Film Dilan 1990

Dilan 1990, Bukan Film Remaja Zaman Now

Finally film Dilan 1990 yang diadaptasi dari Novel karya Pidi Baiq, tayang di bioskop. Setelah melalui perdebatan panjang soal pemeran tokoh Dilan yang terpilih yaitu Iqbaal Ramadhan. Siapa yang berdebat? Gak tahu, mungkin fans-nya Jefri Nichole? Hahahaha. Well, di sini saya enggak akan bahas itu lagi ya, gengs. Masa-masa itu sudah lewat. Lagipula sejak pertama kali diumumkan siapa pemeran Dilan, saya langsung setuju. Soalnya mau protes juga enggak akan merubah apapun 😛

Film Dilan 1990 tayang perdana di bioskop pada tanggal 25 Januari 2018 lalu. Berdasarkan informasi yang saya dapat dari temannya keponakan, pada tanggal tersebut bioskop sepi. Duh, jadi deg-degan. Harusnya sih film ini disambut baik oleh para pembaca novel Dilan. Tapi mengapa sepi penonton? Apa mungkin karena masih hari kamis?

Jum’at, 26 Januari 2018 berangkatlah saya bersama keponakan untuk menonton Film Dilan 1990 di bioskop kesayangan. Tak diduga ternyata hanya kelihatannya saja sepi, padahal tiket sudah hampir habis terjual hingga yang jam tayang 18.30. Saya dapat tiket jam 16.45, itupun baris kedua dari depan. Ya daripada beli tiket yang 18.30, kan? Bisa-bisa sang emak ditelponin sama anaknya.

Baca juga : Nonton Film Sampai Credit Title

Ngomong-ngomong soal anak, cuma saya seorang deh kayaknya yang sudah punya anak di antara remaja-remaja SMA ini. Lalu ada anak SMP yang antri beli tiket, keponakan saya nyeletuk “Eeeh, anak kecil nonton Dilan.” sambil cekikian. Dan saya menyahut “Daripada Ateh, udah emak-emak nonton Dilan 1990.”

Dilan dan Milea

Film ini berkisah tentang cinta anak SMA bernama Dilan kepada gadis yang baru saja pindah dari Jakarta. Karena rupanya yang cantik, banyak cowok naksir Milea. Dilan tak perlu memberanikan diri untuk berkenalan. Dari sananya cowok itu memang sudah pemberani. Jabatannya saja seorang panglima tempur di geng motor terkenal di Bandung.

Malahan Dilan sangat percaya diri. Bahwa dari sekian banyak cowok yang suka pada Milea, hanya Dilan sajalah yang nantinya akan menjadi pacar gadis itu.

Meskipun Dilan dikenal sebagai remaja yang urakan, tapi nampaknya ia tahu betul bagaimana caranya memikat hati perempuan. Sepanjang film penonton disuguhi segala rupa rayuan gombal Dilan kepada Milea. Uniknya rayuan Dilan bukanlah rayuan biasa. Enggak berlebihan sih, sederhana saja. Sederhana yang memikat.

Film Dilan 1990

Photo : Falcon pictures

Mungkin baru pertama kali Milea bertemu dengan sosok seperti Dilan. Hingga ia pun luluh dan mempercayakan hatinya pada cowok tengil itu. Yang setiap perbuatannya meski sederhana namun selalu penuh makna dan mengundang senyum. Mungkin juga Dilan baru pertama kali bertemu gadis yang seperti Milea. Hingga ia rela melancarkan serangan gombal yang pada akhirnya dapat memenangkan hati Milea.

Film Dilan 1990, dari Sudut Pandang Non Pembaca Novel

Biasanya pembaca sebuah novel yang difilmkan terbagi menjadi beberapa kubu.

  • Mereka yang sangat menantikan dan puas dengan filmnya. Bahkan bisa nonton berkali-kali.
  • Antusias ingin menonton kemudian mendapatkan kesan yang biasa saja terhadap film.
  • Pembaca yang penasaran tetapi lantas kecewa dengan film adaptasi. Entah karena ceritanya yang banyak dikurangi, atau karena pemerannya tidak berhasil membawakan karakter sebuah tokoh.
  • Pembaca yang terlalu mencintai buku dan memutuskan untuk tidak menonton filmnya. Karena mereka tak ingin citra tokoh kesayangannya berubah. Apalagi kalau tokohnya Dilan, kesayangan semua orang gitu.

Saya bukan pembaca novel Dilan. Entahlah, baca-baca review novelnya saja sudah membuat saya jatuh cinta pada tokoh Dilan karena puisinya. Terutama karena ‘gombalan’ yang tak biasa itu. Saya takut kalau baca nanti jadi makin jatuh hati. Makanya begitu tahu novelnya akan difilmkan, saya makin enggak mau baca dulu.

Dan saya sangat menikmati film ini secara keseluruhan. Mulai dari para pemain filmnya, ceritanya, hingga latar belakang tempat dan zamannya. Semuanya saling mendukung untuk sebuah film yang berkualitas. Cuma kalau dari segi sinematografi saya kurang ngerti deh apakah film ini sebaik yang diharapkan orang-orang atau enggak. Yang pasti sih ya, gambarnya jelas dan enggak burem hahahahaaa.

Cast

Setiap tokoh diperankan secara baik oleh masing-masing pemain. Mana tuh yang katanya Iqbaal gak cocok jadi Dilan. Kurang sangar lah sebagai panglima tempur, apa lah apa lah. Cocok-cocok aja sih, mana dia tuh makin gede makin cakep ya kaaan. Ya memang sih untuk beberapa adegan Iqbaal terlihat kaku dalam memerankannya. Entah itu adalah sebuah kekurangan atau jangan-jangan Dilan ya memang seperti itu gayanya.

Photo : Falcon Pictures

Tapi ada satu scene yang paling saya suka, ketika Dilan menelpon Milea dari telepon umum. Lalu ia tertawa lepas saat mendengarkan cerita Milea. Itulah, tertawanya orang yang sedang jatuh cinta, kawan. Itu dia!!!

Sedangkan Vanesha Prescilla yang terbilang ‘anak baru’ di dunia akting juga berhasil memerankan Milea dengan baik. Mungkin karakternya yang tegas dan agak-agak judes jadi tantangan tersendiri baginya. Karena kalau dilihat-lihat kayaknya Vanesha ini anaknya pemalu tapi ramah gitu, ya enggak sih?

Flashback Tahun 1990

Film ini benar-benar berlatar belakang tahun 1990. Because I grew up in 90s, jadi sekali lihat langsung ngeh dengan gimmick jadulnya. Seluruh tim dalam pembuatan film ini sepertinya benar-benar mempersiapkan setting tempat dan suasana yang sesuai dengan di buku. Ya iya lah, kalau enggak gitu nanti jadi enggak ada feelnya. Karena Dilan memang kisah di tahun 1990 tersebut.

Di sepuluh menit pertamanya, Film Dilan 1990 langsung berhasil menghadirkan kerinduan akan masa kecil saya. Yaitu ketika di hari minggu Milea mencuci sepatu. Enggak tahu deh, kenapa ya saya kok langsung terharu. Kegiatan itu pula yang saya alami semasa kecil dulu. Anak sekarang kayaknya sudah jarang yang cuci sepatu, ya? Apa karena jalanan sekarang sudah aspal semua? Jadinya ya sepatu enggak kotor-kotor amat, enggak perlu dicuci setiap hari minggu gitu.

Baca juga : Permainan Masa Kecil Paling Seru

Ke sekolah naik angkot dan jalan kaki. Ini sih 90an banget. Jarang anak SMA tahun segitu yang bawa motor, kecuali ya Dilan dan beberapa temannya. Terus ya, pas lagi rame-rame jalan ke  sekolah gitu (atau pulang sekolah ya?) tiba-tiba ada lewat tukang rujak bebek. Hahahaha.

Sudah gitu style berpakainnya juga disesuaikan dengan zamannya. Pakaian yang gombrong, pakai kemeja dimasukkin. Sedangkan kemeja sekolah malah dikeluarin. Si Dilan sekolah cuma bawa buku sebiji sama pulpen, taruh di kantong belakang. Oh meeeen, 90’s abis.

Beni, Pacar Milea

Beni, pacar Mile di Jakarta.
Photo from Brandon Salim instagram

Surat-suratan dan nelepon pakai telepon umum juga yang jadi paling khas di tahun 90an. Karena dulu jangankan handphone, yang punya telepon rumah saja masih jarang. Sekarang surat-suratan udah hampir enggak ada kayaknya ya. Dan telepon umum cuma ada doang tapi enggak dipake 😀

Suasana kota Bandung yang lengang dan bebas macet juga merupakan wujud visualisasi kota tersebut di tahun 1990. Jalanan yang cukup sepi dengan kendaraan-kendaraan zaman dulu, mungkin bisa memunculkan kerinduan tersendiri bagi warga Bandung asli.

Baca juga : Kalau ke Jakarta, Sempatkan Nongkrong di Tempat Asyik Ini

Kesimpulan

In conclusion, Film Dilan 1990 bukanlah film remaja zaman now. Melainkan film remaja zaman old, yang bisa dan boleh ditonton oleh semua remaja lintas generasi. Film ini mengisyaratkan pesan bahwa kisah cinta bukan melulu hal yang romantis. Dan romantis tak selamanya tentang memberi bunga. Hal sederhana seperti buku TTS yang sudah diisi, justru dapat membuat Milea jatuh hati pada pemuda nyentirk kayak Dilan.

Untuk remaja zaman now, meskipun enggak baca bukunya Dilan tapi film ini tetap bisa dimengerti dan dinikmati serta bikin baper. Buat kalian remaja zaman old, helloooo selamat bernostalgia, ya!

 

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

8 thoughts on “Dilan 1990, Bukan Film Remaja Zaman Now

  1. Riyardiarisman says:

    Bener bgt, aku bahkan pengen ntn lagi meskipun aku merasa pondasi cerita dalam film ini ‘patut dipertanyakan’, mengapa milea tiba2 teringat dia yang memberikan pesan selamat tidur/malam (aku lupa)

    Film ini menyenangkan, dengan berbagai nostalgia bagi saya, obat merah, telpon umum, upacara, bahkan sepatunya itu loh… Jadi pebgen punya, heheh

    • Dzulkhulaifah says:

      Waktu di awal Milea teringat Dilan yang memberi arti betapa pentingnya mengucapkan selamat tidur, Ris. Eeeeh, aku waktu SD punya dong sepatu warior hahahahhaa. Keren maksimal kalo kata anak sekarang.

  2. Melinda Niswantari says:

    Nonton film Dilan jadi mesam-mesem sendiri, inget jaman masa-masa SMA dulu. Over all aku sangat menyukai akting DIlan dan Milea yang sangat apik. Remaja yang nyentrik, tengil, unik terkesan urakan karena karena jabatannya menjadi Panglima Tempur di sebuah geng motor, tapi sayang dan patuh sama orangtuanya.

    Nda bosen juga kalau diajak nonton Dilan lagi hahaha

  3. Lya amalia says:

    Akhirnya nangkring juga di atas… hihihi, dilan itu emang ngangenin yaa mbak. Ngangenin sebagai cowok yg sayang cewek. Hahaha, sayang cm di film 1. Nggak tau ntar di film ke 2, kayak gimana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *