travel blogger, asalkan konsisten dalam membuat konten yang berkualitas. Nah ini nih yang berat. Semoga kita semua bisa selalu konsisten dalam membuat konten yang baik, ya.

Tips Membuat Konten Pada Travel Blog

Memiliki blog dengan niche travel pastinya mengharuskan kita untuk sering-sering traveling dan rajin menuliskannya. Traveling nggak perlu jauh, coba deh tulis tentang perjalanan ke sebuah tempat misalnya ke kantor. Apa saja yang terjadi selama perjalanan itu, apa saja yang kita lihat di sepanjang jalan, bagaimana suasana di dalam bus atau kereta dan sebagainya.

Menulis travel bisa dimulai dari ide kecil. Contohnya saat melihat ada orang yang kelebihan berat bagasi. Ini bukan pengalaman kita tapi kita tentu bisa mengembangkannya menjadi sebuah tulisan yang Insya Allah bermanfaat, agar pembaca bisa belajar bagaimana sih me-manage barang bawaan dan oleh-oleh supaya nggak overload.

Selama traveling ambillah banyak-banyak foto dan video. Pilih salah satu foto terbaik dan kembangkan menjadi tulisan. Karena sejatinya foto dapat mengingatkan kita akan masa yang sudah lewat. Dengan membukanya kembali, memori itu akan datang dengan sendirinya.

Selain mengambil gambar, biasakan untuk mencatat hal-hal yang ditemui selama traveling. Ini akan berguna banget ketika harus menulis. Catatan bisa notes di smartphone atau bawa buku kecil yang nggak seberapa beratnya.

Okei, memang agak susah-susah gampang ya kelihatannya. Tapi harus yakin, kalau kita bersungguh-sungguh pasti akan ada jalannya.

Terima kasih ya sudah main ke blog saya. Jangan lupa baca juga tulisan saya tentang Tips Menjadi Travel Blogger Ala Deddy Huang.

  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *