Memahami Kesukaan Si Kecil untuk Mengalihkan Perhatiannya

Hey hoo... Setelah beberapa waktu lalu saya sempat posting soal kreativitas anak, sekarang mau bahas yang ringan-ringan gitu ya. Soal mengalihkan perhatian anak dari segala sesuatu yang dapat mengakibatkan anak ngambek berkepanjangan. Eh, ini ringan apa bikin stress??

Perjuangan seorang ibu itu dimulai sejak ia mengandung, kemudian melahirkan dan membesarkan seorang anak. Selama membesarkannya timbul lagi perjuangan baru, mulai dari berjuang memberikan ASI tetapi kemudian harus disapih saat usianya sudah cukup, lalu melewati drama toilet training sampai dengan perjuangan bikin anak jadi happy selalu.

Nah, stress kan? Enggak gampang loh bikin mood anak bagus terus.

Baca juga : Mendukung Kreativitas Anak

Anak-anak kita ini hidup di zaman millenial yang para orang tuanya melahap berbagai ilmu parenting tentang ‘berkata iya’ terhadap keinginan eksplorasi sang anak. Bahwa anak-anak butuh mendapatkan pengalaman yang luas sebagai ‘bekal’. Siapa yang sudah praktek, hayo?

Ternyata enggak semudah materi di seminar-seminar, ya? 😀

Anak minta main hujan, iya boleh. Coret-coret dinding pakai krayon, iya silakan sayang asal jangan pakai pensil alis ya…

Buka-tutup kulkas, bikin markas pakai bantal-bantal, gelayutan di besi jemuran, mati-hidupkan lampu? Eeemm, ya enggak apa-apa sih selama enggak terlalu bahaya.

Lalu dia mulai melompat dari kursi ke meja,  gunting-gunting gordyn, gaya-gayain rambut pakai krim malam ibunya. Then it’s like.. what? Whaaaat? Itu krim malam harganya dua ratus ribu!!!

Atau masih kurang naik darah, Bu? Bagaimana kalau suatu hari si anak main masak-masakan, numbuk bumbunya pakai handphone emaknya. Ya Alloh sayaaaang, ini perangkat sumber mata pencaharian mami…!!!

LOL.

Lucu banget ya, kalau diceritain di sini. Kalau menghadapi langsung sih saya bertanduk juga. Maksud hati mau ‘iya boleh’ dan meminimalisir kata ‘enggak boleh atau jangan’, tapi lama-lama hati ini lelah juga. Bagaimana kalau waktu main gunting malah melukai tangannya, coba? Atau mainin saklar lampu malah nyetrum?

Mengalihkan Perhatian Anak, Susah-susah-gampang!

Pada dasarnya kita melarang itu karena khawatir terjadi sesuatu yang buruk menimpa anak-anak. Makanya jadi orang tua harus awas terhadap aktivitas anak dan selalu mendampingi jika kegiatannya agak berbahaya. Tapi bagaimana kalau kitanya sedang ada pekerjaan yang harus segera selesai? Dan berharap anak anteng bermain sesuatu yang aman. Lalu kata ‘enggak boleh’ akan keluar begitu saja, demi memenuhi deadline.

Tapi itupun enggak selalu berhasil. Keseringan anak kalau dilarang malah ngambek, hahahahaha. Boro-boro mau cepat selesain pekerjaan, yang ada untuk ngediemin anak bisa setengah jam sendiri. Jurusnya itu loh, ada-ada saja. Pokoknya anak akan melakukan segala cara biar ‘dibolehin’. Ujung-ujungnya si kecil sudah bisa bilang ‘ya udah tapi nonton youtube ya’. Duh, Gusti… Harus punya jurus baru lagi ini sih.

Suatu hari saya pernah pergi untuk suatu keperluan, Hammam di rumah sama papinya. Begitu saya pulang, tak ada yang merengek kangen. Yang ada dia malah menodong ‘mau hempon mami…’ Sediiiih hati ini. Kadang dikasih, kadang ya enggak juga. Atau dikasih dulu sebentar, biar ngambeknya entaran dulu kan emaknya baru pulang ya masih lelah.

Sebagai orang tua kita ya harus lebih kreatif dong dari anaknya. Kalau mereka punya seribu cara untuk meluluhkan hati seorang ibu yang amat lemah lembut hatinya ini, ya ibu-ibu juga harus punya lah sejuta cara mengendalikan mereka.

Mengalihkan perhatian anak itu susah-susah-gampang dan enggak selalu berhasil. Tapi setidaknya kami telah menemukan beberapa hal yang amat Hammam sukai. Dan cara ini dapat membantu kami bertiga mengatasi masalah ‘boleh dan enggak boleh’. Cara-cara ini sifatnya fun dan menimbulkan rasa bahagia di hati semua orang. Ahay!

Mainan Baru

Saya dan suami jarang sekali membelikan mainan untuk Hammam. Alasannya karena ia lebih suka permainan fisik seperti lari-lari atau main bola. Dan mainan yang ia punya jadi jarang dimainkan. Tapi ternyata mainan baru dapat mengalihkan perhatiannya dari gadget atau apa saja yang sekiranya calon bikin dia marah.

Waktu itu kami belikan ia bola basket baru, karena yang lama sudah kempis. Sekalian beli papan gambar magnet, biar ia latihan memegang pensil. Kedua mainan ini lumayan ampuh dijadikan pengalihan.

Tapi mainan baru itu tak selamanya harus beli, kok. Saya kadang buatkan mainan dari kardus atau kaleng bekas. Pokoknya mainan yang sebelumnya tak pernah ada di rumah, itu sudah ‘baru’ menurut anak-anak. Meskipun kejadian akhirnya adalah mainan akan berserakan dimana-mana. Enjoy aja, Bu 😀

Menggambar

Akhir-akhir ini Hammam sedang crazy in love dengan benda bernama speaker. Apalagi bulan lalu saya pernah ajak dia ke acara launching produk audio JBL. Makin bahagia hatinya, berbunga-bunga lihat speaker segede-gede pintu. Sejak itu tiap hari ia request gambar speaker atau gambar radio di papan gambar magnetnya.

Jadi kalau waktu bermain gadgetnya sudah berakhir dan ia tak rela melepaskan si ‘hempon mami’ jurus pertama yang dikeluarkan adalah ‘mau digambarin speaker ga?‘. Awalnya sih dia kekeuh masih mau nonton youtube, tapi enggak butuh waktu lama akhirnya ia menyerah dan bilang ‘hempon mami di-cass, mih’.

Ookkkkeeee…

Dan jika ada sebab lain lagi yang bikin dia kesel dan nangis, ‘menggambar speaker’ ini selalu menjadi jalan tengah. Hammam tak pernah menolak dan mami tersenyum penuh kemenangan. Hahahaha.

Baca juga : Today’s Lifestyle is Less Cable

Bermain Air

Sejak bayi si Hammam memang suka banget main air, pernah di mandiin malah tidur. Sekarang meskipun kadang suka susah diajak mandi tapi begitu sudah di kamar mandi maka akan susah pula memisahkannya dengan air.

Bermain air bisa macam-macam, diantaranya memandikan kura-kura. He never say no ketika diajak mengganti air di akuarium si kura-kura yang baru punya nama itu.

Baca juga : Hewan Peliharaan yang Belum Punya Nama

Atau bisa juga diajak menyiram tanaman, ‘bantu-bantu’ mami cuci baju atau yang sangat ia sukai mencuci perabot plastik. Meskipun udahannya lantai dapur jadi banjir, ya enggak apa-apa banget lah. Yang penting dia happy dan bisa dikasih contoh caranya mengeringkan lantai dengan baik dan benar.

Dan kalau mau lebih repot lagi, kami bisa menggelar kolam air di depan rumah lalu mengundang Bang Alikhan dan Bang Sanu untuk mandi bareng 😀

mengalihkan perhatian anak

Bermain Glow in the Dark

Di plafon kamar kami tertempel bintang-bintang glow in the dark. Saya baru tahu jika benda itu diberi sinar lebih dekat maka akan menghasilkan super glowing thing. Jadi Hammam itu anaknya enggak takut di kamar gelap. Kalau saya lagi di ruang kerja dia suka iseng matiin lampu utama, terus minta nyalakan lampu portable yang bisa dicolok ke laptop.

Karena waktu itu saya sedang fokus untuk segera setor tulisan, Hammam saya minta mainnya di kamar saja sama papi. Lampunya di bawa dengan sebuah power bank. Dari situlah dia tahu betapa terangnya bintang-bintang itu setelah disinari dari dekat. Pas banget si Hammam baru hafal nih lagu ‘Bintang Kecil’, he was so excited so far.

Baca buku baru

Dulu-dulu sih buku nomor satu deh baginya. Sejak mengenal gadget, buku jadi yang nomor dua. Sedih kaaan? Lalu buku-buku yang sudah saya simpan lama sekali akhirnya keluar dari bungkusannya agar ia kembali tertarik dengan buku-buku.

Mungkin ia merasa bosan dengan buku yang itu-itu lagi. Jadi kalau kita memang mau anak kita memiliki minat membaca ya setidaknya beli lah buku-buku baru secara berkala. Kemarin saya juga baru beli buku tentang hewan peliharaan. Bukunya model flap book, lucu banget. Sebetulnya ini untuk umur 5 tahun keatas, tapi saya beli saja karena saya suka hehehe.

Hammam enggak terlalu excited dengan bukunya kali ini. Kecuali pada bagian kelinci yang pipis sembarangan, dia suka bilang ‘klinci ngompol, mih’. Jadi saya berusaha menarik perhatiannya sedemikian rupa dengan gambar-gambar lucu di buku baru itu.

Mengalihkan Perhatian Anak

Dengar radio

Di rumah kami ada sebuah radio jadul, dibeli sejak tahun 1999 kalau enggak salah. Suaranya masih bagus, cuma penutup kasetnya saja yang sudah copot. Siapa coba yang copotin? Ya si Hammam lah. Hahaha. Dia pernah enggak sengaja narik penutup kaset sampai copot. Tapi aslinya Hammam cinta banget sama radio ini.

Sering kali kami luangkan waktu beberapa menit untuk mendengarkan radio. Kadang cara ini ampuh untuk mengalihkan perhatian anak kecil nan lucu itu dari apapun. Kalau lagi enggak boleh main gadget tapi juga enggak dibolehin main air ya larinya akan ke radio. Lagunya bisa apa saja, yang penting musik. Malahan dia sering dengerin dangdut, loh.

Kalau kayak gini sih bukan Hammam aja yang terhibur. Tapi mami juga 😛

Baca juga : Nonton Konser Bawa Balita, Bisa Kok!

Jalan-jalan atau Beli Es Krim

Dan jika semua cara di atas enggak berhasil, mengajaknya ke minimarket dekat rumah untuk beli es krim pasti disetujui. Beli es krim, susu UHT atau roti kesukaannya. Setelah beli dan pulang ke rumah, buru-buru deh tawarkan permainan-permainan sebelum ia ingat lagi dengan si hempon mami.

Baca juga : Es Krim Haagen-Dazs Bikin Happy

So, kita harus benar-benar mengenal kesukaan anak untuk lebih mudah mengalihkan perhatiannya. Dan jangan dijadikan beban. Karena mainan yang berantakan dan lantai yang banjir adalah tanda bahwa anak kita aktif dan alhamdulillah mau bermain sesuai umurnya. Selain itu bermain sama anak itu kan memang menyenangkan banget yaaa. Suka deh pokoknya.

Baca juga : Wisata Keluarga di Setu Babakan

Pernah suatu pagi di rumah terdengar musik dari radio tua dan buku-buku Hammam berserakan di lantai. Tapi saya enggak pusing melihatnya, karena sudah biasa haha. Lagipula pagi itu Hammam sarapannya lahap banget. Tetap bersyukur…

Terus, apakah sekarang Hammam enggak pernah main gadget lagi? Jawabannya : Ya masih, kok. Apakah Hammam udah enggak ngambek-ngambek lagi? Ya masih juga. Tapi tantrumnya sudah jarang, sejak kami selalu berusaha untuk mengerti keinginannya. Semoga segala permainan yang kami lakukan bersama ini dapat mengimbanginya dan memberikan pengalaman yang lain.

Tapi tugas kami belum lah selesai. Karena tugas sesungguhnya adalah menjadikan si kecil ‘mengerti’ perbedaan, antara yang boleh dilakukan dengan yang tidak. Mengenali si baik dan si buruk, sehingga ia mengerti dampak positif dan negatif dari suatu perbuatan.

Buibu pasti punya deh cara sendiri untuk mengalihkan perhatian anak. Share ya di kolom komentar.

Thank you :)

  • 1
  •  
  •  
  •  

18 thoughts on “Memahami Kesukaan Si Kecil untuk Mengalihkan Perhatiannya

  1. Wida says:

    Hihihi, bapak nya anak-anak yang seringan galau menghadapi anaknya mbak, katanya kok anakku kayak gini sih gak bisa dibilangin terus saya bilang semua anak gitu kali. Kayaknya si bapak perlu dikasih lihat postingan ini deh hahaha

  2. Intan Rastini says:

    Kalki juga suka dibujuk dengan kata andalan kami, “beli es krim, yuk” hihihi..
    Kalau untuk buku, emang Kalki dan Kavin tertarik untuk lihat-lihat meski belum bisa baca, dan minta dibacain. Karena kami jaraaaaang banget beli buku (adanya koleksi buku cerita mamanya saat kecil dan beberapa komik superheroes papanya), aku ajak aja ke perpustakaan di kantor desa dan ke yayasan tempat aku kerja di sana dia bisa pilih buku untuk dipinjam sehingga punya buku baru untuk dilihat dan dibaca.
    Saya suka juga dengerin radio tapi anak-anak mah lebih suka utak-atik radionya daripada dengerin dengan manis. Mereka lebih senang nonton TV daripada dengerin radio. Seandainya ada stasiun radio khusus anak-anak di setiap daerah ya, mbak… pasti bisa jadi referensi kita memilihkan saluran yang cocok didengar oleh anak kita.

  3. retno anbarini says:

    terima kasih untuk sharingnya, sangat bermanfaat sekali.
    bagaimana mencegah agar anak tidak jadi manja ? dan bagaimana batasan untuk mengikuti jejak si kecil agar tidak merasa terkekang dan tidak merasa segala nya diturutin juga?

    • Dzulkhulaifah says:

      Ini soal kebiasaan sih, ya. Namanya anak-anak pasti ada sisi manja, tapi ortu bisa kasih pengertian bahwa enggak semua hal bisa dituruti. Kalau anaknya enggak ngerti, jangan patah semangat dan teruslah memberi pengertian. Insya Allah lama-kelamaan akan mengerti dan membekas di hatinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *