Sebuah Permainan untuk Mengasah Kemampuan Sosial Emosional Anak

Suatu sore terjadi perdebatan antara saya dan si kecil (5 tahun) di dapur kecil kami. Waktu itu saya sedang menyiapkan bumbu masakan dan ingin menggunakan chopper untuk mencacah cabe serta bawang. Sementara Hammam nggak ngebolehin saya memakainya, karena dia ingin memainkan benda tersebut. Okelah saya biarkan dulu, berhenti bicara dan lanjut menyiapkan bumbu. 3 menit berselang mata saya mulai berair, perih terkena pedasnya hawa bawang merah. Melihat saya berlinang air mata, Hammam jadi sedih dan mengembalikan chopper tadi serta bilang kalau dia sayang sama saya.

Duh, anak mami melow sekali, sih. Tapi sayang ke-melow-an ini berakhir dengan marah-marah. “HAMMAM MAU SAYANG!!!” begitu katanya, tetap sambil marah. Dan selalu begitu setiap kali dia merasa saya marah. Hhhh, sulit sekali membuatnya mengerti bagaimana mengungkapkan rasa sayang, apalagi perasaan marah. Mengapa dia mengungkapkan semua sambil marah-marah? Saya sadar sekali Hammam masih belum peka secara emosi. Kelihatannya saja dia itu selalu happy, padahal behind the scene ya tetap penuh drama.

Kalau baca-baca teorinya sih ya, kecerdasan emosi pada anak bisa dilatih dengan komunikasi yang baik antara orang tua dengan anak. Mencoba untuk memahami perasaannya dan terus berusaha agar si kecil bisa mengungkapkan apa yang sedang ia rasakan. Apakah ia sedang sedih, marah atau sedang senang. Tapi nampaknya cara ini masih kurang seru bagi anak-anak. Apalagi Hammam mudah sekali terdistraksi, belum selesai saya mempraktikkan apa yang sudah saya baca, dianya sudah ngacir duluan.

jilbab instan untuk pipi tembem

Ternyata PRnya menjadi orang tua “membesarkan anak dengan baik” itu meliputi segala hal, ya. Apalagi Hammam sempat mengalami speech delay, nih. Meski bicaranya sudah lancar dan nggak berhenti-berhenti, tapi ketika menginginkan sesuatu kadang sukanya pakai kode-kode, nggak langsung bilang maunya apa. Pernah suatu pagi tiba-tiba nangis saat bangun tidur, ternyata gara-gara tadi malamnya kami kelupaan mau pasang perangkap tikus. Dia kecewa banget tapi nggak tau harus bagaimana lagi.

Seberapa Pentingkah Kemampuan Sosial Emosional pada Anak?

Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional dua kali lebih penting daripada kecerdasan intelektual dalam memberikan kontribusi terhadap kesuksesan seseorang.

Wikipedia

Kebayang nggak, sih, jika seseorang nggak mampu mengontrol emosinya serta sulit memahami perasaan orang lain dan nggak memiliki empati? Orang ini akan bertindak sesukanya terhadap orang lain, karena dia nggak peduli dengan perasaan orang yang disakitinya itu. Kalau sampai saat ini kasus bullying semakin banyak kita dengar, salah satu penyebabnya adalah masalah emosi ini.

Mengingat era digital mengharuskan kita mengalami segala sesuatu yang serba cepat maka kecerdasan emosi menjadi nggak kalah penting dari kecerdasan intelektual seseorang, terutama anak-anak yang terlahir sebagai generasi alpha (lahir di tahun 2010-2025). Kalau nggak ya akan sulit ketika harus menghadapi challenge abad 21. Padahal mereka memiliki banyak sekali keunggulan, seperti lebih kritis, cerdas dan kreatif, memiliki tingkat inovasi yang tinggi dan menjadi generasi yang paling terdidik.

Menurut Howard Gardner terdapat lima pokok utama dari kecerdasan emosional seseorang, yakni mampu menyadari dan mengelola emosi diri sendiri, memiliki kepekaan terhadap emosi orang lain, mampu merespon dan bernegosiasi dengan orang lain secara emosional, serta dapat menggunakan emosi sebagai alat untuk memotivasi diri.

Wikipedia

Di tengah kegalauan ini saya mendapat kabar baik nih dari Klinik Psikologi dan Pusat Terapi Anak Mentari Anakku yang akan me-launching permainan untuk mengasah kemampuan sosial emosional anak, namanya Karnaval Seru. Wah, kok menarik! Acaranya berlangsung di Workplay Bintaro, Tangerang Selatan pada hari Rabu, 25 September 2019.

Sebelum launching Psikolog Anak Ibu Alia Mufida, M.Psi., Psikolog menjelaskan kepada undangan yang terdiri dari rekan-rekan psikolog dan media, serta saya (salah satu ibu yang anaknya pernah menjalani terapi di klinik tersebut) tentang apa yang bisa dilakukan oleh orang tua dalam menghadapi generasi alpha ini terkait dengan kecerdasan emosional.

karnaval seru
Tim Klinik Psikologi dan Pusat Terapi Anak Mentari Anakku dan The Menthilis Project

Aware terhadap segala hal, baik itu positif maupun negatif ,yang akan dihadapi anak-anak kita adalah salah satu cara yang bisa kita lakukan. Kemudian menjadi role model yang baik karena tentu saja anak-anak belajar dari apa yang dilihatnya. Jadi sebelum anak diajarkan untuk mengenali emosi, orang tua sendiri pun harus pandai meregulasi emosi yaitu kemampuan mengatur perasaan dan reaksi yang berhubungan denganΒ emosi itu sendiri. Lalu iklim keluarga serta partenting style dengan komunikasi yang baik juga memiliki pengaruh besar.

Baca juga : Mari Kita Bicara Sampai Stasiun Akhir

Karnaval Seru, Sebuah Permainan yang Mengasah Kepekaan Emosi

Dari pengalaman para psikolog anak di Mentari Anakku selama masa praktiknya, banyak sekali ditemukan masalah emosional pada anak. Mulai dari yang sulit mengekspresikan emosi hingga yang kesulitan mengontrol dan meregulasi emosi. Padahal dengan mengenali emosinya sendiri anak dapat berlatih untuk memahami orang lain. Jika kemampuan sosialnya kurang baik maka akan sulit berempati, assertiveness (sikap tegas), memahami situasi sosial, problem solving dan lain-lain.

Seperti yang saya alami, banyak juga orang tua yang kesulitan untuk melatih kemampuan sosial emosional pada anak. Atau bisa juga telah melatihnya tapi merasa kehabisan ide harus bagaimana lagi, nih? Makanya Mentari Anakku bekerjasama dengan The Menthilis Project menghadirkan sebuah permainan yang berbentuk board game untuk bisa dimainkan oleh anak-anak usia 5-9 tahun bernama Karnaval Seru.

Mengapa diberi nama Karnaval Seru? Ibu Firesta Farizal, M.Psi., Psikolog selaku Direktur Klinik Psikologi dan Pusat Terapi Anak Mentari Anakku menjelaskan permainan ini dibuat dengan konsep karnaval dimana anak-anak adalah pengunjungnya. Nantinya dalam karnaval tersebut akan ada situasi-situasi yang membutuhkan problem solving.

Di sini juga ada seorang badut bernama Dodo yang kehilangan atributnya. Anak-anak akan membantu mencarikan atribut Dodo si Badut dengan melewati setiap tahap tantangan yang diberikan oleh pendamping ketika bermain.

Bermain Karnaval Seru juga diharapkan dapat meningkatkan bonding antara anak dan orang tua. Karena setiap bermain harus selalu didampingi sehingga bisa banget dijadikan permainan pengganti gadget.

Paket Karnaval Seru

karnaval seru

Dari packagingnya saja permainan ini sudah terlihat seru. Ukurannya hampir sebesar kotak sepatu dewasa dan isinya banyak banget. Terdiri dari board game, bidak, dadu, kartu tantangan, wajah badut, kantong rahasia berisi atribut badut, bianglala, prolog dan buku petunjuk.

karnaval seru

Board game terbuat dari karton tebal mungkin sekitar 2 mm dilapisi art paper laminasi doff. Alat ini bisa dilipat sehingga memudahkan dalam penyimpanannya, jika dibuka ukurannya menjadi lebih besar dari kertas ukuran A3. Secara visual sangat colorful dan anak-anak banget, ada gambar badut, balon, topi sulap, kedai penjual makanan dan tiket karnaval. Terdiri dari lingkaran-lingkaran warna merah, kuning, biru dan putih, tempat menjalankan bidak permainan.

Bidak juga terbuat dari art paper, terdiri dari 4 buah yang free gender, artinya anak cowok dan cewek bebas memainkan karakter yang mana saja, jadi nggak usah rebutan.

karnaval seru

Dadu ukuran 1,5 cm cukup besar untuk berada di tangan anak-anak. Terbuat dari plastik solid warna putih dengan mata dadu berwarna biru dan merah.

karnaval seru

Kartu tantangan berwarna sesuai lingkaran di board game yaitu merah, kuning dan biru masing-masing berjumlah 14 buah. Ukurannya hanya sebesar kartu nama dan di balik kartu terdapat pertanyaan atau perintah yang harus dijawab atau dilakukan oleh pemain.

Wajah badut terdiri dari 4 buah yang terbuat dari kain flanel 2 lapis dengan bagian bawahnya nggak dijahit, jadi bisa dimasukkan tangan. Wajahnya polos hanya ada mata dan hidung. Atributnya sendiri ada di sebuah kantong rahasia berwarna hitam berukuran 20×25 cm.

karnaval seru

Bianglala adalah bonus. Bentuknya lingkaran yang memiliki jarum, bisa diputar untuk memilih bonusnya.

Karnaval Seru diproduksi oleh The Menthilis Project yang merupakan produsen mainan yang mengedepankan kreativitas serta quality time orang tua dengan anaknya.

Cara Bermain Karnaval Seru

Karnaval Seru mirip permainan ular tangga yang menggunakan bidak dan dadu dengan jumlah pemain 2-4 anak dengan didampingi oleh orang tua atau orang dewasa yang dapat membimbing permainan ini. Sebelum bermain sebaiknya pendamping membaca buku petunjuk dan membacakan prolog yang disediakan.

Cara bermain Karnaval Seru adalah setiap anak secara bergilir melempar dadu dan menjalankan bidaknya. Bidak akan berhenti di lingkaran warna merah, biru, kuning atau putih. Pendamping membacakan tantangan yang terdapat pada kartu sesuai warnanya. Atau jika anak sudah mulai belajar membaca akan lebih baik jika dibaca sendiri.

kemampuan sosial emosional anak
Hammam sedang menjalankan bidak sambil belajar berhitung. Favoritnya adalah bidak karakter kelinci, dia memanggilnya Miss Rabbit.

Kartu tantangan berisi cerita singkat diikuti dengan pertanyaan yang berhubungan dengan perasaan atau tindakan yang dapat dilakukan oleh anak. Dengan harapan dapat mengasah kepekaan emosional anak. Ada juga kartu yang berisi tantangan seperti mengajak anak untuk memeragakan gerakan atau ucapan tertentu. Sebagai gambaran saya beri salah satu contoh, ya.

“Di sebuah karnaval kamu dan temanmu ingin membeli gulali. Sayangnya gulali hanya tersisa satu. Padahal kamu dan temanmu sama-sama ingin sekali makan gulali. Apa yang dapat kamu lakukan?”

Karnaval Seru

Jika anak sudah menjawab pertanyaan maka berhak mengambil satu atribut badut dari dalam kantong rahasia. Jika anak nggak menjawab maka pendamping nggak akan memberikan atribut tersebut.

Oh ya jika bidak berhenti pada lingkaran berwarna putih anak-anak berhak memutar bianglala sebagai bonus.

Saat Bermain Sebaiknya….

Pada buku petunjuk permainan diinformasikan secara psikologi bahwa dalam Karnaval Seru nggak ada jawaban yang benar atau salah. Begitupun dengan meletakkan atribut pada wajah badut, bebas saja. Tapi pada umumnya anak usia 5 tahun ke atas sudah bisa membedakan mana yang harus ditempel pada posisi mulut mana yang harus berada di kepala.

Jawaban anak bisa berbeda dengan anak lainnya, atau anak yang sama bisa menjawab secara berbeda dari waktu ke waktu sesuai dengan pengalaman yang pernah didapatnya. Selama jawabannya positif dan nggak ada kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri atau merugikan orang lain, permainan bisa terus berlanjut. Tapi jika sebaliknya pendamping harus mengarahkan pada sesuatu yang lebih positif. Jika anak memberikan jawaban yang menyimpang dari norma-norma atau dapat merugikan sekitarnya, maka anak nggak boleh mengambil aribut dari kantog rahasia. Kecuali ia mau mengoreksi jawabannya tadi menjadi sesuatu yang positif.

Jika orang tua mendapati anak sering kali memberikan jawaban yang negatif, cenderung ingin menyakiti diri sendiri dan merugikan orang lain, atau bahkan terus menerus memberi jawaban “nggak tahu”, ada baiknya untuk segera menghubungi tenaga ahli, dalam hal ini psikolog anak untuk mendapatkan solusinya.

Testimoni

Senang banget bisa menemukan mainan ini, yang kabarnya adalah mainan kecerdasan emosi pertama di Indonesia. Kalau di luar negeri banyak, tapi harganya lumayan dan bahasa serta contoh kasusnya kurang sesuai jika dimainkan dengan kondisi lingkungan kita. Sudah gitu suka ada kendala di pengiriman deh, ya.

Saya sudah mencoba permainan ini bersama Hammam, kadang main bareng kakak sepupunya juga. Awalnya anak memang belum paham dengan cara bermain dan segala peraturannya. Sempat acara ngambek pula karena berbeda pandangan antara pemain dan pendamping, hahaha. Tapi lama-kelamaan menjadi semakin seru dan banyak kejutan dari jawaban-jawaban yang ia berikan. Sudah gitu nggak perlu ditawari main dia yang akan terus minta untuk main.

Misalnya untuk pertanyaan soal gulali tadi (saya mengganti gulali dengan permen), saya berharap dia akan rela berbagi degan temannya. Tapi ternyata dia nggak mau berbagi dong. Surprisingly jawaban dia begini : “Permennya buat teman Hammam aja, Hammam mau beli es krim aja.” Waw, apakah ini anak mami yang kemarin mainnya masih suka drama? Hahahahha.

Lalu di lain hari kata permen saya ganti lagi. Saya penasaran bagaimana jika yang tersisa satu justru adalah es krimnya. Sementara dirinya suka banget sama es krim. Apakah kali ini Hammam rela berbagi? Ataukah dia masih mau membeli yang lain karena ingin memberikan satu es krim yang tersisa itu kepada temannya?

Dia menjawab “Teman Hammam beli biskuit aja, mih.” Hahahah. Lalu saya bilang temannya nggak mau biskuit, maunya es krim. “Ya udah beli es krimnya di indomaret.” dia tetap berusaha mendapatkan yang diinginkannya. Saya bilang lagi kalau itu sudah di indomaret dan es krimnya tinggal satu. Dan jawaban akhirnya menjadi begini…

“Ganti aja indomaretnya.”

Hammam 5 tahun

Maksudnya dia mau pindah belinya di indomaret yang lain. Well, boleh juga nih jawabannya. Maka Hammam berhak mengambil atribut dari kantong rahasia πŸ™‚

Hammam menirukan gerakan yang ada di kartu warna merah (gambar di bawah ini)
kemampuan sosial emosional anak
Banyak tantangan menyenangkan

Karena Hammam juga nggak paham apa itu karnaval, jadi sementara ini saya menggantinya dengan nama lain. Bulan lalu kami baru bersenang-senang di Dunia Kartun Dufan, jadi saya selalu menggunakan kata Dufan agar ia lebih mudah mengerti.

Efeknya setelah berulang kali main Karnaval Seru adalah Hammam jadi lebih sering bercerita tentang kegiatannya di sekolah. Sebelumnya kan saya pernah cerita tuh, kalau selama sekolah dia jarang banget mau share pengalamannya. Pertama mungkin karena sekolah adalah hal baru, jadi saya nggak terlalu maksain agar dia mau cerita. Atau yang kedua mungkin juga dia belum tahu bagaimana caranya untuk memulai bercerita kalau nggak ditanya duluan.

Baca juga : Hari Pertama Sekolah

Nah beberapa hari ini Hammam kelihatannya agak lebih cerewet dari biasanya kalau saya pancing untuk bercerita. Bahkan kemarin dia dengan sendirinya menceritakan tentang temannya yang jatuh saat bermain, lalu bibir bawahnya berdarah dan diobati oleh ibu guru.

Sejauh ini dampak yang kami rasakan sesuai lah dengan tujuan dibuatnya mainan ini. Bukan cuma anak yang terbantu dalam mengasah kemampuan sosial emosionalnya tapi saya juga jadi lebih mengenal karakteristik anak saya. Semoga dengan begitu saya bisa merespon kebutuhan emosional Hammam secara lebih tepat.

kemampuan sosial emosional anak
Contoh pertanyaan yang ada di balik kartu tantangan

Saya rekomendasikan banget nih mainan Karnaval Seru buat mengisi waktu bareng si kecil. Pasti bakalan seru banget kalau dibandingkan dengan main gadget. Apalagi jawaban-jawaban yang sering kali mengejutkan akan bikin orang tua merasa terharu bahwa kita telah membesarkan mereka sejauh ini. Akan ada perasaan bangga dengan keputusan yang bisa mereka ambil.

Oh ya mainan ini harganya Rp. 190.000 (belum ongkir), bisa didapat dengan memesannya via instagram direct message ke @mentarianakku @karnavalseru atau @menthilis.

Insya Allah secepatnya saya ingin mengadakan giveaway di instagram yang hadiahnya adalah mainan ini. Jadi follow dulu ya, akun instagram saya @dzulkhulaifah. Terima kasih sudah membaca, mari kita bantu anak-anak kita untuk lebih mengenali emosinya πŸ™‚

karnaval seru
  •  
  •  
  •  
  •  

45 thoughts on “Sebuah Permainan untuk Mengasah Kemampuan Sosial Emosional Anak

  1. Eka Fikry says:

    wah, mainannya menarik. Dengan bermain rupanya bisa mengasah emosional juga ya. Selamat bermain carnaval seru sama si buah hati mbak. Lalu ku teringat masa TK dulu, hehehe

  2. Alaniadita says:

    iiihh mbaaa, ini lucu amat sih karnaval serunyaaaa.
    ternyata selain gadget, masih banyak hal yang bisa jadi mainan anak anak pada usianya ya.
    kreatif banget! huhuhu kusuka.
    btw, giveaway nya masih bisa ndak? πŸ˜€

  3. Jiah says:

    Mengenalkan dan mengontrol emosi memang kudu dimulai dari kecil. Aku kayanya dulu agak kesulitan soal emosi. Alhamdulillah gedhe gak sampai jadi pemberontak. Senang deh bisa dapat permainan yang bikin anak belajar mengontrol emosinya

  4. Tanti Amelia says:

    Masya Allah, sekarang sudah ada permainan yang bisa mengasah kecerdasan emosional juga ya…
    Untuk Hammam, pengertian “sayang” ternyata harus dijabarkan sesuai EQ -nya juga.

    Mami Hammam kreatif ya, mengganti banyak kata yang tidak umum menjadi kata yang dia mengerti aja ^^ (apa sebaiknya Eva juga bikin mainan serupa tapi yang jauh lebih endonesah?)

  5. Lisdha says:

    waah..noted. nungguin GA-nya aah ^_^

    btw keknya anak keduaku perlu banget nih mbak cara belajar mengelola emosi (emaknya juga sih hajaja). kalo baca cerita soal hammam, anakku juga mirip2 gitu deh..kga mau ngalah dan suka drama hahaja

  6. HM Zwan says:

    Anakku juga speech delay mbk, membantu banget ini kalau ada produk mainan seperti ini. Alhamdulillah sekarang ngomongnya sudah banyak banget.. Pingin banget beli ini. Ini satu paket ya mbk

  7. artha says:

    waaah senangnya bs main sama anak. saya bakal beli kalau zril agak gedean dikit
    sekarang masih belum ngerti, ntar diumpetin sama dia pernak perniknya itu. wkwkwk

  8. Eri Udiyawati says:

    Wah.. namanya keren juga ya, Karnaval Seru. Di situ anak bisa bermain sambil menjalankan bidaknya, tapi bisa belajar tentang emosinya.

    Semoga Hamman perlahan mampu mengerti tentang emosinya. Bisa mengungpkan rasa senang, atau marah atau bisa jadi sedih.

  9. Hidayah Sulistyowati says:

    Senangnya ya kalo ada permainan yang bisa bantuin anak dengan speech delay untuk mengasah kemampuannya berempati. Eh tapi Hamman juga lumayan cerewet ya, karena mau bercerita tentang temannya yang jatuh di sekolah. Semoga perkembangannya menuju hal positif, bisa meningkatkan kemampuannya untuk terlibat dalam lingkungan pergaulannya

    • Dzulkhulaifah says:

      Wah dia sih cerewet banget sebenarnya. Cuma kalau yang cerewet menceritakan kegiatan sekolah atau tentang teman-temannya baru-baru ini saja. Sebelumnya kayak cuek aja gitu setiap ditanya suka jawab ‘nggak tahu’. Haha.

  10. Inna Riana says:

    si bungsu dd irsyad masuk generasi alpha nih. suka emejing sama jawaban2nya. cara belajarnya juga berbeda dengan kedua kakaknya. untunglah guru di sekolah ikut bantu membimbingnya karena cara pemahamannya yg berbeda itu πŸ˜€

  11. Lina W. Sasmita says:

    Anak generasi Alpha ini luar biasa. Pintar-pintar dan punya keunikan sendiri. Kita sebagai orang tua harus banyak belajar demi anak-anak generasi cemerlang ini.

  12. April Hamsa says:

    Wah ini produk barunya The Menthilis ya mbak? Kyknya seru niiihhm jd pengen ngepoin juga skrng ada permainan baru apa aja yang ditawarkan πŸ˜€
    Menurutku penting banget mengasah kemampuan sosial emosional anak sejak kecil supaya mereka ada rasa empati jg kebaikan2 lainnya ke sesama.

    • Dzulkhulaifah says:

      Iya, Mbak April. Ini produk terbaru Menthilis hasil kerjasama dengan Mentari Anakku. Permainannya disesuaikan dengan kondisi anak-anak zaman now, hasil rekomendasi dari para psikolog anak.

  13. Ugik Madyo says:

    Permainan ini sesuai banget sama namanya. Karnaval seru. Aku melihat dan membanyangkannya saja sudah terbayang serunya. Ada banyak maxam mainan pula. Anak-anak bisa belajar sambil bermain.

    • Dzulkhulaifah says:

      Salah satu penyebab speech delay adalah kurangnya komunikasi antara orang tua dengan anak. Apalagi di era digital ini, ya. Dari kecil anak-anak sudah terpapar sama teknologi. Nah biar nggak memperburuk keadaan anak yang mengalami speech delay bisa diterapi wicara, kemudian jika sudah lancar bicaranya bisa diajak main yang mengasah kemampuan sosial emosionalnya seperti bermain Karnaval Seru ini, niiih.

  14. ivonie says:

    permainannya ini seru banget mbak, saya pernah mengajak anak konsultasi sama psikolog di sebuah event dan mereka menyediakan permainan seperti ini juga, anak-anak jadi terlihat kemampuan sosial emosionalnya karena ada beberapa anak lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *