Agar Anak Semangat Menghadapi Hari Pertama Sekolah

Tulisan ini mungkin sudah terlambat jika dibaca di tahun ini, karena hari pertama sekolah tentu saja sudah lewat 2 bulan yang lalu. Tapi semoga bisa menjadi berguna bagi ibu-ibu yang hendak menyekolahkan anaknya untuk pertama kali di tahun depan dan tahun-tahun berikutnya.

Jadi kenapa baru nulis sekarang, sih? Alasannya adalah saya menunggu momen di mana semua sudah berjalan lancar. Karena hari pertama sekolah itu deg-degannya luar biasa. Sudah pernah merasakan jadi murid yang selalu merasa cemas di hari pertama masuk sekolah, setelah menjadi orang tua cemasnya semakin daleeeem. Saya cemas karena takut si kecil merasa cemas. Intinya saya takut apa yang menjadi ketakutan saya dulu juga dirasakan sama anak saya.

Hari-hari pertama saya di sekolah SD (saya nggak lewat sekolah TK) dulu adalah hari-hari penuh drama banget. Ibu saya wajib nungguin di depan pintu atau jendela kelas. Mana kala saya melihat ke arah itu tapi ibu saya nggak ada di sana mata saya mulai berkaca-kaca, merasa sedih juga marah.

Belakangan saya menyadari bahwa perasaan itu adalah bentuk dari rasa takut. Takut berada di tempat yang baru, takut jika nggak bisa menjawab pertanyaan guru, takut nggak bisa melakukan sesuatu tanpa bantuan ibu, serta takut-takut yang lainnya. Dan sekarang saya takut perasaan itu juga menghinggapi anak saya.

Berikut ini adalah hal-hal yang terjadi kepada kami di masa-masa anak pertama sekolah. Awalnya sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi drama di sekolah setidaknya di seminggu pertama. Tapi dugaan ini agak sedikit meleset berkat langkah awal yang dilakukan sebelum si kecil memasuki dunia barunya.

Sounding

Sounding tentang sekolah dilakukan oleh saya dan suami sejak berbulan-bulan sebelum kegiatan sekolah di mulai. Dari setahun sebelumnya sudah dibahas tapi nggak terlalu sering. Sampai akhirnya si kecil bilang mau sekolah maka topik tentang sekolah nggak pernah terlewatkan. Makin dekat dengan bulan Juli, makin sering dibicarakan. Apa saja sih yang perlu di-sounding ke anak?

Belajar dari ibu-ibu yang sudah lebih dulu menyekolahkan anaknya dan sounding bahwa sekolah itu seru, ternyata berhasil. Dengan begitu setidaknya nggak ada yang bikin anak menjadi takut ke sekolah. Sebagai orang yang sudah pernah sekolah belasan tahun dan paham betul nggak enaknya ketika berada di sekolah, nggak perlu diceritakan ke anak. Jangan bikin dia jadi down duluan.

Lalu sounding juga bahwa anak sekolah itu bangunnya harus pagi banget dan harus sudah mandiri untuk makan sendiri.

Karena dulu anak saya pernah menjalani terapi sensori integrasi di sebuah klinik psikologi anak yang suasananya seperti sekolah, jadi mungkin dia sudah terbayang sekolah ya seperti itu. Kelasnya warna warni serta banyak mainan. Kebetulan kami mendapatkan sekolah TK dengan kurikulum sentra yang banyak bermain sebagai metode belajar. Didukung dengan kompetensi guru-gurunya mungkin, ya, sehingga membuat si kecil di hari pertamanya ke sekolah nggak ada drama apapun dan rela ditinggal pulang begitu saja. Ah, leganyaaaa. Surprisingly, di hari ketiga si kecil bilang “Mau diantar papi aja, mami nggak usah ikut.” Yipiiieee!

Baca juga : Terapi Sensori Integrasi

Nah yang menjadi drama justru di bagian bangun pagi dan makan sendiri. Karena anak saya memang tidurnya malam banget ngikutin emaknya, haha (lalu merasa bersalah). Dan urusan makan sendiri pun dia bilangnya ‘ok ok’ padahaaaal >_<

Disiplin Jam Tidur

Untuk merealisasikan yang namanya bangun pagi maka jam tidur harus didisiplinkan. Jam 9 masuk kamar supaya bisa bangun jam 6 pagi and the rest is seperti yang ada di lagu ‘bangun tidur kuterus mandi…’ Apakah berhasil?

Nggak!

Hahahaha. Sulit sekali merubah kebiasaan yang sudah berjalan bertahun-tahun. Niat hati ingin mulai membiasakannya tidur dan bangun lebih awal sejak sebulan sebelum hari sekolah, tapi selalu gagal. Akhirnya semua berjalan apa adanya.

Bu gurunya sempat bertanya “Hammam kalau bangun pagi jam berapa, ya? Soalnya di kelas suka masih ngantuk.” Ya sudah, nggak apa-apa. Semua mulai berjalan normal setelah seminggu lebih. Dengan sendirinya dia yang merasa lelah sudah bisa diajak tidur lebih awal dan bangun pagi banget. Mungkin dia tipe yang seperti saya, suka menikmati pergantian warna langit. Anak saya sekarang suka sekali bangun ketika masih gelap dan sarapan di teras sambil menyaksikan pagi datang.

Yang pasti sih, anak mau tidur cepat atau larut, ibunya nggak boleh kesiangan. Kalau anak belum mau tidur, tinggalin saja tidur duluan. Karena ibunya harus bangun lebih pagi untuk menyiapkan bekal dan segala keperluan lainnya. Kalau anak yang kesiangan masih gampang kok, paksa bangun saja terus mandiin hahaha. Lha kalau emaknya yang kesiangan? Bakal kacau sepagian.

Menyiapkan Bekal

Dari sekian banyak yang harus disiapkan menjelang si kecil bersekolah, kayaknya bagian menyiapkan bekal adalah yang paling memiliki tantangan bagi saya. Karena masak adalah tugas berat apalagi harus dilakukan sebelum subuh. Hahaha. Eh, tapi itu awalnya saja, deng. Belakangan sudah lebih selow. Suami dan anak berangkat jam 7 pagi, masak dari jam 6 sebenarnya keburu. Asal…

Asal suami mau bantuin gitu paginya menemani sarapan, mandiin sampai si kecil rapi pakai seragam dan sepatu. Juga asal menu bekalnya yang nggak terlalu heboh, ya. Pastikan di kulkas punya stok frozen food, in case kesiangan banget bisa tinggal goreng.

Baca juga : Review So Good Spicy Chicken Strip

Oh ya, setelah dikasih tahu bahwa di sekolah harus makan bekal sendiri Hammam memang mau makan sendiri, kalau di sekolah. LOL. Di rumah? Yhaaa masih manja huhuhu. Masih PR, buk!

Menjaga Mood

Ok, semua sudah berjalan sebagaimana mestinya, nih. Perlu diingat bahwa anak pasti merasa lelah setelah sekolah hingga menjelang tengah hari. Maka jagalah moodnya. Mungkin di sekolah dia begitu senang tapi di rumah kok malah sering marah-marah? Bisa jadi dia lelah, mak! Biarkan anak beristirahat dengan caranya sendiri. Mau sambil nonton tivi atau nonton youtube masih ok. Habis itu kan saatnya bobo siang.

Oh ya sebagai orang tua baru yang suka penasaran nih, jangan heran kalau sepulang sekolah si kecil enggan bercerita tentang kegiatan di sekolah. Itu wajar, kok. Jadi jangan maksain dan terus-terusan bertanya, anak pasti bakal marah. Coba saja kalau nggak percaya, haha. Tapi makin ke sini anak akan makin terbuka, kok. Nikmati saja prosesnya, ya.

Pertanyaan dari anggota keluarga lain juga nampaknya sedikit mengganggu anak, lho. Misal neneknya bertanya “Tadi belajar apa di sekolah?” lalu anak-anak akan lebih sering menjawab “Nggak tau.” Jangan dipikir mereka benar-benar nggak tau tadi ngapain saja di sekolah. Katanya sih anak-anak memang suka malas bercerita. Kalau sudah begini, jangan dipaksa lagi untuk menjawab ya buibu… Biarkan saja. Pada saatnya juga akan cerita sendiri, dijamin!

Meluangkan Waktu untuk Belajar

Orang tua yang tengah bersuka cita karena anak akhirnya masuk sekolah pasti mengharapkan anak bisa belajar dengan giat di rumah. Duh, jangankan untuk mengulang pelajaran sekolah, ditanya ‘tadi belajar apa’ saja jawabnya nggak tau, mak! Jangan terlalu berharap dulu, deh.

Meski kita selalu memiliki waktu untuk mengajari anak-anak, tapi ikhlaskan dulu kalau yang diajarin nggak mau. Mereka masihlah anak-anak yang sebelum bersekolah dunianya dipenuhi dengan bermain. Maka pelan-pelan saja.

Yang pasti kita harus selalu siap meluangkan ketika saatnya datang. Yaitu saat si kecil merengek minta belajar baca atau tulis. Nggak sabar minta dibelikan pensil warna yang baru and such. Please, jangan diabaikan dan bersiaplah kewalahan.

Alhamdulillah akhirnya merasakan juga warna-warninya hari pertama sekolah si kecil. Semoga tetap semangat dan selalu bisa menginvestasikan waktu untuk mendampinginya hingga jenjang sekolah yang lebih tinggi.

  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *