jangan takut berbagi

Membalas Kebaikan Orang Lain dengan Berbagi

Rasa lapar di jam 12 siang waktu setempat membawa saya dan teman-teman ke sebuah foodcourt di kawasan Bugis Street, Singapore. Bukan hanya kami yang lapar, tapi juga ratusan orang lainnya. Sebagian terlihat seperti orang-orang kantoran yang sedang istirahat di jam makan siang, sebagian lagi mungkin adalah traveler seperti kami. Sekilas kami terlihat sama, yaitu sesama orang kelaparan yang butuh mengisi perut. Tapi sebenarnya yang saya dan kawan-kawan butuhkan adalah makanan halal. Lalu di tengah suara semua orang ini yang menyerupai nada kerumunan lebah, ada satu suara yang memberitahu kami sesuatu. “You’re looking for halal food, right? It’s on the last row.”

Itulah kali pertama kami menerima kebaikan dari orang asing di tempat yang asing pula. Kebaikan yang datang dengan sendirinya tanpa diminta. Mungkin dari penampilan sudah ketahuan kami hanya makan makanan halal. Dan memang benar seperti yang dikatakan oleh ibu muda yang membantu kami tersebut, di ujung foodcourt terdapat tulisan “More halal food” dengan tanda panah ke kanan.

Grup traveler yang terdiri dari 5 orang ini akhirnya bisa menuntaskan lapar dan dahaga dengan mengeluarkan uang sekitar $ 4-5. Saya memilih nasi kari ayam, ada juga yang makan nasi goreng. Saya enggak sempat mengambil foto saat makan di tempat ini, karena saat menunggu makanan ternyata teman saya Evi air minumnya tumpah di dalam tas. Kami semua sibuk mengevakuasi isi tas tersebut termasuk kameranya yang basah. Meski begitu, kami tetap enggak lupa untuk bersyukur “Alhamdulillah ya, tadi ada yang kasih tau ke kita tempat ini.”

Sebelumnya saya enggak pernah menyangka akan bertemu dengan orang-orang seperti apa saat traveling. Hanya fokus dengan itinerary yang diberikan oleh tour leader dan membayangkan betapa serunya acara jalan-jalan ini, meskipun kami semua adalah teman-teman yang belum lama kenal, bahkan ada yang baru kenalan saat bertemu di Bandara Soekarno-Hatta. Saya memikirkan beberapa kemungkinan, misalnya penyesuaian dengan teman baru, adanya gap di antara kami yang mungkin bisa merusak suasana, bisa jadi salah satu anggota grup ada yang mudah lelah dan gampang mengeluh dan sebagainya. Pokoknya yang menjadi concern saya adalah bagaimana caranya saya bisa puas dengan trip ini. Tentang berbagi selama traveling, hah, apa itu konsep berbagi?

Melampaui ekspektasi

Tapi ternyata apa yang kami alami justru melebihi ekspektasi saya. Suasana langsung mencair begitu kami mengambil foto berlima setelah check-in. Jadi tentang relationship sama sekali enggak ada kendala. We’re just click like old friends and suprised by many things. Kejutan berikutnya kami dapatkan selama 5 hari kedepan.

Setelah makan siang yang nikmat itu trip berlanjut ke Masjid Sultan yang terletak di Muscat Street, untuk menunaikan sholat zuhur. Rasanya terharu sekali bisa sholat di masjid megah yang merupakan kebanggaan muslim di Singapura ini. Hanya saya dan Evi yang sholat di hari itu karena 3 cewek lainnya sedang ‘berhalangan’. Sebelum meninggalkan masjid—ketika saya sedang mengikat tali sepatu—seorang bapak tua yang saya duga adalah pengurus masjid menghampiri kami dan memberikan 2 bungkus nasi briyani. Masya Allah, rezeki lagi.

Berhubung kami masih kenyang setelah makan siang yang porsinya enggak kira-kira itu, akhirnya 2 bungkus nasi ini ikut jalan-jalan keliling Singapura, naik turun bus dan kereta. Tujuan akhir untuk hari yang panjang tersebut adalah mengunjungi Gardens by the Bay yang lampu-lampunya sangat mempesona dan mulai menyala pada jam 19.15. Di jembatan penghubung kami ingin ber-swafoto dengan latar belakang Singapore Flyer yang terkenal itu. Sulit sekali mendapatkan gambar yang bagus dan pas. Saat itulah bantuan lainnya kembali datang.

Seorang perempuan berambut pirang menawarkan bantuannya “Maybe I can help you to take some pictures.” Awww, she’s so kind. Berkali-kali kami ucapkan terima kasih kepada bule itu. Waw, luar biasa sekali perjalanan ini. Banyak sekali orang-orang baik yang rela meluangkan waktu dan sebagian rezekinya kepada orang asing. Sejak itu saya dan teman-teman merasa harus membalas kebaikan mereka semua. Tapi kami enggak mungkin bertemu lagi dengan orang-orang ini. Lalu bagaimana?

Belajar untuk Berbagi

Setelah puas mengeksplor Singapura sampai jam 21.30 saatnya kami makan malam di pantry hostel. Demi menghemat biaya tadinya malam tersebut saya berencana makan mie instan yang saya bawa dari rumah, saya dan Evi bawa beberapa varian mie, siapa tahu teman-teman yang lain ada yang mau. Tapi kami punya nasi briyani dari Masjid Sultan yang sedang dipanaskan di microwave. Maka mie instan pun kembali masuk tas.

Selagi menunggu nasinya panas, tiba-tiba ada seorang bapak pemilik restoran di sekitar Hamilton Road yang menghampiri kami dan memberikan sekotak nasi briyani juga. Ya Allah, saya terharu banget. Belum juga nasi yang tadi dimakan, sudah dapat rezeki lain lagi. Akhirnya sebagian kami simpan di kulkas untuk sarapan besok pagi. Sebagiannya lagi kami santap bersama dengan penuh rasa syukur.

Makan besar

Seandainya enggak ada yang kasih makanan berarti kami harus mengeluarkan uang setidaknya $5 per orang untuk makan malam. Artinya, uang $25 yang setara dengan Rp. 250.000  terselamatkan malam itu. Alhamdulillah, alhamdulillah.

Besoknya setelah mandi pagi saya bertemu dengan perempuan warga negara Canada, namanya Noora. Dia enggak sengaja menjadi solo traveler karena 2 orang temannya batal pergi dan bertolak ke Maroko. Saya jadi ingat mie instan yang belum sempat direbus dan kayaknya enggak bakal sempat dimakan, sebab kami sudah harus check out dan jam 1 siang nanti harus berangkat ke Kuala Lumpur, Malaysia. Jadi mie instan berpindah tangan ke cewek berdarah India yang lahir di Saudi Arabia tersebut.

“Do you know? I get it in Canada and it’s ssssoooo yummy?” begitu katanya ketika saya menyerahkan mie instan yang mereknya sangat terkenal itu. Padahal hanya mie yang harga per 4 bungkusnya bahkan lebih murah dari 1 CAD (Dollar Canada), tapi saya melihat sinar kebahagiaan di matanya, serta energi positif yang pada akhirnya mengelilingi kami. Sebagai gantinya Noora memberikan saya snack asal Canada yang saya lupa namanya apa karena langsung saya makan 😛

 in front of Sultan Mosque

Noora in front of Sultan Mosque, Muscat Street Singapore

Hari itu kami masih punya waktu sampai siang untuk mengunjungi Little India dan beli oleh-oleh di dekat Masjid Sultan. Karena Noora sendirian, saya mengajaknya untuk bergabung dan dia happy banget. Cewek yang punya hobi fotografi ini terlihat mengagumi bangunan-bangunan sepanjang perjalanan dan sesekali menawarkan untuk memotret kami berlima. Senangnya bisa punya teman baru.

Berbagi itu bukan melulu soal seberapa besar harta yang kita miliki. Dari perjalanan ini saya menyadari, kalau orang asing saja mau dengan sukarela membantu dan berbagi, kenapa kita enggak melakukan hal yang sama? Saya dan teman-teman mungkin belum tentu bisa membalas kebaikan yang kami terima selama Singapore Trip ini, tapi saya yakin kok mereka yang sudah membantu enggak mengharapkan apa-apa alias berbuat tanpa pamrih. Tugas kami adalah meneruskan kebaikan tersebut dengan berbagi kepada orang lain, meski mereka orang yang asing bagi kami.

Senang bisa Berbagi

Siang itu kami berpisah dengan Noora di lobby hostel dan siap melanjutkan perjalanan berikutnya ke Kuala Lumpur. Dengan segala drama ketika memasuki imigrasi Malaysia, snack dari Noora masih ada 1 bungkus lagi, dimakan berlima dan cukup untuk dijadikan mood booster. Lelah banget selama hampir 2 jam keliling mengitari JB Central—imigrasi Malaysia bagi pengunjung yang datang dari Singapura dengan menggunakan bus.

Begitu akhirnya bisa melewati imigrasi dan menemukan jalan keluar hingga terminal bus, rasanya bagai angin segar mendengar petugas bus berkata “Lama sekali adek ini, tiket dari jam 14.30 baru tiba di sini jam 15.30.” dengan logat melayunya. Mendapat sikap yang ramah itu rasanya pengin nangis terharu.

Hari berikutnya dalam perjalanan menuju Batu Caves, saya duduk di kereta bersebelahan dengan pemuda asal Indonesia—sebut saja namanya Agung—yang sedang libur sehari setelah beberapa hari business trip. Karena hendak mengunjungi destinasi yang sama kami sanget welcome ketika dia ingin gabung. Yey, tambah teman lagi. Agung pun bersedia sering-sering memotret kami, katanya sebagai balasan karena sebelumnya enggak punya teman.

Ketika matahari sudah amat terik kami meninggalkan Batu Caves dan pergi ke Masjid Jamek Abdul Samad. Entah kenapa ada beberapa turis yang bertanya tempat dan cara beli tiket ke kami. Mungkin dikiranya kami warga lokal, ya. Padahal ya sama juga enggak terlalu ngerti, haha. Tapi Agung sepertinya sudah sering ke Kuala Lumpur dan bahasa inggrisnya juga lumayan. Jadi beberapa turis ini terbantu sama dia.

Kamu tahu enggak sih bagaimana rasanya kalau bisa membantu orang lain? Rasanya campur aduk. Antara senang sudah memudahkan hidup orang lain, terharu karena bisa melakukan itu dan ketagihan ingin mengulanginya kembali. Berbagi enggak pernah bikin kita rugi, itu memang benar adanya. Berbagi justru mendatangkan rezeki baru lagi. Sama dengan konsep berbagi yang bukan melulu soal uang, rezeki pun seperti itu. Rezeki bisa berupa kesehatan, kaya akan pengalaman, memilik teman-teman yang baik dan masih banyak lagi nikmat yang bahkan kita enggak akan pernah bisa selesai menyebutkannya satu per satu.

Trip Singapore-Kuala Lumpur ini memang bukanlah wisata religi. Tapi pengalaman yang saya dapatkan selama 5 hari tersebut sangat berharga dan ketika mengingatnya membuat hati ini menjadi hangat. Terima kasih untuk Evi, Fira, Indah dan Diah yang telah menjadi teman perjalanan yang menyenangkan. Terima kasih juga untuk Noora dan Agung, semoga kita tetap berteman seterusnya.

Berbagi Melalui Dompet Dhuafa

Yang saya lakukan mungkin hanya hal kecil dalam konteks berbagi yang sangat luas. Berbagi itu banyak caranya. Salah satu cara yang menurut saya sangat mudah adalah berbagi melalui Dompet Dhuafa.

Dompet Dhuafa adalah lembaga nirlaba milik masyarakat Indonesia yang berkhidmat mengangkat harkat sosial kemanusiaan kaum dhuafa dengan dana ZISWAF (Zakat, Infaq, Shadaqah, Wakaf, serta dana lainnya yang halal dan legal, dari perorangan, kelompok, perusahaan/lembaga). Donasi yang ingin kita berikan bisa dilakukan secara online dengan beberapa pilihan yaitu zakat, infaq/sedekah, wakaf dan bantuan kemanusiaan (contohnya bencana alam dan dana pendidikan). Sementara itu dananya bisa ditransfer ke rekening resmi Dompet Dhuafa.

Bantuan dari kita mungkin sedikit, tetapi jumlah dari kita pastinya sangat banyak. Dan tentunya Dompet Dhuafa akan secara jujur dan transparan menyalurkan dana tersebut kepada mereka yang membutuhkan.

So, jangan takut berbagi. Karena melihat senyuman orang lain akibat dari apa yang telah kita bagi, sungguh nikmatnya luar biasa.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”

  •  
  •  
  •  
  •  

One thought on “Membalas Kebaikan Orang Lain dengan Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *